Angin sore di Bukit Merese bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa aroma garam yang pekat dan bisikan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Aku merapatkan jaket denimku, membiarkan helaian rambut yang lolos dari kunciran mencambuk pipi. Di depan sana, garis cakrawala mulai membiaskan warna jingga yang memar, persis seperti suasana hatiku saat ini.
Lombok telah memberikan segalanya padaku dalam tujuh hari terakhir. Deburan ombak di Gili Trawangan, dinginnya kabut di kaki Rinjani, hingga hamparan pasir putih di Tanjung Aan. Namun, yang paling nyata adalah kehadiran laki-laki yang kini berdiri lima meter di samping kiriku.
Aris.
Laki-laki yang selama dua tahun ini menjadi hantu dalam ingatan, kini berdiri nyata, membelakangiku. Bahunya yang lebar terlihat tegang, tangannya terkubur dalam saku celana kargo. Kami masih terikat dalam *Stranger Pact* yang konyol itu, kesepakatan untuk berpura-pura tidak saling mengenal di depan peserta *open trip* lainnya. Tapi di sini, saat peserta lain sibuk berswafoto di sisi bukit yang berbeda, topeng itu terasa terlalu berat untuk dipakai.
"Kamu selalu benci angin kencang," suara Aris memecah keheningan. Suaranya rendah, nyaris tertelan deru angin, namun sanggup menggetarkan rongga dadaku.
Aku menoleh perlahan. Aris tidak menatapku. Matanya lurus menatap laut lepas. "Waktu berubah, Ris. Mungkin aku sudah belajar untuk menikmatinya," jawabku datar, meski jemariku gemetar di balik saku jaket.
Aris akhirnya menoleh. Sorot matanya yang tajam dan selalu tampak penuh perhitungan itu kini meredup, menyisakan kelelahan yang selama ini ia sembunyikan di balik sikap kakunya. "Aku minta maaf, May."
Aku tertawa hambar, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti isakan yang tertahan. "Minta maaf untuk bagian yang mana? Untuk menghilang tanpa kabar? Untuk membiarkan aku mengemis penjelasan? Atau untuk kesepakatan orang asing ini?"
Aris melangkah mendekat, namun ia berhenti seolah ada garis tak kasat mata yang melarangnya melampaui batas tertentu. "Untuk segalanya. Aku merasa gagal waktu itu. Aku pikir, dengan menutup diri dan menyelesaikan masalah finansial keluargaku sendirian, aku sedang melindungimu. Aku tidak ingin kamu ikut tenggelam bersamaku."
Aku menatapnya dalam-dalam. Selama ini, aku datang ke Lombok untuk 'healing'. Aku pikir, sembuh berarti mendapatkan kembali Aris yang dulu. Aku pikir, sembuh berarti mendengar kata-kata maaf dan kembali merajut apa yang putus. Namun, melihat Aris sekarang, aku menyadari sesuatu yang menyakitkan sekaligus membebaskan.
Laki-laki di depanku ini bukan lagi Aris yang kucint** dua tahun lalu. Dan aku bukan lagi Maya yang rapuh, yang dunianya runtuh hanya karena seorang laki-laki memilih untuk diam.
"Kamu tahu, Ris?" kataku, suaraku kini lebih stabil. "Selama ini aku berpikir kalau luka ini hanya bisa sembuh kalau kamu datang membawa penawarnya. Tapi perjalanan ini mengajariku hal lain."
Aku melangkah ke tepi tebing, merasakan hembusan angin yang lebih kuat. "Sembuh itu bukan berarti kita kembali ke titik awal. Sembuh itu bukan berarti lubangnya hilang. Sembuh itu adalah saat aku bisa melihat lubang itu, tahu bagaimana aku mendapatkannya, dan memutuskan untuk tidak lagi jatuh ke dalamnya."
Aris terdiam. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik-turun. "Jadi, menurutmu ini sudah terlambat?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa lebih berat daripada awan mendung yang mulai berkumpul di kejauhan. Inilah persimpangannya. Di satu sisi, ada kenyamanan dari kenangan lama, sebuah godaan untuk kembali ke pelukan yang akrab. Di sisi lain, ada jalan panjang yang harus kutempuh sendirian, jalan yang asing namun menjanjikan kemandirian yang baru saja kutemukan.
"Aku tidak tahu apakah ini terlambat atau tidak," jawabku pelan. "Tapi aku tahu satu hal. *Stranger Pact* kita... itu bukan cuma buat melindungi kenyamanan peserta lain, kan? Itu caramu untuk tetap dekat tanpa harus menghadapi kenyataan."
Aku membalikkan badan, menghadap penuh ke arahnya. "Aku datang ke sini untuk menyembuhkan luka, bukan untuk membuka kembali jahitan yang sudah mulai mengering, Ris."
"Aku ingin mencoba lagi, May. Dengan cara yang benar. Tanpa rahasia, tanpa *silent treatment*," Aris melangkah lebih dekat, kali ini ia melanggar batas itu. Ia mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh lenganku, namun ia ragu dan tangannya hanya menggantung di udara.
Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya. Ada kejujuran di sana, sesuatu yang dulu sangat kuidamkan. Namun, hatiku tidak lagi berdegup kencang karena cinta yang meluap. Yang kurasakan justru sebuah kelegaan yang anehβsebuah penerimaan bahwa kenyataan tidak selalu harus sesuai dengan dongeng yang kususun di kepala.
"Dua tahun lalu, aku akan memberikan apa saja untuk mendengar kalimat itu," ucapku dengan senyum tipis yang menyakitkan. "Tapi sekarang, aku bahkan tidak yakin apakah aku masih mengenal laki-laki yang berdiri di depanku ini."
Langit Lombok kini benar-benar gelap, menyisakan semburat ungu tua. Di kejauhan, terdengar suara pemandu wisata kami berteriak memanggil para peserta untuk kembali ke bus. Waktu kami sudah habis.
"Besok adalah hari terakhir kita di sini," kataku sambil mulai melangkah pergi mendahuluinya. "Setelah kita sampai di bandara, *Stranger Pact* ini berakhir. Kita tidak perlu pura-pura jadi orang asing lagi."
Aku berhenti sejenak tanpa menoleh. "Karena mulai saat itu, kita memang akan benar-benar menjadi dua orang asing yang hanya kebetulan pernah memiliki masa lalu yang sama."
Aku berjalan menjauh, meninggalkan Aris sendirian di puncak bukit yang mulai gelap. Kakiku terasa ringan, namun dadaku terasa sesak. Aku tahu ini adalah langkah yang benar, tapi kenapa rasanya seperti aku baru saja mematahkan hatiku sendiri untuk kedua kalinya?
Saat aku hampir mencapai area parkir, ponselku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang sangat kukenal, meski sudah lama kuhapus dari daftar kontak.
*Aku tidak akan menyerah secepat itu, May. Kita belum benar-benar selesai di Lombok.*
Aku terpaku sejenak, menatap layar ponsel di bawah lampu jalan yang temaram. Di depan sana, bus sudah menunggu. Di belakangku, Aris masih berdiri menantang angin malam. Pintu bus terbuka, dan aku tahu, keputusan apa pun yang kuambil besok akan menentukan apakah luka ini akan benar-benar menutup atau justru menjadi infeksi yang lebih parah.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!