Udara pagi di Senaru terasa seperti sapuan es yang menempel di pori-pori kulit. Kabut tipis masih merayap di sela-sela pepohonan rimbun yang membentengi pintu ma**k menuju kaki Rinjani. Di pelataran penginapan kecil tempat rombongan menginap semalam, hiruk-pikuk persiapan pendakian sudah dimulai sejak pukul lima subuh. Suara gemerincing *carabiner*, gesekan bahan jaket *waterproof*, dan instruksi para pemandu menciptakan irama yang seharusnya memacu adrenalin.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen dingin mengisi rongga paru-paruku yang terasa sesak. Tanganku yang terbungkus sarung tangan tipis sibuk memeriksa ulang tali sepatu *hiking*-ku. Aku selalu menyukai presisi. Sebagai seorang arsitek, aku tahu bahwa kesalahan sekecil apa pun pada fondasi akan meruntuhkan seluruh struktur. Prinsip itu juga yang kupakai dalam menyiapkan tas punggungku; berat beban harus terbagi rata, tidak boleh ada yang timpang.
"Aris, air mineralmu sudah ma**k semua?" suara Rian, salah satu peserta yang paling cerewet, memecah fokusku.
Aku hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. "Sudah. Tiga liter."
"G***, tasmu kelihatan berat sekali. Mau kubantu bawakan satu botol?"
"Tidak usah. Aku bisa," jawabku datar.
Mataku secara tidak sadar melirik ke arah serambi kanan. Di sana, Maya sedang berdiri bersama seorang peserta perempuan lainnya. Dia mengenakan jaket *windbreaker* berwarna biru muda yang tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Dia sedang menguncir rambutnya dengan gerakan yang sangat kukenalβmenggigit ikat rambut di antara bibir, tangannya cekatan mengumpulkan helai-helai hitam ke belakang, lalu menyimpulnya dengan kuat.
Itu gerakan yang dulu sering kulihat setiap kali dia bersiap untuk lembur di depan laptopnya. Dulu, aku akan datang dari belakang, mengecup tengkuknya, dan membantunya merapikan anak rambut yang tertinggal. Sekarang, aku bahkan tidak boleh menyapa namanya dengan nada akrab.
Sesuai *Stranger Pact* yang kami sepakati, Maya adalah orang asing yang kebetulan berada dalam satu grup denganku. Dia tidak melirikku sama sekali. Fokusnya sepenuhnya pada tas pinggangnya. Ketegaran yang dia tunjukkan seperti dinding beton yang tinggi; kokoh namun dingin.
Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar kuat. Sebuah notifikasi pesan ma**k. Aku mengeluarkannya, berharap itu hanya pesan dari kantor yang bisa kuabaikan. Namun, nama yang muncul di layar membuat perutku seperti diremas.
*Ibu.*
Aku ragu sejenak sebelum menggeser layar.
*βRis, maaf kalau Ibu ganggu liburanmu. Ibu cuma mau tanya, apa sisa uang bulan lalu masih ada? Penagih dari koperasi datang lagi ke rumah semalam. Mereka bilang bunganya menumpuk. Adikmu juga butuh biaya buat bayar ujian semester ini. Kalau belum ada, jangan dipikirkan ya, Ris. Biar Ibu cari pinjaman lain dulu.β*
Aku tertegun. Layar ponsel itu terasa panas di telapak tanganku. Kata-kata "biar Ibu cari pinjaman lain dulu" adalah kode keras bahwa Ibu sudah sangat terdesak. Sejuta memori pahit menyerbu ma**k tanpa permisi. Aku bisa melihat kembali wajah Ibu yang kuyu, tumpukan surat tagihan yang berwarna merah, dan rasa malu yang mencekik saat tetangga berbisik-bisik soal kegagalan finansial ayahku sebelum beliau tiada.
Lalu, memori itu beralih pada malam dua tahun lalu. Malam di mana aku memutuskan untuk menghilang dari hidup Maya.
Saat itu, aku duduk di meja kerja, menatap saldo tabunganku yang habis untuk melunasi utang keluarga yang tak kunjung usai. Di sampingku, ada brosur cincin pertunangan yang sempat kupesan diam-diam. Aku sadar, jika aku tetap bersama Maya, aku hanya akan menyeretnya ke dalam lubang hitam kemiskinanku. Dia punya masa depan yang cerah, sementara aku punya beban yang tak tahu kapan akan lunas.
"Aris? Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," suara lembut itu menusuk lamunanku.
Aku tersentak. Maya sudah berdiri hanya beberapa langkah dariku. Dia memegang sebotol air, matanya menatapku dengan sorot yang sulit diartikanβantara cemas dan waspada. Ini adalah pertama kalinya dia memulai percakapan di luar agenda rombongan pagi ini.
Aku segera mematikan layar ponsel dan mema**kkannya kembali ke saku dengan gerakan kasar. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing karena udara dingin," jawabku, berusaha keras menjaga suaraku agar tetap stabil.
Maya mengerutkan kening. Dia mengenalku terlalu baik. Dia tahu kapan aku sedang berbohong dan kapan aku sedang menyembunyikan sesuatu di balik wajah datarku.
"Jangan dipaksakan kalau kurang fit. Jalur ke Pos 2 lumayan menanjak," katanya pelan, hampir seperti bisikan. Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih formal, seolah baru teringat akan kesepakatan kami. "Maksudku, sebagai rekan satu grup, aku tidak mau ada yang pingsan di tengah jalan."
"Aku tahu," balasku singkat. "Terima kasih atas perhatiannya, Maya."
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirku. Rasanya aneh dan pahit. Maya tampak terkejut mendengar namanya disebut, lalu dia memalingkan wajah dan berjalan kembali ke arah kerumunan peserta lainnya.
Aku mengepalkan tangan di samping tubuh. Pesan dari Ibu tadi seperti pengingat yang kejam bahwa aku tidak pantas berada di sini. Aku tidak pantas "healing" di Lombok sementara keluargaku di Jawa berurusan dengan penagih utang. Aku merasa seperti pengecut yang melarikan diri dari tanggung jawab, sekaligus pria bodoh yang kehilangan satu-satunya orang yang dicint**nya demi ego dan rasa malu.
Setiap langkah yang akan kuambil menuju puncak Rinjani nanti terasa akan lebih berat karena bukan hanya tas punggung ini yang kubawa, tapi juga seluruh kegagalan masa laluku yang belum tuntas.
"Ayo semuanya! Kumpul!" teriak ketua pemandu. "Kita mulai doa sebelum berangkat!"
Aku melangkah ma**k ke dalam barisan, memposisikan diriku di bagian paling belakang. Aku melihat Maya berdiri di depan, berbincang kecil dengan peserta lain, mencoba terlihat ceria. Dia sangat ahli dalam berpura-pura, atau mungkin dia memang sudah benar-benar pulih dariku.
Saat kami mulai berjalan meninggalkan penginapan menuju gerbang pendakian, getaran ponsel itu kembali terasa. Kali ini bukan pesan, tapi pangg***n telepon dari nomor yang tidak kukenal. Aku tahu siapa itu. Pasti pihak koperasi yang mengejarku.
Aku menatap punggung Maya yang perlahan menjauh dalam rombongan di depanku. Kabut Senaru semakin tebal, menelan bayangannya. Aku tahu, mendaki gunung ini bukan hanya soal menaklukkan ketinggian, tapi soal bertahan dari hantaman rahasia yang mulai retak dan siap pecah kapan saja.
Dan saat pangg***n telepon itu terus berdering di saku celanaku, aku menyadari satu hal: persembunyianku di Lombok sudah berakhir bahkan sebelum pendakian ini benar-benar dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!