Deru mesin perahu motor itu terasa bergetar hingga ke telapak kakiku, seirama dengan detak jantung yang sejak tadi tidak bisa diajak kompromi. Gili Trawangan membentang di depan mata, sepotong surga dengan gradasi warna air dari pirus hingga biru pekat. Namun bagiku, keindahan ini tak lebih dari sekadar latar belakang yang mengancam privasi emosional yang susah payah aku bangun.
Aku memperbaiki letak kacamata hitamku, mencoba menyapu pandangan ke arah gerombolan peserta *open trip* lainnya. Ada sepasang kekasih yang asyik berfoto, seorang *influencer* yang sibuk dengan tongsisnya, dan kemudian... ada dia.
Maya berdiri di ujung dek, membelakangiku. Rambutnya yang diikat kuda bergoyang pelan tertiup angin laut. Dia sedang berjuang mengenakan *fin* atau kaki katak, dan dari cara bahunya bergerak, aku tahu dia sedang kesulitan. Secara refleks, jemariku bergerak, hampir saja aku melangkah maju untuk berjongkok di depannya dan mengencangkan tali *fin* ituβseperti yang selalu kulakukan dua tahun lalu setiap kali kami ke pant**.
Aku mengerem langkahku. Aku bukan siapa-siapanya sekarang. Kami adalah dua orang asing yang kebetulan berada di atas perahu yang sama. Itulah isi *Stranger Pact* yang kami sepakati.
"Semua siap? Ingat, jangan menginjak karang dan tetap dalam jangkauan pandangan saya!" teriak pemandu wisata kami, memberikan aba-aba.
Satu per satu peserta mulai menceburkan diri. Aku menunggu sampai Maya melompat lebih dulu. Suara kecipak air saat tubuhnya menghantam permukaan laut membuat dadaku berdenyut. Aku menyusul beberapa detik kemudian. Air dingin langsung memeluk kulitku, memberikan sedikit rasa tenang yang semu.
Di bawah permukaan, dunia berubah menjadi sunyi. Hanya ada suara napasku yang menderu lewat *snorkel* dan gemericik air yang terbelah oleh gerakan tangan. Aku berenang perlahan, menjaga jarak sekitar lima meter di belakang Maya. Aku tahu dia bukan perenang yang sangat kuat. Dia benci arus kencang, tapi dia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Aku mengamati punggungnya yang bergerak naik-turun. Di antara keriuhan ikan-ikan kecil dan warna-warni terumbu karang, fokusku hanya terkunci pada satu titik: sosoknya. Aku melihatnya menunjuk-nunjuk sesuatu di bawah sanaβmungkin seekor penyuβdengan antusiasme yang masih sama seperti dulu. Ada rasa hangat yang menyesakkan dada saat melihatnya bahagia, meski kebahagiaan itu tidak lagi melibatkan diriku.
Tiba-tiba, ritme kepakan kakinya berubah.
Gerakan Maya yang semula tenang menjadi tidak beraturan. Dia mencoba menarik kakinya ke arah dada, lalu tubuhnya mulai miring. Aku melihat tangannya menggapai-gapai udara, sementara kepalanya beberapa kali tenggelam dan muncul kembali dengan gerakan panik. Maskernya tampak berembun, dan dia mulai tersedak air garam.
"Maya!" teriakku, tapi suaraku teredam oleh pipa plastik di mulutku.
Pers**** dengan kesepakatan itu. Pers**** dengan sandiwara ini.
Aku memacu kakiku sekuat tenaga. Air terasa berat, namun ketakutan akan kehilangannya jauh lebih menyesakkan. Dalam beberapa detik, aku sudah berada di sampingnya. Aku merengkuh pinggangnya, mengangkat wajahnya agar tetap berada di atas permukaan air.
"Tenang, May! Ini aku. Jangan panik," bisikku tepat di telinganya, mengabaikan fakta bahwa aku baru saja melanggar janji kami untuk tidak saling berinteraksi secara personal.
Wajah Maya pucat pasi. Matanya yang lebar dipenuhi ketakutan, dan tangannya mencengkeram lenganku begitu erat hingga kukunya terasa menusuk kulit. "Kaki... kakiku, Ris... kram," rintihnya di sela batuk.
"Aku tahu, aku tahu. Pegang bahuku," perintahku tegas. Aku tidak peduli jika orang-orang di perahu mulai memperhatikan. Aku memutar tubuhnya agar dia bisa bersandar di dadaku. Tanganku dengan cekatan meraih kakinya yang kaku di bawah air.
Aku bisa merasakan otot betisnya yang mengeras seperti batu. Dengan gerakan yang sudah kuhafal di luar kepala, aku menekan telapak kakinya, mendorong ujung jari-jarinya ke arah tulang kering untuk melemaskan kram tersebut. Maya memejamkan mata, kepalanya bersandar di ceruk leherku. Napasnya yang memburu perlahan mulai teratur, meski tubuhnya masih gemetar hebat.
Keheningan melingkupi kami di tengah luasnya lautan. Untuk beberapa saat, seolah-olah dua tahun terakhir tidak pernah terjadi. Bau garam, sentuhan kulit yang basah, dan debar jantung yang bersahutan ini terasa begitu familier. Ini adalah posisi yang dulu sering kami tempati; dia yang rapuh dan aku yang berusaha menjadi pelindung, meski akhirnya akulah yang menghancurkan semuanya.
"Sudah lebih baik?" tanyaku, suaraku parau.
Maya membuka matanya. Jarak kami begitu dekat sehingga aku bisa melihat bintik-bintik air yang menggantung di bulu matanya. Kesadarannya mulai kembali, dan bersamanya, dinding pembatas itu kembali naik. Dia melepaskan cengkeramannya di lenganku, meski masih membiarkanku menopang tubuhnya.
"Terima kasih," ucapnya dingin, namun suaranya bergetar. Dia mencoba menjauh, namun rasa sakit di kakinya sepertinya belum sepenuhnya hilang.
"Jangan bodoh, May. Kamu hampir tenggelam," kataku, nada protektif yang dulu selalu ia benci kini keluar tanpa bisa kutahan. "Aku akan membantumu kembali ke perahu."
Aku mulai berenang mundur, menarik tubuhnya bersamaku menuju tangga perahu motor yang bergoyang-goyang. Anggota rombongan lain mulai mendekat, bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku mengabaikan mereka semua. Fokusku hanya pada satu hal: memastikan dia aman.
Saat kami mencapai tangga, aku membantunya naik lebih dulu. Begitu tangannya meraih pegangan besi, dia berhenti sejenak dan menoleh ke arahku. Sinar matahari siang itu menyorot wajahnya yang basah, menyingkapkan kesedihan dan kemarahan yang selama ini dia sembunyikan di balik senyum palsunya selama perjalanan ini.
"Kamu seharusnya tidak perlu melakukannya, Ris," bisiknya, c**up pelan agar hanya aku yang mendengar. "Kamu seharusnya membiarkan orang lain saja yang menolongku. Seperti caramu membiarkan aku sendirian dua tahun lalu."
Dia kemudian memanjat naik ke atas perahu tanpa menoleh lagi, meninggalkanku yang masih terpaku di dalam air yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Di atas sana, peserta lain mulai mengerumuninya, memberikan perhatian yang seharusnya menjadi hakku.
Aku masih berada di air, memandangi bayangan perahu yang menjauh perlahan. Rahasia yang kami simpan rapat-rapat selama perjalanan ini baru saja retak, dan aku tahu, setelah ini, berpura-pura menjadi orang asing akan menjadi misi yang mustahil. Namun, yang lebih menakutkan adalah tatapannya tadi; tatapan yang mengatakan bahwa luka yang kubuat ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar kram di tengah laut.
Aku menarik napas panjang, lalu membenamkan kepalaku kembali ke dalam air. Namun kali ini, aku tidak mencari ikan atau karang. Aku hanya ingin menyembunyikan mataku yang mulai terasa panas.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!