Pukul sebelas malam, dan satu-satunya sumber cahaya di lant** empat puluh dua ini berasal dari pendar biru monitor ganda di hadapanku serta lampu meja di kubikel Adrian. Keheningan kantor begitu pekat, hanya diinterupsi oleh dengung halus pendingin ruangan dan irama ketukan papan ketik yang saling bersahutan.
Aku memijat pangkal hidungku yang berdenyut. Barisan kode di layar seolah mulai menari, mengejek logikaku yang mulai tumpul karena kafein yang sudah mencapai batas ambang. Di sebelahkuβhanya terhalang sekat rendahβAdrian masih tampak segar. Lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat halus di lengannya saat jemarinya menari lincah di atas *keyboard*.
"Berhenti menatap layarmu dengan tatapan membunuh itu, Liv. Angka-angka itu tidak akan berubah hanya karena kau melototinya," suara Adrian memecah keheningan, berat dan serak, namun tetap membawa nada sombong yang biasa.
Aku mendengus, tidak repot-repot menoleh. "Ada anomali di set data pengguna beta. Algoritma Ametis mendeteksi kecocokan tinggi pada pasangan yang secara psikografis bertolak belakang. Ini tidak ma**k akal secara matematis."
Adrian menghentikan ketikannya. Ia memutar kursi rodanya, mendekat ke arah areaku hingga aroma kopi pahit dan samar parfum *sandalwood*-nya menyerang indra penciumanku. Terlalu dekat. Aku bisa melihat pantulan barisan kode di bola mata hitamnya yang tajam.
"Tunjukkan padaku," pintanya. Bukan sebuah perintah, tapi lebih ke arah tantangan.
Aku menggeser monitorku. Adrian membungkuk, satu tangannya bertumpu pada sandaran kursiku sementara tangan lainnya meraih *mouse*. Aku menahan napas. Posisi ini membuat kepalaku sejajar dengan bahunya. Aku bisa merasakan panas tubuhnya merembes melalui blusnya.
"Lihat di baris 402," gumamku, mencoba mengabaikan debar aneh di dadaku. "Variabel emosinya fluktuatif, tapi skor prediksinya tetap 98%."
Adrian terdiam sejenak, matanya bergerak cepat memindai logika pemrogaman yang kubuat. "Kau menggunakan pendekatan linear untuk variabel non-linear, Livia. Kau mencoba mengurung emosi manusia ke dalam kotak-kotak kaku."
"Karena itu tugas kita! Mengonversi perasaan menjadi data yang bisa diprediksi!" balasku defensif.
"Tapi cinta bukan statistik statis." Adrian mengambil alih papan ketikku. Jemarinya bergerak begitu cepat, menghapus beberapa baris kodenya dan menggantinya dengan fungsi rekursif yang jauh lebih elegan. "Cinta itu dinamis. Kadang gesekan antar dua kutub yang berbeda justru menghasilkan energi yang paling besar. Itu yang coba ditangkap oleh algoritma ini. *Chaos theory*, Liv. Bukan aritmatika dasar."
Aku tertegun melihat bagaimana dia merestrukturisasi logikaku. Itu brilian. Sangat menyebalkan betapa briliannya dia.
"Coba jalankan sekarang," perintahnya.
Aku menekan tombol *Enter*. Bilah progres bergerak cepat, dan dalam hitungan detik, visualisasi datanya berubah. Titik-titik yang tadinya berantakan kini membentuk kurva yang harmonis. Anomali itu menghilang, digantikan oleh pola yang ma**k akal namun kompleks.
"Berhasil," bisikku tak percaya.
Aku menoleh ke arahnya, berniat memberikan pujian singkat yang terpaksa, namun ternyata Adrian sudah lebih dulu menatapku. Jarak kami hanya beberapa inci. Di bawah temaram lampu meja, wajahnya yang biasanya tampak angkuh terlihat lebih lunak. Ada binar apresiasi di matanya yang jarang ia perlihatkan.
"Kita tim yang bagus, Livia. Akui saja," ucapnya pelan, suaranya kini kehilangan nada ejekannya.
Keheningan yang berbeda menyelimuti kami. Bukan keheningan yang canggung, melainkan sesuatu yang lebih berat dan bermuatan listrik. Aku bisa melihat det**l kecil yang biasanya luput dari perhatianku: luka kecil di dekat alis kirinya, dan bagaimana matanya sedikit menyipit saat dia berpikir. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat Adrian sebagai rival yang ingin kujatuhkan, melainkan sebagai seseorang yang pikirannya selaras dengan pikiranku.
Tangan Adrian yang berada di sandaran kursiku perlahan turun, ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh bahuku. Sentuhan itu ringan, namun rasanya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tulang belakangku. Logikaku meneriakkan peringatan, mengingatkanku bahwa pria ini adalah kesalahan 0,1% dalam hidupku. Tapi tubuhkuβdan mungkin data DNA-ku yang si**** ituβseolah menolak untuk menjauh.
"Adrian, aku..." suaraku tercekat di tenggorokan.
"Kau tahu, Livia," ia memotong dengan bisikan, matanya terkunci pada bibirku selama sepersekian detik sebelum kembali ke mataku. "Data tidak pernah berbohong. Manusia yang sering melakukannya karena mereka takut."
Dia bergerak maju, perlahan, memberiku waktu sejuta tahun untuk menghindar. Namun, aku terpaku. Saat napas hangatnya mulai terasa di pipiku, ponselku di atas meja bergetar keras, memecahkan gelembung aneh yang mengelilingi kami.
Aku tersentak mundur, hampir menjatuhkan gelas kopiku yang sudah kosong. Layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat jantungku mencelos karena alasan yang berbeda.
*Leo memanggil...*
Aku menatap layar itu, lalu menatap Adrian yang kini sudah kembali menegakkan tubuhnya, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang tidak terbaca. Ruangan yang tadinya terasa hangat mendadak menjadi sangat dingin.
"Angkatlah," kata Adrian datar, lalu berbalik ke mejanya seolah momen tadi tidak pernah terjadi. "Mungkin 'skor 12%'-mu itu butuh teman bicara malam-malam begini."
Aku meraih ponselku dengan tangan gemetar, merasakan pertempuran hebat antara rasa lega dan kekecewaan yang tak ma**k akal. Saat aku menekan tombol hijau, aku menyadari satu hal: algoritmanya mungkin benar, tapi variabel gangguan dalam hidupku baru saja bertambah satu. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar kesalahan kode.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!