Sepatu hak tinggi ini adalah sebuah kesalahan. Seharusnya aku memakai *sneakers* atau mungkin sepatu lari, agar aku bisa segera kabur begitu Adrian mulai membuka mulutnya. Aku berdiri di depan restoran *The Glass Pavilion*, sebuah struktur megah yang didominasi kaca dan cahaya temaram yang tampak sangat pretensius. Ametis tidak hanya menjodohkan kami; aplikasi itu juga memesankan meja, memilihkan menu, dan bahkan menentukan *dress code*.
Aku merapikan gaun sutra berwarna biru dongker yang terasa terlalu ketat di bagian dada. Di dalam sana, jantungku berdentum tidak keruan, bukan karena debar asmara, melainkan karena kombinasi kemarahan dan kecemasan.
Begitu ma**k, seorang pelayan menyambutku dengan senyum yang dipoles sempurna. "Nona Livia? Tuan Adrian sudah menunggu di meja nomor tujuh. Area privat dengan pemandangan cakrawala kota."
Tentu saja. Meja nomor tujuh. Angka keberuntungan yang klise.
Adrian duduk di sana, terlihat sangat menyebalkan dengan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi. Rambutnya yang biasanya sedikit berantakan di kantor, kini tersisir rapi. Dia sedang menyesap air mineral, matanya terpaku pada tablet tipis di tangannya. Bahkan saat berkencan, dia masih sempat-sempatnya menunjukkan betapa sibuk dan pentingnya dia.
"Kau terlambat tiga menit, Livia. Algoritma menyarankan kita tiba tepat waktu untuk memaksimalkan fase 'perkenalan awal'," ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya saat aku duduk.
Aku mengembuskan napas tajam, meletakkan tas tanganku di atas meja dengan dentum kecil. "Algoritma tidak memperhitungkan kemacetan di persimpangan Sudirman, Adrian. Dan berhenti bersikap seolah kau adalah asisten virtual Ametis."
Adrian akhirnya menurunkan tabletnya. Matanya yang tajam menatapku, menelusuri penampilanku dari atas ke bawah dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Gaun itu... tidak buruk. Meskipun aku ragu itu pilihan pribadimu."
"Ametis yang memilihnya. Sama seperti dia memilihkanmu untukku," balasku pedas. "Sebuah kesalahan sistem yang sangat mahal."
Pelayan datang membawa hidangan pembukaβ*scallop* dengan saus lemon yang aromanya sangat menggoda, tapi seleraku sudah menguap. Sepanjang tiga puluh menit pertama, suasana di meja kami terasa seperti medan perang yang dingin. Kami berdebat tentang segala hal. Mulai dari metodologi pengambilan sampel DNA yang digunakan perusahaan, hingga fakta bahwa Adrian lebih suka kopi hitam tanpa gula sementara aku menganggap itu adalah perilaku sosiopat.
"Kau terlalu kaku, Livia. Hidup bukan sekadar barisan kode angka," ujar Adrian sambil memotong *wagyu steak*-nya dengan presisi seorang dokter bedah. "Alasan kau tidak cocok dengan Leo bukan karena 12 persen itu salah, tapi karena kau terlalu takut menghadapi ketidakpastian."
"Aku tidak takut!" suaraku naik satu oktav, membuat beberapa tamu di meja sebelah menoleh. Aku merendahkan suaraku kembali, gigiku merapat. "Leo adalah kenyamanan. Dia ma**k akal. Sedangkan kau? Kau adalah anomali yang seharusnya dibuang dari *database*."
"Anomali yang secara matematis adalah pasangan sempurnamu," Adrian menyeringai, jenis seringai yang membuatku ingin melempar gelas anggur ke wajahnya. "Terimalah, Livia. Data tidak berbohong. Mungkin ada bagian dari dirimu yang sebenarnya sama arogannya denganku, dan itulah kenapa kita 99,9 persen cocok."
Aku memutar bola mata, merasa muak. Untuk mengalihkan kekesalan, aku meraih jam tangan saku kuno yang tergeletak di samping ponselku. Jam itu adalah peninggalan kakekku, sebuah benda mekanis tua yang baru saja selesai kuperbaiki bagian *escapement wheel*-nya. Aku suka memutar kenopnya hanya untuk mendengar bunyi detak yang konstanβsebuah keteraturan yang menenangkan di tengah kekacauan ini.
Mata Adrian tiba-tiba terpaku pada benda di tanganku. Seringainya menghilang, digantikan oleh kerutan dahi yang tulus.
"Itu... Patek Philippe seri 1920-an?" tanyanya, suaranya berubah drastis. Tidak ada lagi nada mengejek di sana.
Aku tertegun, refleks menjauhkan jam itu. "Bagaimana kau tahu?"
Adrian tidak menjawab. Dia justru merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah jam tangan serupa, namun dengan model kronograf yang berbeda. "Kaliber 13. Aku sedang mencoba mencari suku cadang untuk roda giginya yang aus. Sangat sulit ditemukan kecuali kau mau merampok museum di Swiss."
Aku mengerjapkan mata, merasa seolah dunia baru saja bergeser sedikit dari porosnya. "Kau... kau mengoleksi jam mekanis kuno?"
"Bukan sekadar mengoleksi," Adrian memperbaiki posisi duduknya, tampak lebih hidup daripada saat kami berdebat soal pekerjaan tadi. "Aku suka membongkarnya. Melihat bagaimana ratusan komponen kecil bekerja dalam harmoni tanpa bantuan chip silikon atau baterai. Itu adalah bentuk logika yang paling murni."
Aku menatapnya dengan pandangan baru. Selama ini aku mengira Adrian adalah pria futuristik yang hanya peduli pada AI dan efisiensi digital. "Aku yang mengganti *hairspring* pada jam kakekku ini bulan lalu. Aku harus menggunakan mikroskop dan pinset bedah karena ukurannya hanya beberapa mikron."
Adrian mencondongkan tubuh ke depan, matanya berkilat penuh minat. "Kau melakukannya sendiri? Sebagian besar kolektor akan membawanya ke pengrajin ahli di Jenewa dan membayar ribuan dolar."
"Aku tidak percaya tangan orang lain untuk menyentuh logika di dalam jam ini," jawabku jujur.
Untuk pertama kalinya malam itu, keheningan di antara kami tidak terasa mencekik. Kami menghabiskan tiga puluh menit berikutnya membicarakan tentang kerumitan mesin jam tangan, tentang bagaimana waktu terasa lebih nyata ketika ia digerakkan oleh pegas dan roda gigi daripada angka digital di layar ponsel. Untuk sejenak, aku lupa bahwa pria di depanku ini adalah rival yang paling kubenci. Aku lupa tentang skor 99,9 persen yang mengerikan itu.
Adrian tertawa kecil saat aku menceritakan kegagalanku merakit kembali sebuah jam dinding tua yang berakhir dengan beberapa sekrup sisa. Tawa itu... terdengar hangat. Tidak ada kesombongan di sana.
"Mungkin," ucap Adrian pelan, menatapku tepat di mata, "Ametis melihat kesamaan ini. Sesuatu yang tersembunyi di balik preferensi musik atau riwayat pencarian internet kita."
Aku terdiam, merasakan desiran aneh di dadanya. Namun, tepat saat aku hampir membalas senyumnya, ponselku di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi merah menyala muncul dari aplikasi Ametis.
*Peringatan Keamanan: Ketidakcocokan Terdeteksi pada Parameter Denyut Jantung. Kesalahan Sistem 0.1% Mulai Mempengaruhi Integritas Data.*
Senyum di wajah Adrian memudar saat dia melihat layar ponselnya sendiri yang juga bergetar. Wajahnya mengeras, kembali menjadi Adrian yang dingin dan tertutup.
"Sepertinya kencan kita baru saja memicu peringatan sistem," gumamnya, suaranya kembali datar.
Aku mengambil ponselku dengan tangan gemetar. Di layar, grafik kecocokan kami yang tadinya stabil di angka 99,9%, tiba-tiba mulai berkedip-kedip, turun ke 99,8%... lalu 99,7%... seolah-olah ada sesuatu di dalam diri kami yang sedang memberontak melawan takdir yang dipaksakan ini. Atau mungkin, ada rahasia di dalam algoritma itu yang tidak ingin kami ketahui.
"Adrian," bisikku, rasa takut mulai merayap. "Apa yang sebenarnya dilakukan aplikasi ini pada kita?"
Adrian tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponselnya dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah dia baru saja melihat hantu di balik barisan kode tersebut. Di luar sana, petir menyambar, memantul di dinding kaca restoran, menghancurkan kehangatan singkat yang baru saja tercipta.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!