Udara malam di atas flyover Casablanca ini tidak pernah benar-benar dingin. Panas sisa aspal yang terpanggang matahari seharian masih menguap, bercampur dengan aroma timbal dan sisa pembakaran mesin yang menggantung berat di atmosfer. Aku bersandar pada jok motor matic-kuβsatu-satunya warisan almarhum Bapak yang catnya sudah memudarβsambil mengatur napas. Di bawah sana, kemacetan Jakarta masih berdenyut seperti luka yang tak kunjung kering, meski jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Aku merogoh saku jaket ojolku yang mulai dekil, meraba tepian 'Kitab Pernapasan Jelaga' yang kini hanya berupa lembaran energi tak kasat mata di dalam benakku. Di halaman virtual yang terbuka di kepalaku, tertulis satu teknik baru: *Langkah Bayangan Knalpot*.
"Kalau cuma lari cepat, atlet lari juga bisa," gumamku, lalu terbatuk kecil. Rasa gatal di tenggorokanku kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar radang tenggorokan karena kebanyakan gorengan pinggir jalan, tapi sesuatu yang lebih tajam. Seperti ada duri-duri kecil dari jelaga yang merayap di saluran pernapasan.
Aku mencoba memusatkan fokus. Sesuai instruksi kitab, aku mulai menarik napas panjang. Aku tidak mencari oksigen. Aku mencari karbon monoksida, sulfur, dan segala partikel PM2.5 yang melayang di sekitarku. Aku membiarkan polusi itu ma**k, bukan ke paru-paru biologisku, melainkan ke dalam sirkulasi energi yang mulai membentuk pola di dadaku.
*Sret!*
Aku mencoba melangkah. Kakiku terasa berat, seolah dipa**ng oleh beban ratusan kilogram. Aku tersungkur, lututku menghantam aspal keras. "Si****," umpatku sambil meringis.
Masalahnya bukan pada tekniknya, tapi pada 'bahan bakar' yang aku simpan. Aku memejamkan mata dan mencoba melihat ke dalam diriku sendiri melalui mata batin. Di sana, di pusat kultivasiku, paru-paru spiritualku yang seharusnya transparan kini mulai terlihat mengerikan. Warnanya bukan lagi kelabu, melainkan hitam pekat, sehitam oli bekas yang sudah dipakai ribuan kilometer. Hitamnya berkilat, tampak berminyak, dan yang paling menakutkan: warna hitam itu mulai menjalar ke pembuluh nadi spiritualku.
Beban mental itu menghantamku seketika. Setiap kali aku menyerap polusi untuk menjadi kuat, aku merasa seperti sedang menukar sisa umurku dengan kekuatan s****. Ada rasa dingin yang menjalar, sebuah depresi kolektif dari jutaan orang yang terjebak macet di bawah sana, yang ikut terserap bersama asap knalpot. Amarah mereka, kelelahan mereka, keputusasaan merekaβsemuanya menggumpal di dadaku.
"Yoga, fokus. Kalau lu mati di sini, motor lu bakal ditarik lising karena cicilannya belum lunas," bisikku pada diri sendiri, sebuah mantra sarkastik yang anehnya selalu berhasil memacu adrenalin.
Aku berdiri lagi. Kali ini, aku membayangkan tubuhku bukan lagi daging dan tulang, melainkan kumpulan asap yang keluar dari moncong knalpot bus kota yang sedang mengepul hebat. Aku membiarkan emosi negatif dari kemacetan SCBD yang tadi sore kulewati mengalir menjadi motor penggerak.
*Langkah Bayangan Knalpot.*
Kali ini, saat kakiku menapak, tidak ada suara benturan. Aku merasa tubuhku merenggang, menjadi tipis, dan menyatu dengan kabut polusi yang menyelimuti flyover. Dalam satu kedipan mata, aku sudah berada sepuluh meter di depan. Aku bergerak tanpa suara, seperti bayangan yang tersapu angin. Rasanya seperti meluncur di atas lapisan minyak. Cepat, licin, dan tak teraba.
Aku mencobanya lagi. Kali ini lebih jauh. Aku melompat dari pagar pembatas flyover, melayang di udara, dan sebelum gravitasi menarikku jatuh ke aspal di bawah, tubuhku berubah menjadi kepulan asap hitam yang bergerak zigzag di antara celah-celah mobil yang merayap.
Namun, saat aku mendarat di atas atap sebuah gedung parkir kosong di dekat Kuningan, dadaku mendadak seperti diremas tangan raksasa.
"Uhukk! Hookk!"
Aku jatuh berlutut, memegangi dadaku yang terasa terbakar. Aku memuntahkan sesuatu ke lant** semen. Bukan darah merah segar. Yang keluar dari mulutku adalah cairan kental berwarna hitam pekat yang mengeluarkan bau seperti karet terbakar dan keputusasaan.
"Sial... ini terlalu cepat," napasku tersengal, mataku perih.
Aku melihat ke telapak tanganku. Urat-urat di tanganku kini berwarna hitam, menonjol di balik kulit. Kitab Pernapasan Jelaga memberiku kekuatan untuk bergerak secepat asap, tapi sebagai gantinya, ia mengubah esensi jiwaku menjadi polusi itu sendiri. Aku bisa merasakan paru-paru spiritualku berdenyut, menolak untuk dibersihkan. Semakin kuat aku, semakin hitam jiwaku.
Tiba-tiba, telingaku yang kini lebih tajam menangkap frekuensi aneh. Dari arah gedung PT. Mega Aruna yang menjulang angkuh di seberang sana, getaran energi yang sama dengan kegelapan di paru-paruku terasa berdenyut kuat. Bukan cuma satu, tapi ribuan energi depresi warga Jakarta sedang ditarik secara paksa menuju puncak gedung itu, seperti pusaran air raksasa di langit yang tersembunyi oleh gelap malam.
Aku mendongak, menyeka sisa cairan hitam di bibirku. Di puncak gedung itu, samar-samar aku melihat bayangan merah berpendar. Sesuatu sedang dipersiapkan di sana, dan itu bukan sekadar rapat korporat biasa.
"Jadi ini alasan kenapa macet di Jakarta nggak pernah sembuh," bisikku, suaraku kini terdengar lebih parau, seperti gesekan logam. "Kalian sengaja bikin kami menderita supaya bisa panen energi ini?"
Satu pesan ma**k berbunyi dari ponsel di holder motor yang kutinggalkan di flyover tadi. Aku menggunakan *Langkah Bayangan Knalpot* sekali lagi, kembali ke motor dalam sekejap, mengabaikan rasa sakit yang menghujam dada.
Layar ponsel menyala, menampilkan notifikasi orderan baru. Tapi bukan dari pelanggan biasa. Nama pemesannya kosong, namun titik jemputnya berada tepat di lobi utama PT. Mega Aruna, dengan pesan tambahan singkat yang membuat bulu kudukku berdiri:
*"Kami tahu kamu sedang memperhatikan, Smog Master. Kemarilah, jelaga di paru-parumu butuh pemantik agar menjadi api."*
Tanganku gemetar saat memegang stang motor. Aku punya pilihan: kabur dan membiarkan paru-paruku membusuk perlahan, atau ma**k ke sarang serigala itu dan mencari tahu cara menghentikan keg***an ini.
Aku memakai helmku, mengklik penguncinya dengan mantap. "Oke, mari kita lihat seberapa besar tip yang kalian kasih buat pengantar nyawa."
Aku menarik gas, dan kali ini, asap yang keluar dari knalpot motorku bukan lagi berwarna putih, melainkan hitam pekat yang seolah memiliki nyawa sendiri, menyelimuti keberadaanku saat aku meluncur menembus malam menuju gedung terkutuk itu.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!