Getaran di stang Si Putih—motor matic kesayanganku—terasa lebih hebat dari biasanya. Bukan karena mesinnya yang sudah minta turun mesin, tapi karena aspal di bawah bannya sedang beradu dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Di belakangku, raungan mesin empat silinder dari tiga motor sport hitam milik tim keamanan Mega Aruna terus mengejar, memecah kesunyian jalan layang non-tol yang pembangunannya terbengkalai ini.
"Si****, mereka benar-benar niat," gumamku di balik kaca helm yang sudah baret-baret.
Aku melirik spion kiri. Cahaya lampu depan motor-motor itu tampak seperti mata i**** yang mengint** di tengah kegelapan. Mereka bukan sekadar satpam gedung. Cara mereka bermanuver, cara mereka memotong angin, dan aura dingin yang memancar dari setelan taktis mereka memberitahuku satu hal: mereka adalah prajurit Sekte I**** Penjerat Jiwa.
Aku mengambil napas dalam-dalam. Paru-paruku tidak lagi terasa sesak oleh karbon monoksida. Sebaliknya, setiap molekul polusi yang kuhirup dari udara malam Jakarta yang pekat ini terasa seperti bensin yang menyiram api di dalam dadaku. *Kitab Pernapasan Jelaga* bereaksi. Jantungku berdentum seirama dengan langkah-langkah energi yang mengalir ke ujung jemariku.
"Ayo, Putih. Jangan bikin malu bapak di surga," bisikku, mengelus pelan speedometer yang lampunya sudah mati total.
Aku menarik tuas gas lebih dalam. Udara di sekitarku mulai memadat, berubah warna menjadi keabu-abuan. Inilah teknik 'Langkah Kabut Karbon'. Secara kasat mata, motor matic-ku seolah-olah mengeluarkan asap knalpot yang sangat tebal, namun di level energi, aku sedang menciptakan jalur licin yang hanya bisa kunavigasi sendiri.
*Croot!*
Sebuah proyektil melesat melewati telingaku, menghantam beton pembatas jalan hingga hancur berkeping-keping. Itu bukan peluru biasa. Ada kilatan ungu gelap di bekas hantamannya—energi pemanen jiwa.
"Woy! Motor cicilan ini belum lunas!" teriakku spontan, meski suaraku tertelan angin.
Di depanku, jalan layang ini berakhir. Secara harfiah berakhir. Ujung betonnya terputus, menyisakan jurang gelap setinggi dua puluh meter yang langsung mengarah ke keruwetan kabel tiang listrik dan atap seng rumah warga di bawah sana. Para pengejarku menyadari hal itu. Mereka mulai berpencar, mencoba menjepitku agar aku tidak punya pilihan selain mengerem mendadak dan menyerah.
Salah satu motor sport itu berhasil menyejajarkan posisinya denganku. Pengendaranya menggunakan helm *full-face* hitam legam dengan visor merah menyala. Dia mengayunkan sebuah tongkat pendek yang kemudian memanjang menjadi tombak energi.
"Serahkan Kitab itu, Yoga! Kau hanya sampah jalanan yang tidak pantas menyentuh rahasia keabadian!" suaranya menggema langsung di dalam kepalaku, parau dan penuh kebencian.
"Sampah jalanan ini yang biasanya nganterin makanan kalian tepat waktu, Bos!" balasku sarkastik.
Aku memutar stang mendadak, menab**kkan bodi Si Putih ke motor sport mahal itu. Tentu saja, secara logika, motor matic-ku akan terpental. Tapi saat ini, tubuhku adalah spons bagi polusi Jakarta. Aku menyedot sisa-sisa emosi negatif—kemarahan para pekerja yang terjebak macet di bawah sana, frustrasi para pengemudi truk, dan ambisi busuk Mega Aruna—lalu menyalurkannya ke ban motor.
*B**k!*
Motor sport itu justru terhuyung. Pengendaranya tampak terkejut melihat matic ringsek ini memiliki massa seberat truk kont**ner. Memanfaatkan momentum itu, aku melihat tumpukan material konstruksi yang ditutupi terpal di ujung jalan yang putus. Sebuah gundukan pasir dan besi tulangan yang membentuk sudut kemiringan sempurna.
"G***... aku benar-benar g***," rintihku. Tanganku gemetar, tapi bukan karena takut. Ini adrenalin. Ini adalah perasaan hidup yang tidak pernah kudapatkan selama ribuan kilometer mengantar paket.
Aku tidak mengerem. Justru sebaliknya, aku memutar gas sampai mentok. Aku bisa merasakan Si Putih menjerit, pistonnya bekerja melampaui batas kewajaran. Di belakang, dua pengejar lainnya melepaskan tembakan energi bertubi-tubi.
"Pernapasan Jelaga: Dorongan Knalpot Langit!"
Aku memuntahkan seluruh energi polusi yang kuserap sejak tadi melalui sistem pembuangan motor. Ledakan asap hitam pekat mendorongku melesat maju seperti roket. Si Putih menghantam gundukan material itu dan terbang melewati ujung beton jalan layang.
Dunia seakan melambat. Aku melayang di udara malam Jakarta. Di bawahku, lampu-lampu kota berkedip seperti bintang-bintang yang terjatuh di kubangan lumpur. Angin kencang menerpa wajahku, membawa aroma sate ayam, selokan, dan bensin—bau rumahku.
Para pengejarku berhenti tepat di tepi jurang beton. Mereka tidak berani melompat. Dari ketinggian ini, aku bisa melihat sosok di motor sport tadi membuka helmnya. Matanya merah menyala, menatapku dengan kebencian murni.
Namun, kepuasan melarikan diri itu hanya bertahan sekejap. Saat Si Putih mulai menukik turun menuju atap sebuah gudang tua di bawah sana, aku menyadari sesuatu yang membuat darahku membeku. Di atap gudang itu, sudah berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas rapi berwarna abu-abu. Ia memegang payung hitam meskipun tidak sedang hujan.
Pria itu hanya berdiri diam, menatap ke arahku yang sedang meluncur jatuh. Namun, tekanan udara di sekitar gudang itu tiba-tiba berubah menjadi sangat berat, seolah-olah oksigen telah dicabut paksa dari atmosfer.
"Yoga," sebuah suara lembut namun berwibawa merambat di udara, menghentikan detak jantungku untuk sesaat. "Selamat datang di meja perundingan."
Gudang itu bukan tempat mendarat yang aman. Itu adalah jebakan yang sudah disiapkan sejak awal. Dan sebelum roda motor matic-ku menyentuh atap, pria berpayung itu mengangkat tangan kirinya, membuat asap hitam di sekitarku membeku menjadi rant**-rant** yang siap menjerat.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!