Kabut Sembalun menyapu lembah seperti lembaran kain sutra putih yang robek, menutupi sebagian ladang bawang dan puncak-puncak bukit yang mengepung kami. Udara pagi itu begitu dingin, jenis dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat uap keluar dari mulut setiap kali aku membuang napas. Aku menggenggam gelas kertas berisi kopi instan yang sudah mendingin, jemariku terasa kaku, sama kakunya dengan lidahku setiap kali aku berada di dekat Maya.
Di depan sana, beberapa meter dari pembatas bukit, Maya berdiri sendirian. Ia mengenakan jaket *parka* berwarna krem yang tampak kebesaran di tubuhnya yang kini terlihat lebih kurus dibanding dua tahun lalu. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin gunung, menutupi sebagian wajahnya yang sedang menatap kosong ke arah Gunung Rinjani yang puncaknya masih malu-malu bersembunyi di balik awan.
Ini adalah hari terakhir kami di Sembalun. Besok, rombongan *open trip* ini akan kembali ke Mataram, lalu terbang pulang ke Jakarta. Dan setelah itu, 'Stranger Pact' yang kami sepakati akan berakhir. Kami akan kembali menjadi orang asing, namun kali ini mungkin untuk selamanya.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paru dengan keberanian yang tipis. Aku melangkah mendekat, suara sepatu gunungku yang menginjak kerikil terdengar nyaring di keheningan pagi. Maya tidak menoleh, tapi aku tahu dia sadar akan kehadiranku. Bahunya sedikit menegang.
"Kopinya sudah dingin," ucapku pelan, suara serakku memecah kesunyian.
Maya hanya melirik sekilas ke arah gelas di tanganku, lalu kembali menatap lembah. "Sama seperti suasana di sini, kan? Dingin."
Aku berdiri di sampingnya, menjaga jarak sekitar satu meterβjarak aman yang telah kami pelihara selama enam hari terakhir di Lombok. Sebagai seorang arsitek, aku terbiasa menghitung jarak, struktur, dan presisi. Namun, menghitung jarak emosional di antara kami adalah hal yang paling sulit yang pernah kukerjakan.
"May," panggilku. Suaraku hampir tenggelam oleh desau angin. "Aku tahu 'Stranger Pact' ini ide yang konyol. Aku yang menyetujuinya karena aku pengecut."
Maya tertawa kecil, tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia merapatkan jaketnya. "Baru sadar sekarang, Ris? Setelah kita pura-pura tidak kenal di depan sepuluh orang lain selama seminggu penuh? Setelah kamu melihatku menangis diam-diam di Bukit Selong kemarin dan kamu hanya melewatinu seolah aku ini pohon?"
Kata-katanya seperti paku yang dipukul tepat ke dadaku. Aku menunduk, menatap ujung sepatuku yang kotor oleh tanah merah. "Aku tidak ingin merusak 'healing' kamu. Aku pikir... jika aku tetap diam, kamu akan lebih mudah melupakan semuanya."
"Melupakan?" Maya akhirnya menoleh sepenuhnya. Matanya kemerahan, entah karena angin dingin atau sisa tangis semalam. "Bagaimana aku bisa melupakan cara kamu menghilang begitu saja dua tahun lalu? Tanpa penjelasan, tanpa kata putus yang jelas, hanya *silent treatment* berbulan-bulan sampai aku menyerah karena merasa tidak berharga."
Aku meremas gelas kertas di tanganku hingga penyok. Inilah saatnya. Struktur pertahanan yang kubangun selama dua tahun ini mulai retak. "Aku merasa gagal, May."
Maya mengernyit, tidak mengerti.
"Ayahku meninggalkan hutang yang sangat besar sebelum dia meninggal. Bisnis konstruksi kecil-kecilannya hancur karena ditipu mitra," aku bicara cepat sebelum keberanianku menguap. "Dua tahun lalu, semua aset rumah disita. Aku bekerja siang malam hanya untuk memastikan ibu dan adik-adikku punya tempat tinggal. Aku merasa... aku tidak layak mendampingimu. Aku merasa jadi pecundang yang tidak punya masa depan untuk ditawarkan padamu."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya ada suara gesekan daun dari kejauhan. Maya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβantara terkejut, marah, dan luka yang mendalam.
"Kenapa kamu tidak bilang?" bisiknya, suaranya bergetar. "Kenapa kamu memutuskan sendiri bahwa aku hanya menginginkan uangmu atau kesuksesanmu? Aku ini pasanganmu, Aris. Bukan klien arsitekturmu yang hanya mau melihat hasil akhir yang sempurna."
"Karena aku takut melihat tatapan kasihan di matamu, May," jawabku jujur. Suaraku pecah. "Aku lebih baik dibenci karena diam daripada dilihat sebagai pria yang gagal menghidupi orang yang dia cint**. Egois, ya? Aku tahu."
Maya melangkah maju satu langkah, memangkas jarak di antara kami. Bau parfum lavender yang masih sama dengan dua tahun lalu menerpa indra penciumanku, membawa gelombang kenangan yang menyakitkan. Ia menatapku tajam, mencari-cari kebohongan di mataku.
"Kamu pikir dengan memberitahuku sekarang, di ujung perjalanan ini, semua luka itu akan menutup sendiri?" tanya Maya dengan nada rendah yang menusuk. "Dua tahun aku bertanya-tanya apa salahku. Dua tahun aku menyalahkan diriku sendiri karena merasa tidak c**up menarik atau tidak c**up baik untuk membuatmu tetap tinggal."
"Maafkan aku," hanya itu yang mampu kukatakan. Kata-kata itu terasa sangat tidak memadai dibandingkan dengan kerusakan yang telah kubuat.
Aku mencoba meraih tangannya, namun ia menariknya kembali dengan cepat. Penolakan itu terasa lebih dingin daripada suhu Sembalun.
"Aku tidak tahu apakah 'maaf' bisa memperbaiki gelas yang sudah hancur berkeping-keping, Ris," ujar Maya pelan. Ia menghapus setitik air mata yang jatuh di pipinya dengan kasar. "Kejujuranmu... datang di waktu yang salah. Atau mungkin, ini memang sudah terlambat."
Maya berbalik, hendak meninggalkanku sendirian di pinggir tebing itu. Hatiku mencelos. Aku merasa dunia di sekitarku mulai runtuh, lebih parah daripada saat aku kehilangan rumahku dulu.
"May, tunggu!" seruku.
Ia berhenti, tapi tidak berbalik.
"Aku melakukan perjalanan ini bukan untuk sekadar 'healing'," aku mengakui dengan suara keras agar tidak kalah oleh angin. "Aku ikut rombongan ini karena aku tahu kamu akan ada di sini. Aku sengaja mencarimu. Aku ingin mencoba sekali lagi, jika kamu memberiku celah sekecil apa pun."
Maya tetap diam, bahunya gemetar hebat. Langit di belakang Rinjani mulai memerah, matahari mulai mengintip, menerangi wajah Sembalun dengan cahaya keemasan yang dramatis.
"Besok kita pulang ke Jakarta," ucap Maya tanpa menoleh. "Jangan cari aku lagi di bus nanti. Berikan aku waktu untuk berpikir, atau mungkin... berikan aku waktu untuk benar-benar melepaskanmu."
Maya melangkah pergi, meninggalkanku dalam kabut yang perlahan menipis namun menyisakan ketidakpastian yang tebal. Aku melihat punggungnya menjauh, ma**k ke dalam penginapan. Di saat yang sama, ponsel di saku jaketku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari grup *chat* rombongan *open trip*.
*βSemuanya, kumpul di depan lobi 15 menit lagi ya! Kita ada pengumuman penting soal jadwal kepulangan besok karena ada kendala teknis di bandara.β*
Aku merasakan firasat buruk. Di Lombok ini, takdir seolah sengaja mempermainkan kami, menarik ulur perasaan yang sudah sekarat. Dan aku takut, kendala teknis itu bukan sekadar soal pesawat, tapi soal sesuatu yang jauh lebih besar yang akan memaksa aku dan Maya terjebak dalam situasi yang lebih sulit lagi sebelum kami benar-benar bisa berpisah.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!