Aroma rumput kering dan tanah yang terpanggang matahari musim kemarau di Desa Adat Sade menyusup ke indra penciumanku, namun pikiranku tidak benar-benar berada di sini. Pemandu wisata sedang menjelaskan dengan semangat tentang struktur *Bale Tani*βrumah tradisional suku Sasak yang lant**nya dibersihkan dengan kotoran kerbauβnamun mataku terus bergerak liar, mencari satu punggung yang sejak sepuluh menit lalu menghilang dari rombongan.
Maya.
Aku hafal bagaimana cara dia berjalan saat sedang tidak nyaman. Bahunya akan sedikit naik, langkahnya pendek-pendek dan cepat, seolah-olah dia ingin segera keluar dari ruang yang mengimpitnya. Di tengah riuhnya turis yang berfoto dengan kain tenun ikat, aku memisahkan diri. Aku melangkah melewati lorong sempit di antara dinding-dinding bambu yang dianyam rapi, menjauh dari suara tawa peserta *open trip* lainnya yang masih asyik mencoba alat tenun.
Langkahku terhenti di balik sebuah lumbung padi yang letaknya agak tersembunyi di bagian belakang desa. Di sana, di bawah bayang-bayang atap jerami yang menjunt** rendah, aku menemukannya.
Maya sedang duduk bersimpuh di atas sebuah batu besar. Dia tidak sedang memandangi keindahan arsitektur desa ini. Kepalanya tertunduk dalam, kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya yang terbalut kemeja linen tipis bergetar hebat. Tidak ada suara raungan, hanya isakan kecil yang tertahanβjenis tangisan yang paling menyakitkan untuk disaksikan karena itu artinya dia sedang berusaha keras agar tidak didengar oleh siapa pun. Terma**k aku.
Jantungku berdenyut nyeri, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremasnya dengan kuat. Kakiku secara otomatis melangkah maju satu tindak, namun kemudian membeku.
*Stranger Pact.*
Kesepakatan si**** itu berteriak di dalam kepalaku. Kami adalah orang asing. Aku adalah pria yang tidak mengenalnya, dan dia adalah wanita yang tidak sengaja berada dalam satu bus denganku. Kami telah berjanji untuk tidak membawa beban masa lalu ke dalam perjalanan ini demi kenyamanan semua orang. Tapi melihatnya hancur seperti itu, tepat di depanku, membuat seluruh logika yang kubangun selama dua tahun terakhir runtuh seketika.
"May..." suaraku nyaris tidak keluar, tertelan oleh angin yang berembus kering.
Dia tersentak. Kepalanya terangkat dengan cepat. Matanya yang merah dan sembap bertemu dengan mataku. Ada kilatan keterkejutan, rasa malu, dan kepedihan yang begitu dalam di sana sehingga aku merasa seperti baru saja ditikam. Dengan gerakan kikuk, dia segera menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, lalu memalingkan wajah.
"Pergi, Ris," bisiknya parau. Suaranya pecah, mengirimkan gelombang rasa bersalah yang menghantam dadaku.
"Kamu kenapa?" Aku tidak bisa menahan diri. Aku mendekat dua langkah lagi, mengabaikan jarak aman yang seharusnya kami jaga. "Ada yang mengganggumu? Peserta lain? Atau pemandunya ada yang salah bicara?"
Maya tertawa singkat, tawa yang terdingat hambar dan pahit. Dia masih tidak mau menatapku. "Kenapa kamu peduli? Bukannya kita sepakat untuk tidak saling kenal?"
"Pers**** dengan kesepakatan itu kalau kamu menangis begini," ujarku, sedikit lebih keras dari yang kumaksudkan. Aku mengepalkan tangan di samping tubuh, menahan dorongan luar biasa untuk merengkuh bahunya, menariknya ke dalam pelukanku, dan membiarkan dia menumpahkan semua bebannya di sana. Seperti dulu. Sebelum aku menjadi pecundang yang memilih diam karena merasa gagal sebagai pria.
"Aku cuma lelah, Aris. Lelah berpura-pura," Maya akhirnya menoleh, menatapku dengan mata yang masih basah. Sinar matahari sore yang kekuningan jatuh di separuh wajahnya, mempertegas gurat kesedihan yang selama ini dia sembunyikan di balik senyum sopannya kepada peserta lain. "Tempat ini... Lombok ini... semuanya mengingatkan aku pada rencana-rencana yang pernah kita buat. Kamu ingat? Kita dulu ingin ke sini setelah kamu mendapat proyek besar pertama itu. Kita ingin merayakan keberhasilanmu di sini."
Aku terdiam. Lidahku mendadak kelu. Tentu saja aku ingat. Setiap det**l rencana itu tersimpan rapi dalam laci ingatanku yang paling gelap. Proyek besar yang akhirnya jatuh ke tangan orang lain, krisis finansial keluargaku yang datang bertubi-tubi, dan egoku yang menolak untuk terlihat lemah di depannya. Aku memilih menutup diri, berhenti bicara, dan akhirnya membiarkan hubungan kami mati kehabisan napas karena aku merasa tidak layak memilikinya jika aku tidak bisa memberinya apa yang aku janjikan.
"Maaf," hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulutku. Kata paling tidak berguna di dunia saat ini.
"Aku tidak butuh maafmu sekarang," Maya berdiri, suaranya mulai stabil meski masih ada getaran di sana. Dia merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Aku cuma ingin waktu berjalan lebih cepat. Aku ingin perjalanan ini segera berakhir supaya aku tidak perlu lagi melihat wajahmu dan teringat betapa pengecutnya kamu saat meninggalkanku tanpa sepatah kata pun."
Dia melangkah melewatinya, aroma parfum *vanilla* yang masih sama seperti dua tahun lalu tercium sekilas, memicu gelombang nostalgia yang menyesakkan. Namun, saat dia tepat berada di sampingku, langkahnya melambat.
"Jangan ikuti aku," pesannya tanpa menoleh. "Kembali ke rombongan lima menit setelah aku pergi. Jangan sampai mereka curiga."
Aku berdiri mematung, menatap punggungnya yang menjauh dan menghilang di balik tikungan rumah adat. Tanganku yang tadi ingin memeluknya kini hanya bisa meremas udara kosong. Rasa sesak di dadaku semakin menjadi-jadi. Aku merasa seperti arsitek yang gagal; aku membangun tembok yang begitu tinggi untuk melindungi diriku sendiri, namun ternyata tembok itulah yang sekarang menjepitku dan menghancurkan satu-satunya orang yang paling ingin kulindungi.
Aku menarik napas panjang, mencoba menjernihkan paru-paruku dari debu dan rasa sakit. Namun, saat aku baru saja hendak melangkah keluar dari persembunyian itu, aku melihat sesuatu di atas batu tempat Maya duduk tadi. Sebuah sapu tangan kecil berwarna biru tua yang tertinggal. Sapu tangan yang dulu aku berikan padanya saat dia menangis karena skripsinya ditolak dosen.
Aku memungut kain kecil itu, merasakan teksturnya yang lembut dan masih terasa hangat. Di sudut kain itu, terdapat inisial namaku yang dia sulam sendiri.
Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah Maya, melainkan suara berat beberapa peserta pria dari rombongan kami yang tampaknya sedang mencari tempat untuk merokok.
"Eh, Aris! Di sini rupanya. Dicariin tuh sama Mas Galang, katanya kita mau lanjut ke Pant** Kuta," seru salah satu dari mereka.
Aku segera menyembunyikan sapu tangan itu ke dalam saku celanaku, berusaha memasang wajah kaku dan datarku kembali. "Iya, saya segera ke sana."
Saat aku berjalan mengikuti mereka kembali ke bus, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Rahasia kami bukan lagi sekadar tentang pura-pura tidak kenal. Rahasianya adalah, setelah semua luka ini, aku menyadari bahwa aku masih mencint**nya dengan cara yang sama merusaknya seperti dulu. Dan sapu tangan di sakuku terasa seperti bara api yang siap membakar seluruh sandiwara ini sebelum kami sampai di destinasi berikutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!