Layar monitor di hadapanku memancarkan pendar biru yang membuat mataku perih, namun aku tidak bisa berpaling. Angka 12% itu masih ada di sana, berkedip seolah mengejek seluruh sejarah hidupku. Sebagai seorang analis data, aku tahu angka tidak pernah berbohong. Angka adalah refleksi dari realitas yang sering kali gagal ditangkap oleh panca indra. Namun, melihat skor kecocokanku dengan Leo—pria yang telah mengisi separuh ruang di hatiku sejak kami masih mengenakan seragam putih-merah—rasanya seperti melihat laporan malfungsi sistem yang fatal.
"Bagaimana mungkin?" bisikku pada kesunyian apartemen.
Aku membuka panel admin Ametis yang memiliki akses terbatas. Jemariku menari di atas *keyboard*, melakukan dekripsi pada variabel-variabel mentah yang membentuk skor tersebut. Aku butuh jawaban. Jika Adrian—si pria arogan yang bahkan tidak tahu cara menyeduh kopi tanpa menghina merek bijinya—bisa mendapat 99,9%, maka pasti ada variabel yang salah pada data Leo.
Aku mulai membedah 'Peta Nilai Fundamental'. Ini adalah inti dari algoritma Ametis, tempat di mana keinginan bawah sadar dan visi masa depan diadu. Di layar, dua grafik radar muncul tumpang tindih. Grafiku berwarna ungu tajam, menjorok ke arah 'Otonomi Karir', 'Inovasi', dan 'Urban Living'. Grafik Leo berwarna hijau lembut, meluas ke arah 'Stabilitas', 'Tradisi', dan 'Domestik'.
Ada celah besar di sana. Sebuah jurang yang selama ini kututup dengan lapisan nostalgia.
Suara denting ponsel mengejutkanku. Sebuah pesan dari Leo.
*“Liv, sedang apa? Aku di depan toko gelato biasa. Ingat rasa favoritmu sedang promo. Mau kutitipkan atau aku antar ke tempatmu?”*
Aku menatap pesan itu. Perhatian kecil yang selalu membuatku merasa hangat. Namun sekarang, perhatian itu terasa seperti peringatan. Aku meraih jaket dan membalas pesannya. *“Aku ke sana. Kita perlu bicara.”*
Sepuluh menit kemudian, aku sudah duduk di bangku taman yang menghadap ke toko gelato. Leo duduk di sampingku, menyodorkan cup berisi *salted caramel* favoritku dengan senyum lebar yang selalu berhasil membuat pertahananku luluh.
"Kamu pucat, Liv. Proyek Ametis itu benar-benar memeras energimu, ya?" Leo mengacak rambutku pelan. Sentuhan yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti beban.
"Leo," aku memulai, suaraku sedikit bergetar. Aku meletakkan gelato yang mulai meleleh di bangku. "Kalau kamu bisa memilih hidup lima tahun dari sekarang, seperti apa bayanganmu?"
Leo tertawa kecil, menyandarkan punggungnya. "Tiba-tiba sekali pertanyaannya. Tapi ya, aku sudah memikirkannya. Aku ingin kembali ke kota kecil kita, Liv. Membeli rumah peninggalan kakek, memperbaikinya, lalu membuka klinik dokter umum di sana. Hidup tenang, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang g*** ini."
Jantungku berdegup kencang. "Kota kecil? Tapi kariermu di sini baru saja mulai menanjak, Leo. Kamu calon dokter spesialis bedah terbaik."
"Spesialisasi itu melelahkan, Liv. Aku ingin waktu untuk keluargaku nanti. Aku ingin pulang jam lima sore, melihat istriku sedang membaca buku di teras, dan anak-anak bermain di halaman luas. Aku tidak butuh gedung pencakar langit." Ia menatapku dalam, matanya penuh dengan ketulusan yang menyakitkan. "Dan aku selalu membayangkanmu ada di teras itu, Liv. Berhenti dari stres data-data ini, dan kita hidup damai."
Dunia seolah berhenti berputar. Kata-katanya manis, seperti gelato di tanganku, tapi bagi jiwaku, itu adalah vonis mati.
"Berhenti bekerja?" suaraku nyaris hilang. "Leo, aku baru saja dipromosikan menjadi Senior Analyst. Aku ingin membangun sistem, aku ingin mengubah cara dunia memproses informasi. Aku tidak bisa membayangkan diriku hanya... duduk di teras di kota kecil yang bahkan tidak punya koneksi internet stabil."
Leo tersenyum maklum, tipe senyum yang diberikan orang dewasa kepada anak kecil yang sedang bermimpi tinggi. "Kamu hanya sedang ambisius sekarang karena lingkungannya mendukung. Tapi nanti, saat kita punya anak, prioritasmu pasti berubah. Wanita selalu begitu, kan? Dan aku ingin memastikan kamu tidak perlu lelah bekerja lagi."
Aku menatap Leo, dan untuk pertama kalinya, aku tidak melihat sahabat masa kecilku. Aku melihat sebuah tembok besar yang tidak bisa kutembus. Algoritma Ametis tidak menghitung berapa kali dia membelikanku cokelat saat aku sedih, atau berapa lama dia menungguku di gerbang sekolah. Ametis menghitung bahwa visiku tentang 'sukses' adalah pertumbuhan tanpa batas, sementara visi Leo adalah pengabdian yang statis.
"Kamu ingin aku menjadi seseorang yang bukan diriku, Leo," ucapku lirih.
"Maksudmu apa? Aku ingin yang terbaik untukmu."
"Tidak," aku menggeleng, berdiri dari bangku dengan kaki yang terasa lemas. "Kamu ingin yang terbaik untuk 'versi diriku' yang ada di kepalamu. Versi yang patuh dan tenang."
Aku teringat perdebatan sengitku dengan Adrian kemarin sore di kantor. Adrian, meski menyebalkan, tidak pernah sekali pun meremehkan ambisiku. Dia justru menantangku, mendorongku ke batas maksimal, dan menganggap gairah kerjaku sebagai sesuatu yang setara dengan miliknya.
"Liv? Kamu mau ke mana? Gelatomu belum habis!" panggil Leo bingung.
Aku terus berjalan menjauh, tidak menoleh lagi. Pikiranku kalut. Logika yang selama ini kusembah mulai menunjukkan taringnya. Skor 12% itu bukan kesalahan sistem. Itu adalah kebenaran pahit yang selama ini kutolak karena aku terlalu takut kehilangan zona nyamanku.
Sesampainya di depan apartemen, aku berhenti di lobi. Di sana, berdiri sesosok pria dengan setelan jas mahal yang tampak sedikit berantakan, bersandar pada pilar marmer sambil menatap jam tangannya dengan tidak sabar.
Adrian.
Dia menoleh saat melihatku, matanya yang tajam langsung menangkap sisa-sisa kesedihan di wajahku. Bukannya memberikan kata-kata penghibur yang klise, dia justru menyodorkan sebuah map tebal.
"Data perilaku pengguna dari distrik selatan sudah keluar. Ada anomali di algoritma kecocokan sekunder. Aku butuh otakmu, bukan air matamu, Livia," ucapnya dingin, namun ada kilatan aneh di matanya yang tidak bisa kupahami.
Aku mengambil map itu, merasakan ujung jariku bersentuhan dengan jarinya. Sebuah sengatan listrik yang tidak logis menjalar ke lenganku. Di saat Leo menawarkan kedamaian yang mencekik, pria arogan ini menawarkan tantangan yang menghidupkan.
"99,9 persen," gumamku tanpa sadar.
"Apa?" tanya Adrian mengernyitkan dahi.
Aku menatapnya lurus-lurus. "Kenapa sistem itu memilihmu, Adrian? Apa yang Ametis tahu tentang kita, yang bahkan aku sendiri belum tahu?"
Adrian terdiam sejenak, wajahnya mengeras sebelum ia mendekat dan berbisik tepat di telingaku, "Mungkin karena sistem itu tahu bahwa hanya aku yang bisa mengimbangimu tanpa membuatmu merasa harus mengecilkan diri."
Lalu dia pergi begitu saja, meninggalkanku dengan napas memburu dan sebuah kenyataan baru yang lebih menakutkan daripada kegagalan data mana pun: bagaimana jika mesin itu benar-benar mengenaliku lebih baik daripada aku mengenali diriku sendiri?
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!