The Stranger Pact: Luka di Ujung Lombok

Bab 3: Bab 3 - Membuat kesepakatan 'Stranger Pact' saat sampai...

Pengaturan Membaca

Udara panas Praya langsung menyergap begitu aku melangkah keluar dari garba rata. Aroma khas bandara—campuran antara avtur, pendingin ruangan yang bekerja keras, dan sisa-sisa hujan tropis—biasanya selalu membangkitkan semangat petualanganku. Namun kali ini, paru-paruku terasa menyempit. Setiap embusan napas terasa berat, seolah oksigen di Lombok enggan menyatu dengan kegelisahan yang kubawa dari Jakarta.

Aku meremas tali ranselku hingga buku-buku jariku memutih. Di depanku, sekitar lima meter jauhnya, punggung tegak itu bergerak dengan ritme yang sangat kukenali. Aris. Dia berjalan dengan langkah-langkah efisien, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, persis seperti caranya menjalani hidup: lurus, terukur, dan tanpa celah untuk interupsi yang tidak perlu.

Bagaimana bisa dari jutaan orang di I****esia, dan dari ratusan paket wisata yang tersedia, kami berakhir di rombongan *open trip* yang sama? Semesta sedang melucu, atau mungkin sedang menghukumku.

Di area pengambilan bagasi, suasana riuh. Peserta lain—ada sepuluh orang terma**k kami—mulai saling melempar senyum dan memperkenalkan diri. Seorang gadis ceria bernama Dira mencoba mengajakku mengobrol, tapi fokusku terbelah. Aku melihat Aris berdiri di ujung ban berjalan, menanti kopernya dengan ekspresi sedatar dinding beton. Tidak ada tanda-tanda keterkejutan di wajahnya saat tadi mata kami pertama kali bertemu di terminal keberangkatan. Dia hanya mengangguk tipis, seolah aku hanyalah debu yang kebetulan menempel di sepatunya.

Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa membiarkan lima hari ke depan menjadi neraka karena kecanggungan ini.

Saat Aris menarik koper hitamnya dan beranjak menjauh dari kerumunan, aku menguatkan hati. Aku mengikutinya menuju area yang agak sepi, dekat pilar besar sebelum pintu keluar.

"Aris," panggilku. Suaraku sedikit bergetar, lebih dari yang kuinginkan.

Dia berhenti, tapi tidak langsung berbalik. Bahunya tampak menegang sesaat sebelum akhirnya dia memutar tubuh. Mata itu—mata yang dulu selalu menatapku dengan binar pelindung—kini tampak seperti telaga yang membeku. Dingin dan tak tersentuh.

"Ya?" sahutnya pendek. Satu kata, tapi c**up untuk meruntuhkan pertahanan yang kubangun sepanjang penerbangan dua jam tadi.

"Kita perlu bicara soal... ini," kataku sambil memberi isyarat pada rombongan kami yang mulai berkumpul di kejauhan. "Aku tidak tahu kamu akan ikut trip ini. Aku tidak ingin merusak suasana peserta lain, apalagi ini *healing trip*. Akan sangat aneh kalau mereka tahu kita..."

"Kita apa, Maya?" potongnya cepat. Suaranya datar, tanpa emosi.

Aku menelan ludah yang terasa mengganjal di kerongkongan. "Mantan kekasih yang gagal? Orang asing yang punya sejarah buruk?"

Aris menatapku lurus-lurus. Dia mema**kkan satu tangannya ke saku celana, pose defensif yang selalu dia gunakan saat merasa terpojok. "Lalu, apa maumu?"

"Aku mau kita buat kesepakatan," kataku, mencoba terdengar setegas mungkin. "Selama di Lombok, kita tidak saling kenal. Kita bersikap seolah-olah kita baru bertemu pertama kali di bandara ini. *Stranger Pact*. Tidak ada pembahasan masa lalu, tidak ada drama, tidak ada urusan pribadi. Hanya dua orang asing dalam satu rombongan."

Aku menahan napas, menunggu reaksinya. Aku mengharapkan setidaknya sedikit perlawanan, atau mungkin kilatan amarah yang membuktikan bahwa dia masih peduli. Setidaknya, aku ingin dia merasa sama tidak nyamannya denganku.

Namun, Aris justru mendengus pelan, hampir menyerupai tawa kering yang pahit. "Hanya itu?"

"Iya."

"Oke. Setuju," jawabnya tanpa ragu. "Lagipula, memang itu kenyataannya, kan? Kita sudah jadi orang asing sejak dua tahun lalu. Bagiku, itu bukan hal sulit untuk dilakukan."

Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada kecelakaan mana pun. *Bukan hal sulit untuk dilakukan.* Dia mengatakannya seolah-olah menghapus dua tahun kebersamaan kami—setiap janji, setiap rencana rumah masa depan yang dia gambar dengan det**l sebagai arsitek, dan setiap pelukan di saat badai—hanya semudah menekan tombol *delete* pada draf gambar yang salah.

"Bagus kalau begitu," balasku, berusaha menyembunyikan luka yang baru saja dia goreskan di atas luka lama yang belum sembuh. "Aku tidak mau perjalanan ini jadi beban."

"Jangan khawatir, Maya. Aku di sini untuk pekerjaanku, untuk mencari inspirasi bangunan lokal. Kamu bukan fokusku," katanya lagi, kali ini sambil melirik jam tangannya. "Bisa kita pergi sekarang? Mas Haris, pemandu kita, sudah melambaikan tangan."

Dia berbalik begitu saja, menarik kopernya dengan bunyi roda yang berisik di atas lant** marmer, meninggalkanku yang masih berdiri mematung. Dinginnya sikap Aris terasa lebih menyakitkan daripada teriakannya. Jika dia marah, artinya masih ada perasaan. Namun sikap apatis ini? Ini adalah bukti bahwa dia benar-benar sudah selesai.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang kembali merayap. Aku datang ke Lombok untuk sembuh, untuk mencari potongan diriku yang hilang setelah perpisahan tragis itu. Namun baru saja menginjakkan kaki di tanah Praya, aku menyadari bahwa berpura-pura tidak mengenalnya akan menjadi tugas tersulit yang pernah kujalani.

Aku berjalan menyusul di belakang, menjaga jarak aman. Di depan sana, Aris sudah bergabung dengan rombongan, menyapa yang lain dengan keramahan formal yang sangat rapi. Dia bahkan bisa tersenyum tipis pada Dira.

Saat kami berjalan menuju minibus yang akan membawa kami ke destinasi pertama, matahari Lombok mulai menyengat kulit. Panasnya nyata, tapi entah mengapa, aku merasa menggigil. Kami baru saja menandatangani kesepakatan untuk menjadi orang asing, namun saat aku melihat punggungnya ma**k ke dalam mobil, aku tahu satu hal: tidak peduli sekeras apa pun kami berpura-pura, sejarah tidak pernah benar-benar terhapus. Sejarah hanya bersembunyi di balik luka yang siap berdarah kembali kapan saja.

Aku melangkah ma**k ke mobil, mengambil tempat duduk paling belakang, tepat saat mataku menangkap spion tengah yang memantulkan mata Aris. Dia segera membuang muka, menatap ke luar jendela ke arah perbukitan hijau yang membentang. Permainan telah dimulai, dan aku sudah merasa kalah di langkah pertama.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca