Debu tipis beterbangan di bawah sorot matahari sore yang mulai melunak saat mobil elf yang kami tumpangi berhenti tepat di depan sebuah homestay bergaya vernakular modern. Plang kayu bertuliskan "Griya Sasak" bergoyang pelan ditiup angin pesisir yang membawa aroma garam dan melati.
Aku turun paling akhir, membiarkan sendi-sendiku berderak setelah perjalanan panjang dari bandara melewati perbukitan gersang Lombok Tengah. Tanganku secara otomatis meraih ransel hitam besar di bagasi, lalu mataku tanpa sadar mencari sosok itu.
Maya berdiri tak jauh dari sana, sedang menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan. Rambutnya yang sedikit berantakan karena angin pant** justru membuatnya terlihat lebih... nyata. Lebih seperti Maya yang kukenal dulu, bukan Maya yang kulihat di layar ponsel selama dua tahun terakhir.
"Oke, teman-teman! Kita check-in dulu, ya. Setelah ini bebas, kalian bisa istirahat atau jalan-jalan ke pant** depan buat cari sunset," seru Rian, tour leader kami yang energinya seolah tak pernah habis.
Aku berjalan menuju lobi terbuka yang berlant** semen poles. Hatiku berdenyut saat menyadari Maya berjalan hanya tiga langkah di depanku. Wangi sampo stroberi yang masih sama itu samar-samar tertangkap indra penciumanku, memicu fragmen ingatan tentang pagi-pagi tenang di Jakarta yang kini terasa seperti mimpi buruk yang indah.
"Aris, ini kunci kamar kamu. Kamu satu kamar sama Bagas, ya," Rian menyerahkan kunci kayu padaku.
Aku mengangguk singkat. "Thanks, Yan."
Bagas, pria yang disebut Rian, tiba-tiba muncul di sampingku dengan cengiran lebar. Dia adalah tipe pria yang tampaknya bisa berteman dengan siapa saja hanya dalam waktu lima menit. Kulitnya yang kecokelatan dan gaya bicaranya yang sant** menandakan dia adalah penikmat open trip sejati.
"Sip, Bro! Gue taruh barang duluan ya, gerah banget nih," kata Bagas menepuk bahuku akrab. Aku hanya membalas dengan gumaman kecil dan senyum kaku yang kupaksakan.
Aku baru saja hendak melangkah menuju deretan kamar di sayap kanan ketika langkahku tertahan. Di meja resepsionis, Maya tampak kesulitan mengangkat koper besarnya yang tersangkut di undakan semen. Secara insting, kakiku bergerak. Otot-otot lenganku sudah bersiap untuk maju dan membantunya, seperti yang selalu kulakukan selama tiga tahun hubungan kami. Aku tahu persis koper itu berat karena dia selalu membawa 'seluruh isi kamarnya' setiap kali bepergian.
Namun, aku mendadak membeku. *Stranger Pact.* Perjanjian itu menghantam kepalaku seperti godam. Kami sepakat untuk tidak saling mengenal. Jika aku membantunya sekarang dengan sikap yang terlalu familiar, topeng ini akan retak.
Sebelum aku sempat memutuskan apakah akan membantunya sebagai 'orang asing yang sopan', seseorang mendahuluiku.
"Sini, May. Biar gue bantu. Koper lo isinya batu bata atau gimana, sih? Berat banget!"
Itu suara Bagas. Dia sudah berada di samping Maya, memegang handle koper itu dengan mudah sementara tangan satunya memegang botol air mineral.
Maya tampak terkejut, lalu tertawa kecilβtipe tawa yang dulu hanya kulihat saat dia merasa nyaman. "Eh, Bagas. Iya nih, sorry ya. Isinya perlengkapan 'tempur' buat konten," jawab Maya jenaka.
"Sant** aja. Buat cewek secantik lo, angkat beban berat itu dilarang keras di depan gue," goda Bagas sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku merasakan sesuatu yang panas menjalar dari perut hingga ke kerongkongan. Bukan karena cuaca Lombok yang menyengat, tapi karena cara Bagas memandang Maya. Dan yang lebih menyakitkan adalah bagaimana Maya tidak menolak bantuan itu. Dia justru memberikan senyum terima kasih yang paling manisβsenyum yang dulu menjadi hak istimewaku.
Aku memalingkan wajah, berpura-pura sibuk memeriksa tali ranselku yang sebenarnya baik-baik saja. Rahangku mengeras. Aku ingin sekali berjalan ke sana, mengambil alih koper itu, dan memberitahu Bagas bahwa Maya tidak suka jika orang asing terlalu banyak bicara saat dia sedang lelah. Tapi aku tidak punya hak itu lagi. Aku hanyalah Aris, arsitek kaku yang kebetulan berada dalam satu paket tour dengannya.
"Lo sendirian ke sini, May?" tanya Bagas lagi sambil mereka berjalan beriringan menuju area kamar.
"Iya, pengen healing aja sih. Lo sendiri?"
"Sama, baru putus juga soalnya. Jadi butuh udara baru. Siapa tahu di sini dapet jodoh baru juga," Bagas tertawa lepas, suaranya menggema di lorong homestay yang tenang.
Langkah kaki mereka semakin menjauh, tapi telingaku seolah menjadi sangat tajam untuk menangkap setiap kata yang mereka ucapkan. Aku berdiri mematung di tengah lobi, membiarkan orang-orang berlalu-lalang melewatiku.
Aku tahu aku yang meminta jarak ini. Aku yang setuju dengan ide 'pura-pura tidak kenal' ini karena aku tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa kami telah gagal. Tapi melihat pria lain ma**k ke dalam ruang pribadinya, melihat Maya mulai membuka pintu bagi orang asing tepat di depan mataku, rasanya jauh lebih menyiksa daripada yang kubayangkan.
Aku menyusul ke arah kamar dengan langkah berat. Saat melewati lorong, aku melihat Bagas masih berdiri di depan pintu kamar Maya. Dia tampak sedang menunjukkan sesuatu di layar ponselnya, dan Maya menunduk untuk melihat, membuat jarak di antara mereka terkikis hingga hanya menyisakan beberapa sentimeter.
"Nanti malam ada kafe bagus dekat sini, ada live music-nya. Mau ikut nggak? Biar nggak bengong di kamar," ajak Bagas. Suaranya terdengar penuh harap.
Aku berhenti tepat di belakang mereka, mencoba merogoh kunci kamar di saku celanaku dengan tangan yang sedikit gemetar. Mataku tak sengaja berserobok dengan mata Maya. Untuk sesaat, topeng 'orang asing' kami goyah. Ada kilatan keraguan di matanya, sebuah kode yang dulu bisa kubaca dengan mudah sebagai permintaan tolong atau rasa tidak nyaman.
Namun, Maya dengan cepat memutuskan kontak mata itu. Dia kembali menatap Bagas, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Boleh, Gas. Kabari aja di grup ya," jawab Maya pelan.
Hatiku mencelos. Dia menerima ajakan itu.
Maya kemudian ma**k ke kamarnya tanpa menoleh lagi padaku, meninggalkan suara pintu yang tertutup rapat sebagai pembatas yang nyata. Bagas berbalik dan menemukanku berdiri di sana. Dia menyeringai lebar, seolah baru saja memenangkan lotre.
"Woi, Aris! Tuh, denger kan? Malam ini kita nongkrong bareng Maya. Lo harus ikut, Bro. Jangan diem-diem bae, nanti lumutan!" Bagas merangkul bahuku dengan kasar, mengajakku ma**k ke kamar kami.
Aku hanya bisa terdiam, merasakan sesak yang semakin menghimpit dada. Aku datang ke Lombok untuk menyembuhkan luka, tapi baru satu jam di sini, aku merasa luka itu justru baru saja dikoyak kembali. Dan yang paling menyedihkan adalah, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menontonnya dari kejauhan, terkunci dalam janji yang kubuat sendiri.
Apakah aku benar-benar bisa bertahan selama lima hari ke depan melihat Maya perlahan-lahan menghapus jejakku dengan kehadiran orang lain? Ataukah kesepakatan ini sebenarnya adalah kesalahan terbesar yang pernah kami buat?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!