Layar proyektor di ruang rapat utama NeoTech menampilkan dua grafik lingkaran yang nyaris tertutup sempurna. Angka 99,9% berwarna ungu berpendar, seolah mengejekku tepat di depan wajah. Di sampingku, Adrian duduk dengan posisi sant** yang sangat menyebalkan—punggung bersandar penuh, kaki menyilang, dan jemari yang mengetuk meja kayu m***ni itu dengan ritme yang konstan.
"Ini bukan sekadar kebetulan, Livia. Ini adalah validasi," suara Pak Handoko, CEO NeoTech, memecah keheningan yang mencekam. Beliau menatap kami berdua dengan binar mata seorang kolektor yang baru saja menemukan berlian langka. "Ametis membutuhkan bukti nyata sebelum peluncuran global. Dan siapa yang lebih baik untuk membuktikannya selain dua analis terbaik kita yang kebetulan memiliki skor kecocokan tertinggi dalam sejarah pengembangan algoritma ini?"
Aku mengeratkan pegangan pada pulpen di tanganku hingga buku-buku jariku memutih. "Pak, dengan segala hormat, skor ini... bisa saja dipengaruhi oleh bias data. Saya dan Adrian memiliki latar belakang pendidikan yang mirip, bekerja di lingkungan yang sama. Itu bisa menciptakan korelasi semu."
Adrian terkekeh pelan, suara rendah yang selalu berhasil membuat saraf-saraf di tengkukku menegang. "Selalu mencari celah untuk menyangkal, ya, Liv? Padahal kau sendiri yang ikut mengunci algoritma afinitas perilaku minggu lalu."
Aku menoleh tajam ke arahnya. "Itu murni profesional, Adrian. Angka tidak punya perasaan, tapi manusia punya."
Pak Handoko berdeham, menghentikan perdebatan kami yang mulai memanas. Ia menggeser dua map berwarna hitam ke hadapan kami. Di sampulnya tertera logo Ametis dengan tulisan tebal: *Protokol Uji Coba Hubungan - Subjek 001 & 002*.
"Sembilan puluh hari," kata Pak Handoko tegas. "Selama tiga bulan ke depan, kalian akan menjalani hubungan sebagai pasangan yang disatukan oleh Ametis. Perusahaan butuh dokumentasi harian, pemantauan biometrik saat kalian bersama, dan aktivitas-aktivitas yang sudah ditentukan oleh sistem untuk memvalidasi *chemistry* kalian."
Mulutku terasa kering. "Tiga bulan? Pak, saya punya proyek *batch* data yang harus diselesaikan. Saya tidak bisa—"
"Ini adalah proyek utamamu sekarang, Livia," potong Pak Handoko tanpa kompromi. "Keberhasilan Ametis bergantung pada narasi kalian. Jika dua orang yang dikenal 'bermusuhan' di kantor bisa disatukan oleh algoritma ini dan berhasil, maka pasar akan percaya bahwa Ametis benar-benar bisa menemukan jiwa yang hilang bagi siapa pun."
Aku melirik Adrian, berharap menemukan jejak keberatan di wajahnya. Namun, pria itu justru sedang membaca poin-poin kontrak dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca. Sinar lampu ruangan memantul di kacamata *frame* tipisnya, menyembunyikan emosi apa pun yang mungkin ada di matanya.
"Bagaimana jika kami gagal?" tanya Adrian tiba-tiba, suaranya terdengar lebih serius. "Bagaimana jika dalam sembilan puluh hari kami tetap ingin saling membunuh?"
Pak Handoko tersenyum tipis, jenis senyum yang membuatku merasa seperti tikus laboratorium yang terjebak di labirin. "Algoritma Ametis tidak pernah salah dalam skala 99,9%. Jika kalian gagal, itu artinya ada salah satu dari kalian yang tidak jujur pada sistem—atau pada diri sendiri. Dan jika itu terjadi, saya harus mengevaluasi ulang posisi kalian di tim inti pengembangan."
Itu bukan sekadar permintaan. Itu ancaman halus. Karier yang kubangun dengan lembur tanpa akhir dan logika yang tak tergoyahkan kini digantungkan pada sebuah sandiwara romantis dengan pria yang paling kuhindari di seluruh gedung ini.
Aku menatap dokumen di depanku. Pikiranku melayang pada Leo. Leo yang hanya mendapat skor 12% denganku. Bayangan wajah Leo yang hangat, tawanya yang selalu membuatku merasa aman, seolah memudar tertutup oleh bayangan angka-angka digital yang dingin. Logikaku berteriak bahwa ini g***, tapi sisi perfeksionisku tidak sanggup membayangkan kegagalan profesional.
"Livia?" panggil Pak Handoko, menyodorkan sebuah pulpen perak.
Tanganku gemetar sedikit saat meraih pulpen itu. Aku melirik Adrian lagi. Ia sudah lebih dulu membubuhkan tanda tangannya dengan goresan yang tegas dan mantap. Ia kemudian menoleh padaku, sebuah senyum miring tersungging di sudut bibirnya—bukan senyum kemenangan, tapi lebih seperti tantangan.
"Kenapa, Liv? Takut kalau algoritma itu benar dan kau sebenarnya memang ditakdirkan untukku?" bisiknya, c**up pelan agar hanya aku yang mendengar.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa mual yang muncul karena kecemasan. Dengan satu gerakan cepat, aku menandatangani kontrak itu. *Sembilan puluh hari.* Aku hanya perlu bertahan selama itu. Aku akan membuktikan bahwa angka-angka ini salah. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih kuat dari sekadar kode program.
"Selesai," kataku dengan suara sedatar mungkin, meskipun jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging.
Pak Handoko bertepuk tangan sekali dengan puas. "Bagus. Tugas pertama kalian dimulai malam ini. Makan malam di 'The Glass House'. Reservasi sudah dibuat atas nama kalian berdua. Jangan lupa nyalakan gelang pemantau kesehatan kalian."
Aku bangkit berdiri, tidak ingin berlama-lama di ruangan yang terasa makin menyempit itu. Saat aku melangkah menuju pintu, suara Adrian menghentikanku.
"Livia," panggilnya.
Aku berhenti tanpa menoleh.
"Kau harus mulai belajar melepaskan ikatan rambutmu yang terlalu kencang itu," suaranya terdengar lebih dekat sekarang, aku bisa merasakan kehadirannya tepat di belakangku. "Ametis mencatat bahwa tingkat stresmu menurun 15% saat kau merasa lebih sant**. Dan kita tidak ingin data malam ini menunjukkan bahwa kau merasa sedang pergi ke eksekusi mati, bukan?"
Aku mengepalkan tangan, menelan bulat-bulat cacian yang sudah di ujung lidah. Aku melangkah keluar tanpa membalas sepatah kata pun. Namun, saat aku berjalan menyusuri koridor kaca, aku melihat pantulan diriku sendiri—seorang wanita yang selalu percaya pada data dan angka, kini justru terperangkap dalam penjara yang dibuat oleh angka-angka itu sendiri.
Sembilan puluh hari ke depan bukan lagi tentang menemukan cinta. Ini adalah perang antara harga diriku dan akurasi sebuah mesin. Dan saat aku menyentuh gelang sensor yang melingkar di pergelangan tanganku, aku menyadari satu hal yang mengerikan: detak jantungku meningkat drastis bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang algoritma Ametis sebut sebagai 'antisipasi'.
Aku harus segera menemukan cara untuk meretas perasaan ini sebelum semuanya terlambat. Karena di ujung koridor, aku melihat Leo berdiri menungguku dengan senyum yang mendadak terasa seperti sebuah perpisahan yang belum terucap.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!