Napas-napas pendekku mulai terasa membakar paru-paru. Setiap langkah menanjak di jalur tanah yang lembap ini terasa seperti beban berton-ton yang diikatkan di pergelangan kaki. Aku bukan tipe perempuan yang akrab dengan alam liar, dan trekking menuju air terjun di kaki Rinjani ini mulai terasa seperti sebuah kesalahan besar. Di depanku, punggung lebar yang sangat kukenali itu bergerak dengan ritme yang stabil. Aris. Dia melangkah seolah gravitasi tidak berlaku baginya, sementara aku di belakangnya sudah hampir menyerah pada gravitasi itu sendiri.
"Ayo, sedikit lagi, Maya. Jangan berhenti di tengah tanjakan, nanti ototmu kaku," suara itu bukan milik Aris, melainkan suara pemandu kami yang berada jauh di depan.
Aku hanya bisa mengangguk lemah, menyeka keringat yang bercampur dengan kelembapan hutan yang pekat. Aku melirik Aris. Dia sempat menoleh sekilas, matanya menangkap sosokku yang kepayahan. Ada kilatan kekhawatiran di sana—mata yang dulu selalu tahu kapan aku butuh istirahat bahkan sebelum aku mengucapkannya—tapi dengan cepat dia membuang muka. Dia kembali menjadi 'orang asing' yang berkomitmen pada perjanjian konyol kami.
Tiba-tiba, langit yang sedari tadi berwarna kelabu tua seperti tidak sanggup lagi menahan bebannya. Tanpa peringatan berupa gerimis kecil, air langsung tumpah dari langit dengan volume yang luar biasa. Suara gemuruh air jatuh menghantam dedaunan lebar di sekitar kami menciptakan kebisingan yang m****akkan telinga.
"Hujan! Semuanya, lari ke pondok di depan!" teriak sang pemandu.
Kepanikan kecil terjadi. Anggota rombongan yang lain—pasangan muda yang sedari tadi sibuk berfoto dan bapak-bapak yang terlihat bugar—langsung memacu langkah mereka melewati rimbunnya semak. Aku mencoba berlari, tapi kakiku yang sudah lemas justru mengkhianatiku. Aku terpeleset di akar pohon yang licin, nyaris terjungkal ke dalam parit dangkal jika sebuah tangan yang kokoh tidak menyambar lenganku dengan kasar.
"Hati-hati!"
Suara Aris terdengar berat tepat di samping telingaku. Dia tidak melepaskan cengkeramannya. Dia justru menarikku mendekat, memaksaku untuk terus bergerak di bawah guyuran hujan yang membuat pandangan menjadi kabur. Kami tertinggal. Rombongan di depan sudah menghilang di balik tikungan tajam dan tirai air yang tebal.
"Aris, tunggu! Aku tidak bisa bernapas!" teriakku, suara tertelan oleh bunyi hujan yang menghantam tanah.
"Sedikit lagi, May. Ada pondok di sana!"
Dia hampir menyeretku. Kami tiba di sebuah pondok kayu kecil—sebuah *berugaq* terbengkalai dengan atap rumbia yang sebagian besar masih utuh, meski lant** kayunya sudah mulai lapuk. Kami melompat ke dalamnya tepat saat angin kencang berhembus, membawa butiran air yang menusuk kulit.
Hening. Hanya ada suara hujan yang mengamuk di luar.
Aku jatuh terduduk di sudut pondok, memeluk lututku yang gemetar. Rambutku lepek, pakaianku menempel di kulit, dan rasa dingin mulai merayap naik dari ujung jari kaki. Aris berdiri di tepi pondok, membelakangiku. Bahunya naik turun, berusaha mengatur napas. Air menetes dari ujung rambutnya, membasahi kaus hitam yang membungkus punggung tegapnya.
"Mereka sudah jauh," kataku dengan suara bergetar. Gigiku mulai beradu. "Kita terpisah."
Aris berbalik. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Di bawah pencahayaan yang redup karena mendung tebal, wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya. Dia membuka tas punggungnya yang tahan air, mengeluarkan sebuah handuk kecil yang kering. Tanpa berkata-kata, dia melangkah mendekat dan melemparkannya ke pangkuanku.
"Keringkan rambutmu. Jangan sampai ma**k angin," katanya singkat. Dingin. Seolah dia sedang bicara dengan orang asing yang kebetulan dia temukan di pinggir jalan.
"Terima kasih," gumamku. Aku menggosok rambutku dengan handuk itu, tapi mataku tidak bisa berhenti memperhatikannya. Dia duduk di sudut yang berlawanan, menjaga jarak maksimal yang dimungkinkan oleh pondok sempit ini.
Keheningan di antara kami jauh lebih menyesakkan daripada suara badai di luar. Ini adalah pertama kalinya kami benar-benar berdua, tanpa ada peserta lain yang mengawasi, tanpa perlu berpura-pura di depan orang banyak. 'Stranger Pact' yang kami buat terasa seperti lelucon yang tidak lucu saat ini.
"Sampai kapan kita akan begini, Ris?" tanyaku akhirnya, memecah kesunyian.
Aris tidak menoleh. Dia justru menatap ke arah hutan yang tertutup kabut. "Begini bagaimana? Kita sedang berteduh, Maya. Tunggu hujannya reda."
"Bukan itu maksudku!" suaraku naik satu oktav, dipicu oleh rasa frustrasi yang menumpuk selama berhari-hari perjalanan ini. "Berpura-pura seolah kita tidak punya sejarah. Berpura-pura seolah dua tahun lalu itu tidak pernah terjadi. Kamu menyelamatkanku tadi, kamu menarik tanganku. Orang asing tidak akan melakukannya dengan cara seperti itu."
Aris perlahan menoleh. Rahangnya mengeras. "Lalu kamu ingin aku bagaimana? Membiarkanmu jatuh ke jurang? Itu reflek, Maya. Jangan dibesar-besarkan."
"Reflek?" Aku tertawa pahit, meski tubuhku masih menggigil. "Kamu selalu punya alasan untuk menutup diri. Bahkan di tengah hutan seperti ini, kamu masih membangun tembok itu. Apa kamu benar-benar tidak merasa terganggu sama sekali berada di sini bersamaku?"
Aris tiba-tiba berdiri. Gerakannya yang mendadak membuatku tersentak. Dia melangkah dua kali hingga kini dia berdiri tepat di depanku, menjulang tinggi, menghalangi sedikit cahaya yang ma**k ke pondok. Emosi yang selama ini dia tekan rapat-rapat mulai merembes keluar melalui matanya yang menggelap.
"Terganggu?" Aris berbisik, suaranya rendah dan penuh tekanan. "Kamu pikir aku tenang-tenang saja? Setiap kali aku melihatmu tertawa dengan peserta lain, setiap kali aku melihatmu kesulitan mendaki dan aku tidak boleh menyentuhmu, itu menyiksaku, Maya. Tapi kamu yang meminta ini, kan? Kamu yang bilang ingin menikmati perjalanan ini tanpa gangguan masa lalu."
Aku mendongak, menatap matanya yang memerah. "Karena aku pikir itu yang terbaik untukmu! Kamu yang pergi lebih dulu, Aris. Kamu yang memutuskan komunikasi tanpa penjelasan. Aku hanya mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diriku."
"Aku pergi karena aku merasa gagal!" Aris setengah berteriak, suaranya bersaing dengan bunyi petir yang menggelegar di atas kepala kami. "Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan padamu saat itu. Keluargaku hancur, finansialku berantakan. Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam lubang hitam yang sedang kutempati!"
Hujan seolah berhenti sejenak dalam pendengaranku. Jantungku berdegup kencang. Ini adalah kalimat terpanjang yang dia ucapkan tentang perpisahan kami sejak dua tahun lalu. Rahasia yang selama ini dia simpan di balik sikap kakunya akhirnya mulai retak.
Aris memalingkan wajah, napasnya memburu. Dia sepertinya menyesal telah lepas kendali. Dia kembali bersandar pada tiang pondok, menutupi wajahnya dengan satu tangan.
"Dua tahun, Ris... dua tahun aku bertanya-tanya apa salahku," bisikku pelan, air mata mulai menggenang, lebih hangat daripada tetesan hujan yang membasahi tubuhku. "Kamu pikir dengan menghilang kamu melindungiku? Kamu justru meninggalkan luka yang lebih dalam daripada kegagalan finansial mana pun."
Aris terdiam lama. Hujan di luar mulai sedikit mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari atap rumbia. Namun, ketegangan di dalam pondok justru semakin memuncak. Dia menurunkan tangannya dan menatapku lagi, kali ini bukan dengan kemarahan, melainkan dengan keletihan yang luar biasa.
"Maya..." dia memulai, tapi kalimatnya terputus.
Tepat saat itu, terdengar suara teriakan dari arah jalur setapak. "Maya! Aris! Kalian di sana?!"
Itu suara Gani, salah satu peserta rombongan. Cahaya senter terlihat menyapu di antara batang pohon.
Aris segera menjauh dariku, kembali memakai topeng 'orang asing'-nya dalam sekejap mata. Dia merapikan kausnya dan berdeham, seolah dialog penuh emosi tadi tidak pernah terjadi.
"Kami di sini!" teriak Aris membalas, suaranya kembali stabil dan dingin.
Dia melirikku sekali lagi sebelum melangkah keluar ke arah datangnya bantuan. "Simpan handuknya. Kita harus kembali ke rombongan."
Aku terpaku di lant** kayu yang dingin, memegang handuk pemberiannya yang kini sudah lembap. Rahasia itu sudah mulai terbuka, tapi Aris baru saja membanting pintu itu kembali tepat di depan wajahku. Saat aku berdiri untuk mengikuti langkahnya, aku menyadari satu hal: perjalanan ini bukan lagi soal 'healing' atau menikmati keindahan Lombok. Ini adalah medan perang untuk hatiku yang belum sepenuhnya sembuh.
Dan aku baru saja menyadari, bahwa alasan Aris meninggalkanku dulu mungkin jauh lebih rumit daripada sekadar masalah uang. Ada sesuatu yang masih dia sembunyikan, sesuatu yang membuat tangannya gemetar saat dia meneriakkan kata 'gagal' tadi.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!