The Soulmate Code: Error 0.1%

Bab 4: Bab 4 - Mencoba mengabaikan hasil dan mendekati Leo sec...

Pengaturan Membaca

Angka 12 persen itu terus berkedip di balik kelopak mataku setiap kali aku memejamkan mata. Sebelas koma sekian jika ingin lebih presisi, tapi otakku yang terbiasa dengan pembulatan data memilih angka dua belas sebagai simbol kegagalan yang mutlak. Bagaimana mungkin dua puluh tahun kenangan, ribuan tawa, dan rahasia yang kami bagi hanya bernilai belasan persen di mata sebuah algoritma?

Malam ini, aku akan membuktikan bahwa Ametis salah. Bahwa kecerdasan buatan hanyalah sekumpulan baris kode yang tidak punya hati.

"Liv? Kamu melamun lagi?"

Suara bariton Leo memecah lamunanku. Aku mengerjap, fokus kembali pada pria di depanku. Kami duduk di sebuah bistro kecil dengan pencahayaan temaramβ€”pilihan yang sengaja kubuat untuk membangun suasana yang lebih... dewasa. Biasanya, kami hanya berakhir di kedai ramen pinggir jalan dengan bau bawang putih yang menyengat, mengenakan kaos oblong dan saling mengejek. Namun malam ini, aku memakai gaun sutra berwarna *navy* yang jarang kusentuh dan membiarkan rambutku tergerai.

"Ah, tidak. Cuma memikirkan proyek di kantor," dustaku sambil merapikan serbet di pangkuan.

Leo tertawa kecil, memperlihatkan lesung pipit yang biasanya membuat hatiku berdesir. "Livia sang Data Analyst. Bahkan di hari Sabtu malam pun otaknya masih berisi tabel dan grafik. Sant** sedikit, Liv. *Steak* ini terlalu enak untuk diabaikan demi angka-angka itu."

Aku memaksakan senyum, mencoba mencari percikan yang biasanya ada di sana. Aku sengaja menggeser jemariku di atas meja, menyentuh pergelangan tangannya yang terbalut jam tangan kulit. "Leo, kamu sadar tidak kalau kita sudah melewati banyak hal? Maksudku, sejak kita masih sering berebut mainan di taman kanak-kanak sampai sekarang."

Leo menghentikan kunyahannya sejenak, menatapku dengan binar jenaka yang familiar. "Tentu saja. Aku masih ingat saat kamu menangis karena aku tidak sengaja mematahkan krayon birumu. Kamu tidak mau bicara denganku selama tiga hari."

"Aku serius, Leo," potongku, suaraku sedikit lebih rendah. Aku mencondongkan tubuh, mencoba menangkap tatapannya, mencari kedalaman yang selama ini kuharap ada di sana. "Maksudku... kita sudah sangat mengenal satu sama lain. Lebih dari siapa pun."

Ada jeda yang aneh. Leo meletakkan garpunya pelan-pelan. Suasana yang kuharapkan menjadi romantis tiba-tiba terasa tegang, tapi bukan ketegangan yang manis. Rasanya lebih seperti ketika kamu mencoba mema**kkan kepingan puzzle yang salah ke dalam slot yang tidak pas.

"Ya, tentu saja. Kamu sudah seperti saudara perempuanku sendiri, Liv. Kamu tahu itu," jawabnya sant**, meski aku melihat ada sedikit kebingungan di matanya.

Kata 'saudara perempuan' itu menghantamku seperti eror sistem yang fatal. Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak kering. "Hanya... saudara perempuan?"

Leo tertawa, tapi nadanya sedikit canggung sekarang. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maksudku, saudara perempuan yang sangat pintar dan kadang-kadang galak. Hei, kamu kenapa sih malam ini? Gaun itu... kamu terlihat cantik, tapi kamu tidak seperti Livia yang kukenal. Biasanya kamu sudah menghabiskan setengah porsiku dan mengeluh tentang bosmu yang menyebalkan itu."

Aku menarik tanganku dari meja, menyembunyikannya di bawah taplak. Dingin merayap di ujung jari-jariku. Aku mencoba melakukan apa yang disarankan artikel-artikel kencan: kontak mata yang lama. Aku menatapnya, mencoba memancarkan sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Namun, yang kudapatkan hanyalah pantulan diriku yang terlihat menyedihkan dan Leo yang mulai merasa tidak nyaman.

"Leo, kalau misalnya... ada sebuah sistem yang bilang kalau kita tidak cocok secara genetika atau perilaku, apa kamu akan percaya?" tanyaku, mencoba menyelipkan topik Ametis tanpa menyebut namanya.

Leo mengangkat bahu, lalu meminum *red wine*-nya. "Tergantung. Kalau sistemnya canggih, mungkin ada benarnya. Tapi buat apa memikirkan hal seperti itu? Kita kan berteman baik. Persahabatan itu stabil, Liv. Tidak perlu diukur-ukur."

'Stabil'. 'Berteman baik'. 'Tidak perlu diukur'.

Setiap kata yang dia ucapkan terasa seperti validasi terhadap angka 12 persen itu. Aku mencoba mencari percikan gairah, debaran jantung yang liar, atau setidaknya rasa ingin memiliki yang lebih dari sekadar rasa sayang kawan lama. Namun, semakin aku berusaha, semakin aku merasa hampa. Percakapan kami yang biasanya mengalir deras kini terhenti-henti. Aku mencoba melemparkan godaan kecil, tapi Leo menanggapinya dengan lelucon yang membuat suasana semakin "bro" banget.

Kecanggungan menyelimuti kami seperti kabut tebal. Aku melihat Leo berulang kali mengecek jam tangannya, sebuah gestur yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya jika kami sedang bersama.

"Liv, sebenarnya... aku janji mau main *game online* sama anak-anak jam sepuluh nanti. Kamu tidak apa-apa kan kalau kita selesai lebih awal?" tanyanya dengan nada tidak enak hati.

Hatiku mencelos. Di tengah "kencan" yang sudah kurencanakan matang-matang, dia lebih memilih untuk pulang dan bermain *game*.

"Oh, tentu. Aku juga masih punya beberapa dokumen yang harus diperiksa," kataku dengan suara yang diatur se-profesional mungkin, menyembunyikan retakan di dalamnya.

Saat kami berjalan menuju parkiran, udara malam terasa lebih menusuk. Leo merangkul bahuku sekilasβ€”rangkulan persaudaraan yang kokoh dan singkatβ€”sebelum membukakan pintu mobil untukku. Tidak ada ciuman di kening, tidak ada tatapan rindu yang tertahan. Hanya ada lambaian tangan dan janji untuk bertemu lagi di akhir pekan depan untuk menonton film aksi terbaru.

Aku duduk di kursi kemudi, terdiam dalam kegelapan kabin mobil. Tanganku gemetar saat membuka ponsel. Jariku bergerak secara otomatis membuka aplikasi Ametis.

Layar itu menyala, menampilkan profilku. Di sana, di bawah kolom 'Kecocokan Tertinggi', foto Adrian terpampang dengan jelas. Pria arogan yang selalu mengkritik laporanku di kantor itu memiliki senyum miring yang menyebalkan di foto profilnya. Dan tepat di samping fotonya, angka 99,9% bersinar terang dengan warna ungu ametis yang provokatif.

Aku memukul setir dengan frustrasi. Logikaku meneriakkan bahwa ini mustahil, tapi kegagalan malam ini dengan Leo terasa seperti bukti fisik yang menyakitkan. Bagaimana jika algoritma itu tidak salah? Bagaimana jika selama ini aku hanya mencint** sebuah ide tentang Leo, sementara data mengetahui sesuatu yang tidak kusadari?

Tiba-tiba, sebuah notifikasi ma**k. Pesan dari nomor yang tidak kukenal, tapi aku tahu siapa pemiliknya.

*Livia, aku sudah meninjau ulang parameter proyeknya. Aku harap kamu tidak membuang-buang waktumu malam ini dengan 'eksperimen' sia-sia. Sampai jumpa besok pagi di kantor untuk memulai Uji Coba Hubungan kita. Jangan terlambat.*

Aku mematikan ponsel dengan kasar. Dadaku sesak oleh perpaduan antara rasa malu, marah, dan ketakutan yang aneh. Angka itu bukan lagi sekadar data di atas kertas. Besok, angka 99,9% itu akan berubah menjadi kenyataan yang harus kuhadapi dalam wujud Adrianβ€”rival yang paling kubenci, namun secara biologis diklaim sebagai belahan jiwaku.

Dan yang paling menakutkan adalah, setelah malam yang hambar bersama Leo, sebagian kecil dari diriku mulai bertanya-tanya: apa yang dilihat oleh algoritma itu yang tidak bisa kulihat?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca