Udara malam di pesisir Kuta Lombok terasa lengket oleh uap garam dan aroma ikan bakar yang menyeruak dari deretan meja kayu di pinggir pant**. Cahaya obor yang tertancap di pasir bergerak liar ditiup angin, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas meja. Di tengah riuhnya tawa para peserta *open trip* malam ini, aku merasa seperti sebuah bangunan dengan fondasi yang retak; tampak kokoh dari luar, namun berderit nyaris roboh di dalam.
Aku mengatur napas, memastikan bahuku tetap tegak. Di ujung meja panjang ini, Maya duduk bersama dua peserta perempuan lainnya. Dia tampak tenang, jemarinya memainkan ujung sedotan di gelas kelapa mudanya, namun aku tahu dia sesekali melirik ke arahku. Aku bisa merasakannya—sebuah tarikan magnetis yang familier, yang selama dua tahun ini coba kubuang jauh-jauh ke dasar laut terdalam.
*Stranger Pact.* Kami sudah sepakat. Kami adalah orang asing yang kebetulan berada dalam bus yang sama.
"Aris, kamu bilang tadi kamu arsitek, kan? Proyek apa yang paling menantang yang pernah kamu pegang?"
Suara itu milik Ranti, seorang gadis periang asal Jakarta yang sejak tadi terus mencoba mencairkan kekakuanku. Dia duduk tepat di sebelahku, tubuhnya condong ke arahku dengan binar rasa ingin tahu yang kentara.
Aku memaksakan sebuah senyum kecil—senyum yang kurancang sedemikian rupa agar terlihat ramah, meski otot wajahku terasa kaku. "Ada satu resor di pinggir tebing Uluwatu. Mengatur drainase di lahan miring itu c**up menguras pikiran, tapi hasilnya sepadan," jawabku, berusaha membuat suaraku terdengar sant** dan bersemangat.
"Wah, keren banget! Kamu pasti tipe yang det**l ya kalau kerja?" Ranti tertawa, lalu menepuk pelan lenganku.
Aku tidak menarik lenganku. Sebaliknya, aku membiarkan kontak fisik singkat itu terjadi. Dari sudut mataku, aku melihat jemari Maya yang sedang memegang sedotan mendadak diam. Dia berhenti bicara dengan temannya.
*Ini demi kebaikan kita, May,* batinku pedih. *Jika aku terlihat bahagia, kamu akan lebih mudah membenciku. Dan kebencian adalah obat yang lebih cepat daripada kerinduan.*
"Det**l itu wajib, Ranti. Kalau salah hitung sedikit saja, seluruh struktur bisa runtuh," kataku, kini sengaja mengeraskan volume suaraku agar bisa terdengar sampai ke ujung meja tempat Maya berada. "Sama seperti hidup, kan? Kita harus tahu kapan harus membongkar bangunan lama yang sudah tidak layak huni agar bisa membangun sesuatu yang baru di atasnya."
Tawa Ranti meledak. "Filosofis banget! Eh, cobain deh sate lilit ini. Enak banget, Aris."
Ranti mengambil sepotong sate dan menyodorkannya ke arahku. Aku menerimanya, bahkan sempat melontarkan lelucon ringan tentang betapa pedasnya sambal matah yang kami santap tadi. Aku tertawa—sebuah tawa yang sengaja kubuat lepas, seolah-olah beban finansial keluarga yang menghimpit pundakku atau kegagalanku melamar Maya dua tahun lalu tidak pernah ada.
Aku melirik ke arah Maya lagi. Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak pucat di bawah temaram cahaya obor. Dia menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya, namun aku melihat bahunya sedikit gemetar. Dia tidak lagi menyesap minumannya. Dia tampak seperti seseorang yang baru saja ditampar oleh kenyataan yang tidak dia sangka akan datang secepat ini.
"Aris, besok kita ke Bukit Merese buat *sunrise*, kamu ikut kan? Jangan sampai telat bangun ya!" Ranti menyenggol bahuku lagi, kali ini lebih lama.
"Tentu saja. Aku nggak akan melewatkan pemandangan bagus," sahutku. Aku menoleh ke arah Ranti, menatap matanya dengan intensitas yang sengaja kulebih-lebihkan. Aku ingin siapa pun yang melihat kami—terutama Maya—berpikir bahwa ada percikan ketertarikan di sana. Bahwa aku, Aris yang kaku dan tertutup, telah menemukan distraksi baru yang menyenangkan.
Tiba-tiba, Maya berdiri. Suara kakinya yang menggeser kursi kayu di atas pasir terdengar kasar di telingaku.
"Aku balik ke kamar duluan ya, teman-teman. Agak pusing," pamitnya dengan suara serak. Dia bahkan tidak melihat ke arahku saat dia melangkah pergi meninggalkan area makan malam.
Aku memperhatikan punggungnya yang menjauh, ditelan kegelapan jalan setapak menuju penginapan. Ada dorongan hebat di dalam dadaku untuk bangkit, mengejarnya, dan menjelaskan bahwa semua tawa ini adalah palsu. Bahwa setiap kata yang kuucapkan pada Ranti hanyalah naskah yang kususun untuk melindungi diriku—dan dirinya—dari luka yang lebih dalam.
"Aris? Kamu oke?" Ranti menyentuh punggung tanganku, menyadari tatapanku yang terpaku pada kepergian Maya.
Aku mengerjapkan mata, menarik kembali kesadaranku ke atas meja makan. Napasku terasa berat, seolah udara di sekitarku mendadak habis.
"Iya, nggak apa-apa. Cuma... sedikit lelah saja," jawabku pelan. Senyumku yang tadinya lebar kini layu seketika.
Aku menyadari satu hal yang menyakitkan. Aku berhasil menjalankan peranku dalam *Stranger Pact* ini. Aku berhasil meyakinkannya bahwa aku sudah melangkah jauh ke depan, meninggalkan bayang-bayangnya di masa lalu. Namun, melihat sorot matanya yang terluka sebelum dia pergi tadi, aku sadar bahwa kemenangan ini rasanya lebih pahit daripada kekalahan mana pun yang pernah kualami.
Di bawah langit Lombok yang bertabur bintang, aku duduk terdiam di tengah keriuhan yang tiba-tiba terasa sunyi. Aku telah membangun dinding yang tinggi antara aku dan Maya malam ini, tapi aku lupa satu hal: dinding itu juga mengurungku dalam kesendirian yang menyesakkan.
Ranti kembali berceloteh tentang rencana besok, tapi telingaku hanya menangkap suara ombak yang menghantam karang—seperti kenangan tentang Maya yang terus menghantam dinding pertahananku, retak demi retak, hingga aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan berpura-pura menjadi orang asing di depannya.
Dan yang paling menakutkan adalah kenyataan bahwa besok, kami harus menghabiskan waktu berjam-jam di tempat yang sama lagi, sementara luka yang baru saja kutorehkan padanya pasti akan mulai meradang. Apakah ini yang dinamakan menyembuhkan diri, ataukah aku baru saja menghancurkan satu-satunya kesempatan yang kami miliki untuk sekadar saling memaafkan?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!