Uap panas dari mangkuk ramen di hadapanku mengepul, menghalangi pandangan singkatku ke arah Leo. Biasanya, di kedai kecil langganan kami ini, suasana akan dipenuhi dengan perdebatan konyol tentang skor pertandingan basket atau keluhan Leo soal bosnya yang menyebalkan. Namun malam ini, hanya ada denting sumpit yang beradu dengan keramik dan suara hujan yang menghantam atap seng di luar.
Aku mencoba menyesap kuah kaldunya, tapi rasanya hambar. Pikiranku masih tertahan di kantor, pada sesi evaluasi mingguan proyek Ametis di mana Adrianβdengan gaya arogannya yang khasβsengaja meletakkan tangannya di sandaran kursiku di depan manajer pemasaran. Itu hanya akting untuk validasi data, aku tahu itu. Tapi sepertinya, foto yang diambil salah satu rekan kantor dan diunggah ke grup internal sudah sampai ke mata Leo.
"Liv," suara Leo memecah keheningan. Berat dan tidak biasa.
Aku mendongak, berusaha memasang wajah sedatar mungkin. "Ya? Kenapa ramennya nggak dimakan? Biasanya kamu yang paling semangat kalau ke sini."
Leo tidak menjawab pertanyaan itu. Dia meletakkan sumpitnya dengan gerakan yang terlalu kaku untuk seseorang yang biasanya sant**. Matanya yang cokelat gelap menatapku lurus, mencari sesuatu di balik kacamataku. "Apa benar kamu sedang menjalani 'Uji Coba Hubungan' dengan Adrian?"
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras dari yang kuduga. Aku berdehem, mencoba membersihkan tenggorokan yang tiba-tiba kering. "Ini murni untuk pekerjaan, Leo. Kamu tahu sendiri, Ametis butuh data perilaku dari pasangan dengan skor tinggi. Adrian adalah kandidat yang paling efisien secara logistik karena kami satu kantor."
"Efisien," ulang Leo dengan nada getir. Dia terkekeh pelan, sebuah tawa tanpa rasa humor. "Sejak kapan perasaan jadi soal efisiensi, Liv?"
"Ini bukan soal perasaan," sanggahku cepat, terlalu cepat. "Ini soal algoritma. Skor 99,9% itu anomali yang harus diteliti. Aku hanya melakukan tugasku sebagai analis data."
Leo memajukan tubuhnya. Jarak di antara kami menyempit, dan aku bisa mencium aroma parfum kayu manisnya yang selalu terasa seperti rumah. "Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan angka 12% yang diberikan aplikasi si**** itu untuk kita?"
Aku tersentak. Aku tidak pernah memberitahu Leo tentang skor kami. Dia pasti diam-diam mengeceknya atau melakukan kalkulasi mandiri melalui fitur 'Prediksi Teman' di Ametis. Penolakan matematis itu terpampang nyata di antara kami: 12%. Angka yang bagi otak analisku berarti kegagalan sistemis, ketidakcocokan absolut, dan risiko patah hati yang terjamin secara statistik.
"Angka itu tidak relevan untuk persahabatan, Leo," ujarku, mencoba memegang kendali atas logikaku yang mulai goyah.
"Tapi aku tidak ingin sekadar jadi sahabatmu, Liv! Tidakkah kamu merasakannya?" Leo memotong kalimatku, suaranya naik satu oktav, membuat beberapa pelanggan lain menoleh. Dia tidak peduli. Tangannya meraih tanganku di atas meja, menggenggamnya erat. Jemarinya kasar tapi hangat, sangat kontras dengan tangan Adrian yang selalu terasa dingin dan steril.
"Aku sudah menunggu waktu yang tepat selama bertahun-tahun. Aku menunggumu siap, menunggumu berhenti melihat dunia hanya sebagai deretan angka. Tapi melihatmu bersama pria arogan itu... melihatnya menyentuhmu, meskipun itu hanya untuk 'data'..." Leo menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca oleh emosi yang tumpah ruah. "Itu membuatku sadar kalau aku bisa kehilanganmu karena sebuah kesalahan sistem."
Jantungku berdegup kencang, menciptakan ritme yang tidak beraturan, jauh dari pola linear yang kusukai. Di dalam kepalaku, sebuah alarm berbunyi. *Hati-hati, Livia. 12% kecocokan. Peluang konflik jangka panjang: 88%. Tingkat kegagalan komunikasi: sangat tinggi.*
Namun, saat aku menatap mata Leo, aku melihat sejarah sepuluh tahun. Aku melihat saat dia menemaniku menangis saat pemakaman ayahku, aku melihat dukungannya saat aku gagal mendapatkan beasiswa, dan aku merasakan kehangatan yang tidak bisa dijelaskan oleh baris kode mana pun.
"Aku mencapaimu lebih dulu sebelum algoritma itu ada, Liv," bisik Leo, suaranya sekarang serak. "Jangan biarkan aplikasi itu mendikte siapa yang boleh kamu cint**. Aku mencint**mu. Bukan sebagai 12%, tapi sebagai satu-satunya orang yang ingin aku perjuangkan."
Aku terpaku. Bibirku terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Logikaku sedang berperang hebat. Separuh dariku ingin melemparkan diri ke dalam pelukannya, mengabaikan semua prob***litas buruk, dan mengatakan bahwa aku juga merasakannya. Bahwa selama ini, dialah variabel tetap dalam hidupku yang selalu membuatku merasa aman.
Namun, bayangan skor 99,9% milik Adrian melintas di benakku seperti peringatan merah yang berkedip. Ametis tidak pernah salah. Data DNA tidak berbohong. Perilaku digital tidak menipu. Jika aku memilih Leo, aku memilih jalan yang secara matematis dirancang untuk hancur. Aku akan menginvestasikan perasaanku pada sesuatu yangβmenurut sainsβmemiliki tanggal kedaluwarsa yang sangat dekat.
"Leo, aku..." Suaraku bergetar. Aku menarik tanganku perlahan dari genggamannya. "Aku tidak bisa mengabaikan data itu begitu saja. Bagaimana kalau Ametis benar? Bagaimana kalau kita hanya akan saling menyakiti karena kita memang tidak cocok di level yang paling dasar?"
Wajah Leo berubah. Kehangatan itu memudar, digantikan oleh kekecewaan yang mendalam. "Jadi, bagimu, aku hanya sebuah error dalam sistem?"
Aku ingin membantahnya. Aku ingin mengatakan bahwa dia jauh lebih berharga dari sekadar *error*. Tapi sebelum aku bisa bersuara, ponselku di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari aplikasi Ametis muncul di layar, memecah ketegangan di antara kami dengan cahaya biru yang dingin.
*Update Tugas Hubungan: Adrian sedang berada dalam radius 50 meter. Sinkronisasi emosi diperlukan untuk validasi tahap dua.*
Aku menoleh ke arah pintu kedai. Lonceng berbunyi, dan di sana, berdiri Adrian dengan setelan jas mahal yang tampak sangat tidak selaras dengan kedai ramen kumuh ini. Dia memegang payung hitam yang masih meneteskan air, matanya yang tajam langsung mengunci pandanganku, lalu beralih ke Leo dengan tatapan meremehkan yang tidak ditutup-tutupi.
"Waktu latihan pribadimu sudah habis, Livia," ucap Adrian dingin, suaranya memotong udara malam seperti pisau. "Kita punya data yang harus dikumpulkan malam ini."
Aku menatap Leo yang rahangnya mengeras, lalu beralih ke Adrian yang berdiri dengan kepastian angka 99,9%. Di tengah hujan yang semakin deras, aku menyadari bahwa aku bukan lagi sekadar analis data. Aku adalah subjek eksperimen dari hatiku sendiri yang sedang menuju titik kerusakan total.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!