Angin malam di kaki Rinjani tidak pernah benar-benar bersahabat. Ia menyelinap di antara serat-serat jaket tebal yang kukenakan, menusuk kulit dengan ujung-ujung jarum es yang tak kasatmata. Di hadapanku, api unggun kecil menari-nari, melemparkan bayangan jingga yang gelisah pada wajah laki-laki yang duduk tepat di seberangku.
Aris.
Setelah hampir seminggu kami berpura-pura menjadi orang asing dalam rombongan *open trip* ini, malam ini terasa berbeda. Peserta lain sudah berangsur mundur ke dalam tenda masing-masing, menyerah pada kantuk dan suhu yang terus merosot. Kini hanya tersisa derik jangkrik, letupan kayu bakar yang dimakan api, dan sunyi yang begitu tebal di antara kami berdua.
Aku memperhatikan jemari Aris yang panjang dan kokoh. Ia sedang memainkan sebilah ranting kecil, mengais-ngais abu di pinggiran api. Matanya terpaku pada bara, seolah-olah ada peta rahasia yang terkubur di sana. Arsitek itu selalu begituβselalu punya sesuatu untuk dikerjakan agar ia tidak perlu menatap mata lawan bicaranya.
"Sampai kapan, Ris?" suaraku memecah keheningan, lebih tipis dari yang kuharapkan.
Aris tidak bergerak. Ranting di tangannya berhenti mengais. "Sampai kapan apa?" tanyanya datar, tanpa mengalihkan pandangan.
"Perjanjian konyol ini. *Stranger pact*." Aku merapatkan pelukan pada lututku, berusaha mencari kehangatan yang tidak juga kunjung datang. "Kita sudah sampai di kaki Rinjani. Besok perjalanan selesai. Apa kamu benar-benar berniat membiarkan kita pulang ke Jakarta seolah-olah dua tahun lalu tidak pernah terjadi?"
Aris akhirnya mendongak. Di bawah cahaya api yang temaram, matanya terlihat lelah. Ada lingkaran hitam yang menggantung di sana, menceritakan malam-malam tanpa tidur yang mungkin ia lalui selama perjalanan ini. "Bukankah itu yang kamu mau, May? Kamu yang bilang di hari pertama, jangan merusak suasana grup."
"Aku mengatakannya karena aku takut!" potongku cepat. Napasku membentuk uap putih di udara. "Aku takut karena melihatmu lagi rasanya seperti melihat kecelakaan yang belum selesai kubersihkan puing-puingnya. Tapi berpura-pura tidak mengenalmu... itu jauh lebih menyakitkan daripada bertengkar denganmu."
Aris meletakkan rantingnya. Ia menarik napas panjang, bahunya yang tegap tampak merosot sejenak sebelum ia kembali memasang dinding pertahanan yang biasa. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Segalanya sudah jelas dua tahun lalu."
"Jelas bagimu, tapi tidak bagiku!" Aku merasakan panas merambat ke mataku, bukan karena asap api unggun. "Kamu pergi begitu saja, Ris. Tanpa penjelasan. Kamu cuma bilang kita tidak bisa lanjut, lalu kamu mematikan ponselmu selama berbulan-bulan. Kamu tahu betapa hinanya perasaanku saat itu? Aku merasa seperti barang rusak yang dibuang tanpa alasan."
Aris mengepalkan tangannya di atas paha. Rahangnya mengeras, sebuah tanda yang sangat kukenal saat ia sedang menahan emosi atau mencoba menyusun kata-kata yang paling tidak berisiko. Namun, seperti biasa, pilihannya adalah diam.
"Bicaralah, Ris. Tolong," rintihku. "Katakan padaku kalau kamu sudah tidak mencint**ku lagi saat itu. Katakan kalau ada perempuan lain. Atau katakan kalau aku terlalu menuntut. Apa pun. Berikan aku satu alasan yang nyata supaya aku bisa berhenti menebak-nebak di tengah malam."
Aku mencondongkan tubuh ke depan, mengabaikan panas api yang menjilat wajahku. Aku ingin menembus dinding kaku itu. Aku ingin melihat Aris yang duluβlaki-laki yang pernah menjanjikan masa depan di sela-sela sketsa bangunannya.
Aris menatapku tajam. Sesaat, aku melihat kilatan kemarahan, atau mungkin kepedihan, di matanya. Bibirnya terbuka, sedikit bergetar. "Kamu tidak akan mengerti, May," bisiknya parau.
"Coba aku. Buat aku mengerti."
"Ada beban yang tidak bisa kubagikan denganmu saat itu. Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kegagalanku."
"Kegagalan apa? Masalah uang? Masalah keluargamu?" Aku mengejarnya, tidak membiarkannya mundur. "Kita seharusnya tim, Ris. Kamu selalu merasa harus jadi pahlawan yang menanggung semuanya sendirian. Tapi yang kamu lakukan bukannya menyelamatkanku, kamu justru menghancurkanku dengan diammu itu!"
Aris tiba-tiba berdiri. Gerakannya begitu mendadak hingga beberapa percik api beterbangan ke udara. Ia membelakangiku, menatap kegelapan hutan di lereng Rinjani.
"Sudah larut, Maya. Kamu harus istirahat. Besok kita harus bangun pagi untuk perjalanan pulang," ucapnya dengan suara sedingin embun di dedaunan.
"Ris! Jangan pergi!" Aku ikut berdiri, tapi kakiku terasa lemas. "Jangan lakukan ini lagi. Jangan berjalan pergi saat aku sedang bicara padamu!"
Aris berhenti sejenak, namun ia tidak berbalik. Punggungnya terlihat seperti benteng yang tak tergoyahkan, namun jika aku melihat lebih dekat, aku tahu ia sedang gemetar.
"Beberapa luka memang lebih baik dibiarkan tertutup," katanya pelan, hampir tidak terdengar. "Berbicara hanya akan membuat nanahnya keluar lagi. Maaf, Maya. Aku tidak bisa."
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi menuju tenda pria, menghilang ditelan kegelapan malam yang pekat. Aku berdiri mematung di samping api unggun yang mulai meredup. Isak tangis yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah, tertelan oleh desau angin Rinjani yang dingin.
Aku baru menyadari sesuatu. *Stranger Pact* ini bukan dibuat untuk menjaga kenyamanan orang lain. Aris membuatnya untuk melindungi dirinya sendiri darikuβatau mungkin, dari kenyataan bahwa ia sebenarnya belum benar-benar sanggup melepaskanku.
Di kejauhan, puncak Rinjani berdiri angkuh di bawah sinar bulan, seolah menertawakan luka yang kembali menganga di kaki gunungnya. Dan aku tahu, malam ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar saat kami harus menempuh perjalanan pulang besok. Karena sekarang, aku tidak akan membiarkannya bersembunyi lagi, bahkan jika aku harus meruntuhkan seluruh dunianya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!