Tanganku meremas pinggiran kertas *boarding pass* hingga ujungnya sedikit melengkung dan hancur. Suara riuh di Terminal 3 Soekarno-Hatta pagi ini terasa seperti dengung lebah yang menyerang kepalaku. Aku menyesuaikan letak kacamata, mencoba fokus pada layar ponsel yang sebenarnya hanya menampilkan menu utama yang itu-itu saja. Aku tidak benar-benar sedang membaca pesan; aku sedang membangun benteng.
Dari sudut mataku, aku melihatnya. Dia berdiri sekitar sepuluh meter di depan konter *boarding*. Maya. Dia mengenakan jaket denim yang tampak terlalu besar untuk tubuh kecilnyaβmungkin itu jaket baru, aku tidak pernah melihatnya sebelum kami berpisah dua tahun lalu. Rambutnya diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya. Pemandangan itu seharusnya asing, tapi ingatan otot di otakku justru berkhianat, memutar kembali memori saat aku biasa merapikan helaian rambut itu sebelum dia berangkat kerja.
Aku segera membuang muka. Fokus, Aris. *Stranger Pact*. Kita tidak saling kenal.
Saat namaku dipanggil untuk mema**ki garbarata, aku sengaja memperlambat langkah. Biarkan dia ma**k lebih dulu. Biarkan dia menghilang di antara barisan kursi pesawat sebelum aku menampakkan diri. Aku butuh jarak. Aku butuh oksigen yang tidak terkontaminasi oleh aroma parfum *freesia* miliknya yang, sialnya, masih tercium samar saat dia melewatinya tadi.
Aku melangkah ma**k ke kabin pesawat dengan napas yang lebih teratur. Mataku mencari nomor kursi. 14C. Bagus, posisi lorong. Aku bisa keluar dengan cepat begitu mendarat di Lombok nanti. Aku meletakkan tas ransel di kompartemen atas, lalu mengembuskan napas lega saat menyadari kursi di sebelahku masih kosong. Setidaknya, aku punya waktu dua jam untuk memejamkan mata dan berpura-pura bahwa liburan "healing" yang dipaksakan sahabatku, Rendy, ini adalah ide yang ma**k akal.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan tiga puluh detik.
Seorang wanita berhenti tepat di samping kursiku. Aku bisa merasakan kehadirannya bahkan sebelum aku mendongak. Jantungku berhantam keras di balik rusuk, ritmenya kacau, seperti desain bangunan yang kehilangan struktur utamanya.
"Permisi," suaranya lembut, namun c**up untuk membuat seluruh pertahananku runtuh seketika.
Aku mendongak pelan. Maya berdiri di sana, memegang *boarding pass* dengan nomor 14B. Dia tampak sama terkejutnya denganku. Pupil matanya melebar sesaat, kilatan luka dan kebingungan melintas di sana sebelum dia dengan cepat memasang topeng datarnya.
"Oh," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya menggeser lututku ke samping, memberinya ruang untuk ma**k ke kursi tengah. Gerakannya kaku saat dia duduk dan memasang sabuk pengaman. Ruang di antara kami hanya beberapa sentimeter, namun rasanya seperti ada jurang sedalam ribuan kaki yang memisahkan kami.
Bau parfum itu lagi. Sekarang aromanya mengepungku.
Aku segera merogoh tas kecil di bawah kursi, mengeluarkan *headphone* peredam suara, dan memakainya tanpa menoleh. Aku ingin mengirim sinyal yang jelas: *Jangan bicara padaku.* Aku membuka buku sketsa di pangkuanku, mencoba menggoreskan garis-garis acak. Sebagai arsitek, aku selalu merasa bisa mengendalikan ruang. Aku bisa mengatur di mana dinding harus berdiri, di mana cahaya harus ma**k, dan bagaimana sebuah ruangan seharusnya terasa. Tapi di sini, di kursi 14C ini, aku kehilangan kendali total atas ruang pribadiku sendiri.
Pesawat mulai bergerak mundur. Aku melirik melalui sudut mata. Maya sedang menatap keluar jendela, meskipun dia duduk di kursi tengah dan harus sedikit mencondongkan tubuh melewati penumpang di kursi 14A. Jemarinya terus memainkan ujung sabuk pengamanβsebuah kebiasaan lama saat dia merasa cemas.
Dulu, aku akan meraih tangannya, menggenggamnya kuat, dan membisikkan bahwa lepas landas adalah bagian paling aman dari penerbangan. Tapi sekarang, tanganku terkunci rapat di atas lututku sendiri. Aku bisa melihat pantulan wajahku di layar monitor yang gelap di depannya. Aku terlihat kaku, dingin, dan... pengecut.
Tiba-tiba, pesawat melakukan akselerasi di landasan pacu. Deru mesin memenuhi kabin. Saat roda pesawat terangkat dari tanah, guncangan kecil membuat tubuh Maya sedikit limbung ke arahku. Bahu kami bersentuhan selama satu detik yang terasa abadi.
Aku tersentak kecil, seolah-olah kulitnya adalah bara api yang menyulut luka lama. Aku segera merapatkan tubuh ke arah lorong, menciptakan jarak yang dipaksakan. Maya menyadari reaksiku. Dia segera menegakkan duduknya, wajahnya memerah, dan dia membuang muka sepenuhnya ke arah jendela.
Keheningan di antara kami jauh lebih bising daripada suara mesin jet. Aku mencoba fokus pada sketsaku, tapi tanganku sedikit gemetar. Kenapa dari sekian banyak kursi di pesawat ini, sistem harus menempatkan kami berdampingan? Apakah semesta sedang menertawakanku?
"Aris," dia berbisik. Namaku terdengar seperti kutukan sekaligus doa saat keluar dari bibirnya.
Aku tidak melepas *headphone*-ku, meskipun aku tidak menyalakan musik sama sekali. Aku berpura-pura tidak mendengar. Aku terus menggoreskan pensil di atas kertas hingga ujungnya patah.
"Aku tahu kamu dengar," lanjutnya, suaranya sedikit lebih tegas namun tetap rendah agar tidak memancing perhatian penumpang lain. "Kita sudah sepakat di grup WhatsApp tadi pagi. *Stranger Pact*. Tapi kalau kamu bersikap sekaku ini, orang-orang akan curiga."
Aku menghela napas panjang, akhirnya melepas satu sisi *headphone*. Aku menoleh padanya, mencoba memasang ekspresi paling profesional yang aku punya. "Lalu kamu mau apa? Mengobrol tentang cuaca? Atau bertanya bagaimana kabarku selama dua tahun ini?"
Maya menatapku langsung ke mata. Ada genangan emosi yang sulit kubacaβamarah, kerinduan, dan rasa lelah yang amat sangat. "Aku cuma mau kita bersikap normal. Seperti dua orang asing yang tidak sengaja duduk bersebelahan. Orang asing tidak akan gemetar saat bahunya tersenggol, Aris."
Kalimatnya menghujam tepat di ulu hati. Aku mengepalkan tangan di bawah buku sketsa. "Aku tidak gemetar."
"Tanganmu baru saja mematahkan pensil itu," sahutnya pelan sambil menunjuk ke arah kertas di pangkuanku.
Aku terdiam. Sial. Dia selalu tahu cara melihat retakan di balik dinding yang kubangun.
"Dengar," Maya melanjutkan, suaranya kini bergetar halus. "Ini perjalanan lima hari. Kalau di pesawat saja kita sudah seperti ini, bagaimana saat kita harus mendaki di kaki Rinjani nanti? Tolong, jangan buat ini jadi lebih sulit dari yang seharusnya."
Aku memalingkan wajah, kembali menatap lurus ke depan. "Aku akan menjaga bagianku dari kesepakatan itu, Maya. Kamu tenang saja. Di depan anggota trip yang lain, aku tidak mengenalmu. Kita hanya dua orang yang kebetulan mencari kesembuhan di tempat yang sama."
"Bagus," jawabnya singkat.
Dia kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan memejamkan mata. Aku kembali memasang *headphone*, tapi kali ini aku menyalakan musik dengan volume keras. Aku ingin menenggelamkan suaranya, aromanya, dan keberadaannya. Namun, saat kulihat setetes air mata jatuh di sudut matanya yang terpejam, pertahananku retak sedikit lagi.
Dua jam ke depan akan menjadi perjalanan terpanjang dalam hidupku. Dan ini baru permulaan. Aku tahu, kesepakatan untuk menjadi orang asing ini mungkin adalah kebohongan terbesar yang pernah kami buat, karena kenyataannya, tidak ada orang asing yang bisa saling menyakiti sedalam ini hanya dengan sebuah sentuhan bahu yang tak sengaja.
Pesawat berguncang karena turbulensi ringan. Secara refleks, tangan Maya bergerak mencari pegangan kursi, dan untuk sekejap, jemarinya menyentuh punggung tanganku yang berada di atas pembatas kursi. Kali ini, dia tidak segera menariknya. Dia mematung, dan aku pun membeku.
Di ketinggian tiga puluh ribu kaki, aku menyadari satu hal: Lombok mungkin adalah tempat untuk menyembuhkan luka, tapi bagiku, perjalanan ini sepertinya hanya akan mengoyak kembali jahitan lama yang belum benar-benar kering. Dan guncangan di kabin ini belum ada apa-apanya dibanding badai yang baru saja dimulai di dalam dadaku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!