Aroma ikan bakar yang berpadu dengan wangi sambal terasi tercium tajam di udara, terbawa angin laut yang mulai mendingin. Di atas pasir pant** yang masih menyimpan sisa hangat matahari, rombongan *open trip* kami duduk melingkar mengelilingi api unggun kecil yang menari-nari. Cahaya jingga dari api itu memantul di wajah setiap orang, menciptakan bayangan panjang yang seolah menyembunyikan rahasia masing-masing.
Aku duduk di atas kain pant**, berusaha menjaga jarak yang aman dari Aris. Namun, di lingkaran sekecil ini, "jarak aman" hanyalah sebuah ilusi. Dia duduk tepat tiga orang di sebelah kiriku, tampak sibuk mengulik udang bakarnya dengan ketelitian seorang arsitek yang sedang membedah maket. Rahangnya yang tegas mengeras setiap kali ia mengunyah, dan meskipun ia tidak menoleh sedikit pun ke arahku, aku bisa merasakan keberadaannya seperti beban statis di udara.
"Oke, semuanya! Perut sudah kenyang, hati harus senang!" Yudha, pemandu wisata kami yang energinya seolah tidak pernah habis, bertepuk tangan keras. Ia meletakkan sebuah botol kaca kosong di tengah-tengah lingkaran. "Kita main *Truth or Dare* versi jujur kacang ya. Biar makin akrab, biar *healing*-nya totalitas!"
Sorak-sorai setuju pecah dari peserta lain. Aku hanya tersenyum tipis, merasakan firasat buruk mulai merayap di tengkuk. Aku melirik Aris. Dia masih diam, jemarinya kini memainkan tutup botol minumannya, sebuah kebiasaan lama yang selalu ia lakukan saat merasa tidak nyaman.
Botol diputar. Suara gesekannya di atas nampan kayu terdengar seperti detak jam yang memburu. Putaran pertama jatuh pada Rian, pemuda asal Jakarta yang paling cerewet. Ia memilih *Truth* dan dengan sant** menceritakan pengalaman memalukannya saat salah ma**k toilet wanita. Kami semua tertawa, melepaskan sedikit ketegangan.
Namun, botol itu kembali berputar. Lambat, semakin lambat, hingga ujung leher botol itu berhenti tepat di depan Aris.
"Nah! Mas Aris yang dari tadi diam terus!" Yudha menyeringai jahil. "Pilih mana, Mas? *Truth or Dare*?"
Aris mendongak. Cahaya api unggun membuat matanya terlihat lebih gelap dari biasanya. "Truth," jawabnya singkat. Suaranya rendah, berwibawa namun menyimpan keraguan.
"Oke," Rian menyambar kesempatan itu. "Mas Aris ini tipe yang serius banget. Gue penasaran, apa kesalahan terbesar yang pernah Mas lakuin dalam hubungan terakhir sampai akhirnya Mas jomblo sekarang?"
Suasana tiba-tiba hening. Hanya ada suara deburan ombak yang menghantam karang di kejauhan. Aku menahan napas, ujung jemariku tanpa sadar meremas pinggiran kain pant**. Aku tahu jawaban itu. Aku adalah saksiβsekaligus korbanβdari kesalahan itu.
Aris terdiam c**up lama. Ia menatap api seolah sedang mencari kata-kata di antara bara yang beterbangan. "Kesalahan terbesar saya," ia memulai, suaranya sedikit serak, "adalah berpikir bahwa diam bisa menyelesaikan segalanya. Saya pikir, dengan menanggung semua beban sendirian, saya sedang melindungi dia. Padahal, saya justru sedang membangun tembok yang akhirnya membuat dia merasa sendirian."
Duniaku seolah berhenti berputar sejenak. Aku menatap profil samping wajahnya, mencari jejak kebohongan, tapi yang kutemukan hanyalah keletihan yang mendalam. Itu adalah pengakuan yang tidak pernah kudapatkan dua tahun lalu. Saat itu, dia hanya menghilang di balik tembok keheningan, meninggalkanku yang menggedor pintu tanpa pernah dibukakan.
"Wih, dalam banget jawabannya," komentar Yudha, mencoba mencairkan suasana yang mendadak melankolis. "Oke, lanjut!"
Botol kembali diputar. Kali ini, seolah takdir sedang mengejek 'Stranger Pact' yang kami buat, ujung botol itu berhenti tepat di depanku.
"Mbak Maya!" seru Rian bersemangat. "Pilih mana?"
"Truth," jawabku cepat, sebelum keberanianku menguap.
"Pertanyaannya simpel tapi berat," Yudha mencondongkan tubuh, matanya berbinar nakal. "Mengingat Mas Aris tadi bahas soal mantan, sekarang gantian Mbak Maya. Kalau seandainya mantan Mbak ada di sini, di lingkaran ini, dan Mbak dikasih kesempatan buat ngomong satu kalimat saja yang jujur dari hati... apa yang mau Mbak bilang ke dia?"
Jantungku berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Aku bisa merasakan tatapan Aris beralih padaku. Untuk pertama kalinya malam ini, mata kami bertemu. Di sana, di balik pantulan api unggun, aku melihat luka yang sama dengan yang kubawa selama ini.
Aku membasahi bibirku yang mendadak kering. Aku ingin berteriak, ingin memaki, ingin menanyakan kenapa dia baru menyadarinya sekarang. Namun, tujuanku ke Lombok adalah untuk sembuh, bukan untuk kembali berdarah.
"Aku akan bilang..." suaraku bergetar di awal, namun aku memaksanya tetap stabil. Aku menatap langsung ke bola mata Aris, mengabaikan fakta bahwa ada delapan orang lain di sekitar kami. "Aku akan bilang bahwa... kepergian tanpa penjelasan itu lebih menyakitkan daripada perpisahan karena kebencian. Karena dengan kebencian, aku tahu harus berhenti di mana. Tapi dengan diam, aku terus menunggu di pintu yang sebenarnya sudah dikunci dari dalam."
Aris tidak memalingkan wajah. Ia menerima setiap kata-kataku seperti seseorang yang sedang menerima hukuman cambuk; tanpa suara, namun matanya berkedut menahan perih.
Suasana menjadi sangat canggung. Yudha berdehem, menyadari ada ketegangan yang tidak biasa di antara kami berdua, meskipun kami berakting sebagai orang asing sejak awal perjalanan.
"Wah, ini kayaknya tema malam ini 'Luka Lama Bersemi Kembali' ya?" canda Yudha hambar.
Tepat saat itu, sebuah pesan ma**k terdengar dari ponsel Aris yang diletakkan di atas pasir. Layarnya menyala terang di kegelapan. Karena posisi dudukku, aku bisa melihat notifikasi yang muncul di layar kunci.
Sebuah nama tersaji di sana: *Ibu*. Dan di bawahnya, potongan pesan yang membuat napas Aris tercekat saat ia membacanya: *"Ris, debt collector datang lagi ke rumah. Ibu harus gimana?"*
Aris tiba-tiba berdiri, membuat semua orang tersentak. Wajahnya yang tadi terluka kini berubah pucat pasi, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan dengan sisa-sisa harga dirinya.
"Maaf, saya harus ke toilet sebentar," pamitnya terburu-buru, melangkah pergi meninggalkan lingkaran api unggun menuju kegelapan arah penginapan.
Aku terpaku, menatap punggungnya yang menjauh. Beban finansial keluarga. Kalimat di Story Bible-ku berkelebat di pikiran. Apakah itu alasan sebenarnya dia menarik diri dua tahun lalu? Apakah selama ini aku membenci bayangan yang salah?
"Mbak Maya? Masih di sini?" suara Rian menyadarkanku.
Aku menelan ludah, dadaku terasa sesak. Aku tahu aku tidak boleh peduli. Kami punya kesepakatan untuk tetap menjadi orang asing. Namun, melihat bahunya yang merosot saat berjalan di bawah naungan pohon kelapa tadi, aku tahu aku tidak bisa sekadar duduk di sini dan melanjutkan permainan bodoh ini.
"Maaf, kepalaku tiba-tiba pusing. Aku izin duluan ya," kataku sambil bangkit berdiri tanpa menunggu jawaban.
Aku melangkah mengikuti arah perginya Aris, menembus bayangan pepohonan, berniat mencari kebenaran di balik diam yang selama ini menghancurkan kami. Namun, saat aku sampai di balik bangunan utama resto pant**, aku melihat Aris sedang bersandar di tembok, ponsel menempel di telinga, dan suaranya yang pecah terdengar di antara deru angin.
"Ibu tenang, Aris cari pinjaman lagi sekarang. Jangan buka pintunya, Bu. Aris mohon..."
Langkahku terhenti. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat itu kini tergeletak te******* di depanku, dan aku baru menyadari bahwa luka di ujung Lombok ini ternyata jauh lebih dalam dari yang kubayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!