Matahari Lombok siang itu terasa seolah berada tepat di atas kepala, menyengat kulit pundakku yang hanya tertutup kaus tipis. Langkah kaki kami—rombongan *open trip* yang entah bagaimana bisa terasa begitu canggung—berhenti di depan gerbang kayu bertuliskan "Desa Adat Sade". Bau khas pedesaan, campuran antara aroma tanah kering, jerami, dan sedikit bau kotoran kerbau yang konon digunakan untuk mengepel lant** rumah mereka, menyambut indra penciumanku.
Aku membetulkan letak tali kamera di leherku, berusaha fokus pada penjelasan Pak Ruslan, pemandu lokal kami yang mengenakan sapik—kain tenun yang melilit pinggangnya. Di sudut mataku, aku bisa melihat Aris berdiri beberapa meter di samping kiri. Ia mengenakan kacamata hitam, tangannya ma**k ke dalam saku celana kargo, dan tubuhnya tegak kaku seperti pilar bangunan yang ia rancang. Kami masih setia pada kesepakatan itu: *Stranger Pact*. Dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama, di waktu yang salah.
"Di Sade, seorang wanita belum dianggap dewasa dan siap menikah kalau belum bisa menenun kainnya sendiri," suara Pak Ruslan menggema, menarik perhatianku kembali.
Kami berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di antara rumah Bale Tani. Dinding bambu dan atap alang-alang memberikan kesan waktu yang berhenti berputar. Pak Ruslan membawa kami ke sebuah teras terbuka di mana beberapa perempuan paruh baya sedang duduk bersila di depan alat tenun kayu tradisional yang disebut *gedogan*.
*Krak-tek. Krak-tek. Krak-tek.*
Suara kayu yang beradu dengan benang-benang katun itu menciptakan irama yang ritmis, namun entah mengapa terdengar seperti detak jantung yang terburu-buru di telingaku. Aku mendekat, mencoba memotret salah satu perajin yang sedang menyilangkan benang berwarna merah dan emas.
"Bagus ya, May?" bisik Ririn, peserta lain yang sejak awal terus menempel padaku.
Aku hanya mengangguk pelan, tenggorokanku tiba-tiba terasa kering. Jemari wanita tua di depanku begitu lincah. Ia sedang mengerjakan motif *Subahnale*. Ingatanku tiba-tiba ditarik paksa ke dua tahun lalu, ke sebuah pameran kebudayaan di Jakarta yang kami datangi karena Aris butuh referensi arsitektur vernakular.
Saat itu, Aris berdiri di depanku, bukan dengan jarak tiga meter seperti sekarang, melainkan begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur bau kopi. Ia menunjuk sebuah kain tenun Sasak yang dipajang di etalase kaca.
*"Nanti kalau kita menikah,"* bisiknya waktu itu, suaranya rendah dan penuh keyakinan yang membuatku merinding, *"Aku mau kita pakai adat Sasak. Kamu pakai kain sesek ini, dan aku akan jemput kamu. Aku nggak butuh pesta gedung yang megah, May. Aku cuma butuh janji yang sekuat tenunan ini."*
Aku teringat bagaimana aku tertawa kecil, menggoda sikap kaku dan sok puitisnya, namun di dalam hati, aku sudah merencanakan warna apa yang cocok untuk kami gunakan nanti. Aris, pria yang paling buruk dalam mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, baru saja memberiku sebuah janji masa depan melalui selembar kain.
"Mbak? Mau coba?"
Suara Pak Ruslan membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menyadari bahwa aku telah berdiri terpaku terlalu lama di depan alat tenun itu. Aku menggeleng cepat, mencoba mengulas senyum tipis yang terasa palsu.
"Enggak, Pak. Terima kasih. Saya lihat saja," jawabku serak.
Aku berbalik, ingin menjauh dari suara *krak-tek* yang mulai menyiksa itu, namun langkahku terhenti. Aris ada di sana, hanya terpaut dua langkah dariku. Ia sudah melepas kacamata hitamnya. Mata elangnya yang biasanya dingin kini terlihat sedikit nanar, menatap tepat ke arah alat tenun yang baru saja kutinggalkan, lalu beralih padaku.
Ada jeda beberapa detik di mana dunia seolah sunyi. Aku bisa melihat jakunnya bergerak saat ia menelan ludah. Apa dia juga ingat? Apa dia juga sedang mendengar gema janjinya sendiri yang kini hancur berkeping-keping di bawah terik matahari Sade?
"Aris, ayo! Kita mau pindah ke area belakang!" teru salah satu peserta laki-laki, menepuk bahu Aris.
Aris tersentak, keterkejutannya hampir sama denganku. Ia segera mengangguk, kembali mengenakan kacamatanya dengan gerakan yang sedikit serampangan. Ia melewatiku tanpa sepatah kata pun, namun hembusan angin saat ia berjalan di sampingku membawa kembali aroma yang sangat kukenali—campuran sabun dan keringat yang dulu selalu membuatku merasa aman.
Kami terus berjalan menuju bagian belakang desa, tempat pohon cinta yang sudah kering berdiri tanpa daun. Pak Ruslan menjelaskan tentang tradisi kawin lari yang unik di desa ini.
"Jadi, kalau laki-laki suka sama perempuan, dia harus menculik perempuannya dulu dari rumah, baru kemudian dibicarakan secara adat," jelas Pak Ruslan diiringi tawa beberapa peserta.
"Berarti nggak perlu izin orang tua dulu ya, Pak?" tanya seorang peserta perempuan sambil tertawa.
"Izinnya setelah diculik," sahut Pak Ruslan.
Ririn menyenggol lenganku. "Seru ya? Bayangin kalau lo diculik cowok buat dinikahin tanpa harus pusing sama restu keluarga yang ribet."
Aku hanya tersenyum getir. Kata-kata Ririn seperti menyiram garam di atas luka yang baru saja terbuka. Masalah restu dan beban keluarga—itulah yang membuat Aris memilih untuk diam, memilih untuk menjauh, dan akhirnya membiarkan hubungan kami layu tanpa sempat diculik ke pelaminan.
Aku melirik ke arah Aris. Dia sedang membelakangiku, menatap atap-atap rumah Bale Tani dengan intensitas yang berlebihan, seolah-olah dia sedang menghitung setiap jalinan alang-alang di sana agar tidak perlu melihat ke arahku. Tangannya yang terkepal di samping tubuh memberitahuku satu hal: dia tidak sedang baik-baik saja.
Saat rombongan mulai bergerak menuju bus, aku tertinggal di barisan paling belakang. Langkahku berat, seolah debu desa Sade sengaja mengikat kakiku. Tiba-tiba, sebuah suara rendah yang sangat akrab terdengar tepat di belakang telingaku, membuat bulu kudukku berdiri.
"Motif yang tadi itu... namanya *Subahnale*," gumam Aris, hampir tidak terdengar, namun c**up jelas untuk menghentikan napas sejenak. "Artinya 'Luas biasa'. Sama seperti janji yang nggak pernah bisa aku tepati, kan?"
Aku mematung. Dadaku sesak, jantungku berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Aku menoleh perlahan, siap untuk membalas kalimatnya, siap untuk menumpahkan segala kemarahan yang kupendam selama dua tahun ini. Namun, Aris sudah berjalan mendahuluiku dengan langkah lebar, ma**k ke dalam bus tanpa menoleh sedikit pun, kembali menjadi orang asing yang kaku dan tertutup.
Aku berdiri di tengah jalanan berdebu, menatap punggungnya yang menjauh, menyadari bahwa *Stranger Pact* ini hanyalah sebuah kebohongan besar yang perlahan-lahan mulai mencekik kami berdua. Dan perjalanan ini masih sangat jauh dari kata usai.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!