Asap Langit Jakarta: Kebangkitan Smog Master

Bab 1: Bab 1 - Menemukan kitab kuno di helm saat berteduh dari...

Pengaturan Membaca

Udara Jakarta sore ini tidak terasa seperti oksigen. Lebih mirip bubur timbal panas yang dipaksa ma**k ke paru-paru melalui sedotan sempit. Yoga terbatuk, sebuah suara parau yang membuat dadanya nyeri seolah baru saja dihantam palu godam. Di atas motor matic-nya yang bergetar hebat—warisan satu-satunya dari almarhum ayahnya yang ia panggil "Si Besi Tua"—Yoga menatap lautan merah lampu rem yang membentang tanpa ujung di sepanjang jalur SCBD.

"Ayolah, Si Hitam, jangan mati sekarang," bisik Yoga sambil menepuk tangki motornya. Suaranya tenggelam oleh deru mesin bus kota yang menyemburkan jelaga hitam tepat ke wajahnya.

Pandangannya mulai mengabur. Titik-titik hitam menari di tepian visinya. Bukan karena lapar—meskipun perutnya memang sudah melilit sejak siang tadi hanya diisi segelas kopi saset—tapi karena udara ini terasa lebih beracun dari biasanya. Kabut abu-abu yang menggantung di antara gedung pencakar langit PT. Mega Aruna tampak lebih pekat, hampir seperti makhluk hidup yang merayap turun untuk mencekik siapa pun di bawahnya.

Hujan mulai turun. Bukan hujan air yang menyegarkan, melainkan gerimis tipis yang membawa partikel abu knalpot, mengubah aspal menjadi licin dan udara menjadi pekat yang berbau logam busuk. Yoga memaksakan diri membelokkan motornya ke kolong jembatan layang yang sudah sesak oleh puluhan pengendara motor lain yang berteduh.

Yoga turun dengan kaki gemetar. Ia menyandarkan Si Hitam ke pilar beton yang penuh coretan grafiti, lalu melepas helm kusamnya. Kepalanya berdenyut hebat. Saat itulah, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam helmnya. Sesuatu yang keras dan tajam, menusuk ubun-ubunnya sejak dua jam terakhir.

"Si****, apa sih ini? Busa pelindung atau batu nisan?" umpatnya lirih.

Ia merogoh ke sela-sela busa helm yang sudah robek dan mulai hancur. Jarinya menyentuh sesuatu yang dingin, bertekstur seperti kulit kering namun sekeras plastik. Dengan sedikit paksaan, Yoga menarik benda itu keluar.

Itu bukan sampah. Itu adalah sebuah buklet tipis dengan sampul berwarna hitam legam yang tampak menyerap cahaya lampu jalanan. Di atasnya, tertulis kaligrafi kuno yang entah bagaimana bisa Yoga baca dengan jelas: *Kitab Pernapasan Jelaga*.

"Pernapasan Jelaga? Apa ini? Iklan filter AC atau komik indie?" Yoga mendengus sarkastik, mencoba menutupi rasa herannya. Namun, saat jemarinya menyentuh permukaan sampul, sebuah sengatan listrik statis merambat hingga ke bahunya.

Tiba-tiba, dunianya berputar.

Paru-paru Yoga terasa seakan menciut. Ia tersungkur, berlutut di atas aspal yang kotor oleh tumpahan oli dan air hujan. Oksigen seolah menghilang dari radius satu meter di sekitarnya. Di tengah sesak yang mencekik, ia melihat asap knalpot dari ribuan kendaraan di jalanan itu tidak lagi terbang acak. Asap-asap itu membentuk pusaran, merayap seperti ular-ular hitam menuju ke arahnya.

*Hirup...* Sebuah suara parau bergema di dalam kepalanya, bukan berasal dari telinga, tapi langsung dari sumsum tulangnya. *Hirup penderitaan kota ini. Telan racunnya, ubah menjadi napasmu.*

Yoga ingin berteriak, tapi yang keluar hanyalah sedu sedan yang menyakitkan. Penglihatannya menggelap sepenuhnya. Di ambang pingsan, tangannya secara tidak sadar mencengkeram kitab itu erat-erat. Lembaran kitab itu terbuka dengan sendirinya, memancarkan aura hitam yang lebih gelap dari malam paling kelam di Jakarta.

Secara instinktif, Yoga menarik napas panjang.

Ia tidak menghirup udara. Ia menghirup jelaga. Ia menghirup karbon monoksida, bau karet terbakar, dan sisa pembakaran bensin yang tidak sempurna. Namun, alih-alih mati tersedak, Yoga merasakan sensasi dingin yang luar biasa menjalar dari tenggorokannya ke seluruh pembuluh darahnya.

Nyeri di dadanya lenyap seketika. Tubuhnya yang ringkih dan malnutrisi tiba-tiba dialiri tenaga yang meledak-ledak. Matanya terbuka lebar, dan untuk pertama kalinya, ia bisa melihat "warna" dari polusi itu. Ada semburat ungu gelap yang memancar dari emosi negatif para pengendara yang terjebak macet—amarah, depresi, keputusasaan—semuanya menyatu dengan asap knalpot.

Yoga berdiri dengan tegak. Gerakan tubuhnya terasa ringan, seolah gravitasi tidak lagi berkuasa penuh atas dirinya. Ia menatap telapak tangannya; ada garis-garis hitam tipis yang merayap di bawah kulitnya sebelum menghilang di balik nadinya.

"G***..." Yoga berbisik. Suaranya kini memiliki gema yang berat, seolah ada badai yang tertahan di tenggorokannya.

Ia melihat ke sekeliling. Orang-orang di sekitarnya masih sibuk mengeluh tentang hujan, sibuk mengelap kaca spion, atau memaki kemacetan yang tidak bergerak. Tak ada yang menyadari bahwa pemuda ojek online di samping pilar itu baru saja menelan sebagian kecil dari "racun" kota mereka.

Pandangan Yoga terjatuh pada gedung PT. Mega Aruna yang menjulang angkuh di seberang jalan. Di mata barunya, gedung itu tidak lagi terlihat seperti kantor korporat biasa. Ada aliran energi hitam yang luar biasa besar, seperti pusaran air raksasa, yang ditarik dari kemacetan di bawahnya menuju puncak gedung tersebut.

Sesuatu di sana sedang berpesta pora atas penderitaan warga Jakarta.

Yoga mencengkeram stang Si Hitam. Getaran motornya kini terasa selaras dengan denyut jantungnya. Ia merasa bukan lagi sekadar pengantar makanan atau penumpang yang tidak berarti. Ada kekuatan asing yang bersemayam di perutnya, menuntut untuk diberi makan lebih banyak.

Tiba-tiba, ponsel di dasbor motornya bergetar. Sebuah notifikasi pesanan ma**k.

*Nama Pelanggan: Anonim.*

*Lokasi Penjemputan: Lobi Utama PT. Mega Aruna.*

*Catatan: Jangan terlambat. Asap sudah c**up tebal malam ini.*

Yoga menyipitkan mata. Ia baru saja mendapatkan kekuatan yang tak ma**k akal, dan sekarang gedung misterius itu memanggilnya. Dengan senyum miring yang penuh sarkasme namun mematikan, ia mengenakan helmnya kembali.

"Oke, kalau kalian mau bermain dengan asap," gumam Yoga sambil menarik gas motornya, menciptakan suara deru yang lebih garang dari sebelumnya, "biar kutunjukkan siapa master sebenarnya di jalanan ini."

Si Hitam melesat membelah kemacetan, meninggalkan jejak asap yang entah bagaimana, perlahan-lahan menghilang ditelan oleh punggung Yoga.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca