Udara malam di Sembalun terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Aku merapatkan jaket polar tebal yang kupakai, namun rasa dingin itu seolah menembus hingga ke tulang, bersumber dari dalam dadaku sendiri. Di kejauhan, siluet Gunung Rinjani berdiri angkuh di bawah siraman cahaya bulan yang pucat, seolah menertawakan drama kecil yang sedang kumainkan.
Aku melihatnya. Aris berdiri membelakangiku di dekat pagar kayu penginapan, menatap hamparan lembah yang gelap. Asap tipis mengepul dari cangkir yang ia pegang, namun ia sendiri tampak membeku. Punggung ituβpunggung yang dulu pernah menjadi tempatku bersandarβkini terasa seperti tembok raksasa yang mustahil kuruntuhkan.
Pers**** dengan *Stranger Pact*. Aku tidak bisa bernapas jika harus terus berpura-pura.
"Dua tahun, Ris," suaraku memecah kesunyian, lebih tajam dari yang kubayangkan.
Bahu Aris menegang. Ia tidak berbalik, namun aku tahu dia mengenali suaraku bahkan dalam tidurnya sekalipun. Ia menarik napas panjang, kepulan uap putih keluar dari mulutnya. "Maya, ini bukan tempat yang tepat. Peserta lain bisa dengar."
"Aku tidak peduli," aku melangkah maju, kakiku menginjak rumput kering yang berderit. "Aku sudah muak dengan sandiwara ini. Aku muak melihatmu bersikap seolah kita baru bertemu di bandara kemarin. Aku muak dengan caramu menatapku seolah aku ini beban yang harus kamu hindari."
Aris berbalik perlahan. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak lebih lelah di bawah cahaya lampu teras yang temaram. Matanya yang hitam pekat menatapku dengan sorot yang sulit kubacaβcampuran antara rindu dan rasa bersalah yang menyesakkan.
"Kamu mau apa, Maya?" tanyanya datar, terlalu datar hingga itu menyakitiku.
"Jawaban!" Aku menuding dadanya. "Kenapa kamu menghilang? Kenapa malam itu kamu janji akan datang ke rumah untuk bicara dengan orang tuaku, tapi kamu malah mematikan ponsel dan lenyap seperti ditelan bumi? Kamu membiarkanku menunggu seperti orang bodoh selama berbulan-bulan!"
Aris memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Ia mencengkeram cangkirnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan. Semuanya sudah selesai, kan?"
"Selesai untukmu, tapi tidak untukku!" teriakku tertahan, air mata mulai menggenang, membuat pandanganku kabur. "Kamu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Kamu membuatku merasa tidak berharga, Ris. Kamu membuatku merasa seolah-olah hubungan kita selama tiga tahun itu hanya sampah yang bisa kamu buang kapan saja."
Aku melangkah lebih dekat, menantang matanya. "Katakan padaku sekarang. Apa aku melakukan kesalahan? Apa ada perempuan lain? Apa aku terlalu menuntut? Katakan!"
"Bukan karena kamu!" Suara Aris naik satu oktav, serak dan penuh tekanan. Ia meletakkan cangkirnya dengan kasar di atas pagar kayu hingga isinya tumpah sedikit. "Ini tidak pernah tentang kamu, Maya. Ini tentang aku yang sudah hancur."
Aku terpaku. Tangisku tertahan di kerongkongan. "Apa maksudmu?"
Aris tertawa pendek, tawa yang terdengar kering dan menyakitkan. Ia menatap langit malam, berusaha menahan emosi yang mulai meluap. "Kamu ingat saat aku bilang proyek kantorku sedang macet? Itu bohong. Ayahku... bisnisnya bangkrut total. Rumah kami disita, May. Semua aset, kendaraan, bahkan tabungan yang kusiapkan untuk... untuk kita, habis dipakai untuk membayar hutang keluarga."
Aku tertegun, separuh tidak percaya dengan apa yang kudengar.
"Aku bukan lagi arsitek muda yang punya masa depan cerah saat itu," lanjutnya, suaranya kini bergetar. "Aku cuma laki-laki yang punya hutang di mana-mana dan harus menghidupi orang tua serta dua adikku yang masih kuliah. Aku tidur di kantor selama tiga bulan karena tidak punya tempat tinggal."
"Kenapa kamu tidak bilang?" bisikku lirih. "Kita bisa menghadapinya bersama, Ris."
"Bersama?" Aris menatapku tajam, matanya kini basah. "Bagaimana caranya? Orang tuamu menginginkan menantu yang mapan. Mereka selalu membanggakan karierku di depan kerabatmu. Apa yang harus kukatakan pada mereka? 'Maaf, saya bangkrut dan sekarang saya tidak punya apa-apa untuk menghidupi putri Anda'?"
Ia melangkah mendekat, auranya yang dingin kini berganti menjadi keputusasaan yang nyata. "Aku melihatmu, Maya. Kamu punya karier yang bagus, lingkungan yang nyaman. Aku tidak mau menarikmu ma**k ke dalam lubang hitam yang sedang kuhadapi. Aku merasa... tidak layak. Aku gagal jadi laki-laki. Aku merasa menjadi sampah yang bahkan tidak berani menatap wajahmu sendiri."
"Jadi kamu memilih untuk membuangku?" tanyaku, air mata kini mengalir deras membasahi pipiku yang kedinginan. "Kamu memutuskan sendiri apa yang baik untukku tanpa bertanya apa yang kuinginkan? Kamu pikir dengan menghilang begitu saja, kamu menyelamatkanku? Kamu justru menghancurkanku, Ris!"
Aris menunduk, membiarkan keheningan Sembalun menyelimuti kami. Bahunya yang lebar kini tampak merosot, beban yang dipikulnya selama dua tahun ini seolah tumpah sekaligus.
"Setiap hari aku menyesal, May," bisiknya begitu pelan hingga hampir tertelan angin malam. "Tapi melihatmu sekarang, di sini... aku sadar ketakutanku belum hilang. Aku masih merasa tidak pantas berdiri di sampingmu."
Aku ingin memeluknya, namun ada kemarahan yang masih membara di balik rasa kasihan ini. Luka dua tahun tidak bisa sembuh hanya dengan satu pengakuan. Namun, sebelum aku sempat membalas, suara langkah kaki dari arah ruang tengah penginapan membuat kami berdua tersentak.
Seseorang dari rombongan *open trip* sedang menuju ke arah teras. Aris segera menghapus sudut matanya dengan cepat dan kembali memasang wajah dinginnya, topeng yang selama ini ia gunakan untuk melindungikuβatau mungkin melindungi dirinya sendiri.
"Jangan bahas ini lagi," bisik Aris tajam sebelum ia melangkah pergi melewatiku, meninggalkanku berdiri sendirian di tengah dingin yang kian menggigit.
Aku menatap punggungnya yang menjauh, menyadari satu hal yang jauh lebih menyakitkan: kebenaran ini tidak menyatukan kami kembali, melainkan justru memperjelas jurang yang selama ini ada di antara kami. Dan perjalanan di Lombok ini masih menyisakan banyak tanjakan yang mungkin akan membuat kami benar-benar patah.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!