Aroma kopi saset yang terlalu manis bercampur dengan bau aspal panas dan asap knalpot menyengat di bawah kolong *flyover* Kuningan. Yoga memarkirkan motor matic kesayangannya—si 'Kancil'—dengan hati-hati, memastikan standar sampingnya menapak di tanah yang agak rata. Di depannya, belasan jaket hijau yang sudah pudar warnanya tampak kusam, kontras dengan kilau kaca gedung PT. Mega Aruna yang menjulang angkuh beberapa ratus meter dari sana.
Yoga mengatur napasnya. Setiap tarikan napasnya bukan lagi sekadar oksigen; ia merasakan partikel jelaga ma**k ke paru-parunya, disaring oleh sirkulasi energi *Kitab Pernapasan Jelaga* yang kini berdenyut di dadanya. Baginya, udara Jakarta yang beracun adalah a**pan tenaga, tapi bagi kawan-kawannya yang sedang selonjoran di atas ubin semen itu, udara ini adalah beban yang perlahan membunuh mereka.
"Bang Jaka, sepi tarikan?" Yoga menyapa seorang pria paruh baya yang sedang memijat betisnya yang kaku.
Jaka menoleh, matanya merah karena iritasi debu dan kurang tidur. "Boro-boro ganti ban, Yog. Ini aplikasi gagu dari pagi. Macet di depan situ kayak dikasih lem, nggak gerak-gerak. Padahal bukan jam pulang kantor."
Yoga duduk di samping Jaka, pandangannya tertuju pada kabut tipis berwarna keunguan yang hanya bisa ia lihat, yang menyelimuti area sekitar gedung Mega Aruna. Kabut itu bukan polusi biasa. Itu adalah *Miasma Depresi*, energi negatif yang dipanen dari ribuan orang yang frustrasi di tengah kemacetan.
"Itu bukan macet biasa, Bang," bisik Yoga pelan, suaranya berat. "Abang ngerasa nggak sih, tiap lewat daerah sini, dada rasanya sesak? Bukan cuma karena asep, tapi kayak ada yang narik semangat hidup Abang?"
Beberapa *driver* lain yang sedang menyeruput es teh manis mulai menoleh. Salah satunya, pemuda bernama Dedi, tertawa sinis. "Yaelah, Yog. Namanya juga Jakarta. Kalau mau sejuk ya ke Puncak, jangan jadi ojol. Lo kebanyakan baca komik di sela-sela nunggu *orderan* ya?"
"Gue serius, Ded. Bang Jaka," Yoga mengedarkan pandangan, menatap wajah-wajah kuyu di sekelilingnya. "Kalian sadar nggak, kenapa setiap hari macetnya makin nggak ma**k akal? Mega Aruna itu bukan cuma perusahaan properti. Mereka sengaja bikin kita stres. Makin kita marah, makin kita depresi di jalan, mereka makin kaya. Mereka panen energi kita."
Hening sejenak. Kemudian, tawa pecah dari sudut warkop.
"Wah, parah nih si Yoga. Kena panas dikit langsung konslet otaknya," celetuk seorang *driver* senior sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. "Udah, Yog, mending lo cari jalan tikus sana. Tuh, di aplikasi gue kelihatan area Menteng lagi merah, mending narik ke sana daripada ngajak kita demo klenik begini."
Yoga meremas jemarinya. Ia bisa merasakan aliran energi jelaga di dalam nadinya mulai bergejolak, merespons rasa frustrasinya sendiri. Ia ingin menunjukkan pada mereka—ingin melepaskan pukulan angin hitam untuk menghancurkan beton di depan mereka agar mereka percaya. Namun, ia tahu kekerasan bukan caranya.
"Gue nggak ngajak kalian demo," Yoga berdiri, suaranya tenang namun menggelegar, membuat tawa di warkop itu perlahan surut. "Gue cuma mau kalian sadar. Pernah nggak kalian ngerasa, seberapa banyak pun kalian kerja, duitnya abis gitu aja buat obat, buat benerin motor yang rusak nggak wajar? Itu karena energi kalian dikuras."
Yoga mendekati Bang Jaka, lalu meletakkan tangannya di bahu pria itu. Diam-diam, Yoga mengaktifkan teknik 'Penyaring Polusi'. Ia menarik beban berat yang menempel di pundak Jaka—sebuah gumpalan aura abu-abu pekat yang menyedot vitalitas Jaka—ke dalam telapak tangannya sendiri.
Jaka tersentak. Matanya membelalak. Tiba-tiba, napasnya terasa ringan. Rasa pegal di pundaknya yang sudah berbulan-bulan menetap lenyap seketika. "Loh... kok... Yoga, lo ngapain?"
"Gue cuma buang dikit 'sampah' yang nempel di Abang," ujar Yoga. "Itu yang gue maksud. Kita semua dianggap sampah sama orang-orang di gedung tinggi itu. Tapi sampah kalau dikumpulin, bisa jadi api, Bang."
Dedi dan yang lainnya mulai bangkit, melihat perubahan ekspresi Jaka yang tampak jauh lebih segar. Keraguan mulai terkikis, digantikan rasa penasaran yang mendalam.
"Gimana caranya, Yog?" tanya Dedi, suaranya kini tak lagi mengejek. "Kita ini cuma remah-remah rengginang. Punya motor aja masih nyicil."
Yoga menunjuk ke arah gedung Mega Aruna yang puncaknya tertutup kabut hitam pekat. "Mereka butuh keputusasaan kita. Jadi, langkah pertama adalah berhenti jadi putus asa. Gue butuh kalian buat pantau titik-titik kemacetan yang nggak wajar. Gue bakal ajarin kalian cara 'napas' yang bener supaya energi kalian nggak dimaling."
Baru saja Yoga hendak menjelaskan lebih lanjut, ponsel semua orang di warkop itu berbunyi serentak. Bukan bunyi *orderan* ma**k yang biasa, melainkan sebuah notifikasi peringatan berwarna merah darah di layar aplikasi mereka.
*SISTEM ERROR: Pelanggaran Kode Etik Terdeteksi di Koordinat Anda. Akun Ditangguhkan Sementara.*
Wajah para *driver* berubah pucat. Bagi mereka, akun yang ditangguhkan berarti tidak ada uang untuk makan esok hari.
Yoga mendongak, menatap kamera CCTV yang terpasang di tiang listrik tepat di atas warkop mereka. Lensa kamera itu mengeluarkan cahaya merah kecil yang berkedip cepat, seolah sedang tertawa. Di kejauhan, pintu gerbang utama PT. Mega Aruna terbuka, dan beberapa mobil SUV hitam meluncur keluar dengan kecepatan tinggi menuju ke arah mereka.
"Mereka denger kita," desis Yoga, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. "Dan mereka nggak suka kalau makanannya mulai melawan."
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!