Angin malam di kaki Rinjani berembus lebih tajam dari biasanya, menusuk hingga ke pori-pori, namun rasa dingin itu tak ada apa-apanya dibandingkan kekosongan yang menganga di dadaku. Di hadapanku, Maya berdiri dengan bahu yang gemetar. Cahaya bulan yang tipis menyapu wajahnya, memperlihatkan mata sembap yang selama ini berusaha ia sembunyikan di balik tawa palsu selama perjalanan *open trip* ini.
"Jelaskan, Ris. Jangan diam seperti pengecut lagi," suaranya parau, nyaris pecah.
Aku mengepalkan tangan di dalam saku jaket. Jemariku mati rasa. Selama dua tahun, aku membangun tembok ini. Sebuah konstruksi kebohongan yang kupikir akan menyelamatkannya dari keruntuhanku. Sebagai arsitek, aku terbiasa menghitung beban, dan saat itu, aku menghitung bahwa beban hidupku akan menghancurkannya jika dia tetap di sisiku.
"Aku tidak pernah selingkuh, May," ucapku pelan. Kata-kata itu terasa asing setelah sekian lama terkunci di tenggorokan.
Maya tertawa miris, suara yang lebih menyakitkan daripada makian. "Lalu apa? Malam itu di kafe, kamu bilang kamu sudah bosan. Kamu bilang ada perempuan lain yang lebih mengerti ambisimu. Kamu bilang aku hanya menghambat kariermu. Kamu menatap mataku dan mengatakan itu semua tanpa berkedip, Aris!"
Aku memejamkan mata. Bayangan malam terkutuk dua tahun lalu itu terputar kembali. Aku ingat betapa kerasnya aku berlatih di depan cermin, mengatur raut wajah agar terlihat dingin dan tak peduli. Aku ingat bagaimana aku harus menggigit lidahku sendiri agar tidak menariknya ke dalam pelukanku saat dia mulai menangis tersedu-sedu di depan meja kafe itu.
"Ayahku bangkrut, May," aku akhirnya mengaku, suaraku rendah dan berat. "Bukan sekadar rugi biasa. Dia tertipu investasi bodong, semua aset kami disita, dan dia meninggalkan utang miliaran atas nama pribadiku karena aku yang menandatangani beberapa dokumen sebagai penjamin tanpa membaca det**lnya. Aku dikejar *debt collector* setiap hari. Rumah kami ditempeli stiker sita."
Maya terdiam. Angin seolah berhenti berdesir.
"Aku tidak punya apa-apa saat itu. Aku kehilangan pekerjaan karena kantor lama tidak mau terlibat skandal keuangan keluargaku. Aku tinggal di kos-kosan sempit yang atapnya bocor, makan mi instan sekali sehari agar bisa menyicil bunga utang," lanjutku, setiap kata seperti menarik keluar paku yang selama ini tertanam di hatiku. "Bagaimana aku bisa mengajakmu hidup seperti itu? Kamu baru saja mulai meniti karier impianmu di galeri seni. Kamu punya masa depan yang cerah. Aku tidak bisa membiarkanmu ikut tenggelam bersamaku."
"Jadi kamu memilih untuk membuangku?" tanya Maya, langkahnya maju satu tindak, memangkas jarak di antara kami.
"Aku memilih untuk membuatmu membenciku," koreksiku. "Karena kalau aku mengatakan yang sejujurnya, kamu yang keras kepala itu pasti akan memilih tinggal. Kamu akan menjual mobilmu, menguras tabunganmu, dan mengorbankan mimpimu hanya untuk melunasi utang yang bukan salahmu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Aku melihat air mata jatuh di pipinya, mengalir deras melintasi kulitnya yang pucat. Tapi itu bukan tangis sedih yang biasa. Itu adalah tangis kemarahan.
*Plak!*
Tamparan itu mendarat keras di pipi kiriku. Panas dan berdenyut. Aku tidak bergeming. Jika itu bisa mengurangi sedikit saja rasa sakit yang kuberikan padanya selama dua tahun ini, aku bersedia ditampar ribuan kali lagi.
"Kamu sombong, Aris," desisnya, suaranya kini penuh dengan kebencian yang murni. "Kamu pikir kamu siapa? Tuhan yang bisa menentukan apa yang baik atau buruk buat aku? Kamu menganggap hubungan kita ini apa? Proyek bangunan yang bisa kamu bongkar pasang sendiri kalau fondasinya retak?"
"Aku hanya ingin melindungimu, May."
"Melindungiku?" Maya berteriak, suaranya menggema di keheningan lereng gunung. "Kamu menghancurkanku! Kamu membuatku merasa tidak c**up baik sampai kamu harus mencari orang lain. Kamu membuatku mempertanyakan harga diriku selama bertahun-tahun. Kamu membiarkan aku berduka sendirian atas hubungan yang aku kira adalah segalanya, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kamu hanya tidak c**up percaya padaku!"
Dia memukul dadaku dengan kepalan tangannya yang kecil, berkali-kali. Aku membiarkannya. Aku pantas menerima setiap hantaman itu.
"Kita bisa berjuang bersama, Ris. Aku tidak peduli kalau kita harus makan satu mi instan berdua. Aku tidak peduli kalau kita harus tinggal di kosan bocor itu. Yang aku pedulikan adalah kamu tidak ada di sana saat aku butuh kamu, dan kamu tidak membiarkan aku ada di sana saat kamu butuh aku."
Dia berhenti memukul, napasnya tersengal-sengal. Dia menatapku dengan tatapan yang membuatku merasa seperti orang asing yang paling hina di dunia ini.
"Kamu bukan pelindung, Aris. Kamu hanya seorang penakut yang bersembunyi di balik ego," ucapnya tajam.
"May, aku melakukannya karena aku mencint**mu..."
"Jangan gunakan kata itu," potongnya cepat. "Kata itu terlalu suci untuk alasan pengecutmu. Kamu tidak mencint**ku, Ris. Kamu hanya mencint** gambaran dirimu sebagai pahlawan yang bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi nyatanya? Kamu gagal. Kamu gagal menjaga kita."
Maya berbalik, bersiap untuk pergi meninggalkanku di kegelapan. Namun, dia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Stranger Pact kita tetap berlaku," katanya dingin. "Besok, saat matahari terbit dan kita kembali ke rombongan, jangan pernah berani menatapku lagi seolah-olah kamu punya hak atas penjelasan apa pun dariku. Kamu sudah memilih untuk menjadi orang asing dua tahun lalu, jadi tetaplah di sana. Tetaplah menjadi orang asing yang paling tidak aku kenal."
Dia melangkah pergi, bayangannya perlahan menghilang ditelan kabut yang turun dari puncak Rinjani. Aku berdiri mematung, merasakan pipiku yang masih panas dan hatiku yang kini benar-benar hancur menjadi serpihan tak berbentuk.
Aku sudah memberikan kebenaran yang dia minta, tapi bukannya menyembuhkan luka, kebenaran itu justru seperti menyiramkan garam di atas luka yang masih basah. Dan saat kabut semakin tebal menutupi pandanganku, aku sadar satu hal: di bawah langit Lombok yang seharusnya menjadi tempat kesembuhan, aku baru saja kehilangan Maya untuk kedua kalinyaβkali ini, mungkin untuk selamanya.
Suara langkah kaki lain mendekat dari arah tenda rombongan, dan aku buru-buru menghapus jejak air mata di sudut mataku sebelum seseorang melihat retakan dalam diriku yang tak lagi bisa diperbaiki. Namun, di kejauhan, aku mendengar suara isakan Maya yang terbawa angin, mengingatkanku bahwa malam ini, tidak akan ada yang benar-benar bisa tidur dengan tenang.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!