Kerah kemeja putih ini mencekik leherku lebih kencang daripada polusi di perempatan Harmoni pada jam pulang kerja. Aku mematut diri di depan cermin toilet karyawan yang dingin dan steril, merapikan rompi hitam yang terasa terlalu kaku di tubuhku yang terbiasa dibalut jaket hijau kusam.
Wajahku terlihat asing. Tanpa sisa jelaga di dahi atau bau bensin yang menempel di pori-pori, aku terlihat seperti pemuda Jakarta kelas menengah lainnya yang mencoba mengais keberuntungan. Tapi di balik kain katun ini, *Kitab Pernapasan Jelaga* di dalam paru-paruku berdenyut, seolah-olah sedang memberontak melawan udara di dalam Aruna Tower yang terlalu bersih—terlalu difilter.
"Yoga! Cepat bawa baki ini ke *Ballroom*. Jangan sampai wajah melasmu merusak nafsu makan para petinggi," bentak seorang pria tambun berseragam kepala pelayan.
Aku hanya mengangguk pelan, menekan keinginan untuk menyemburkan sisa asap knalpot dari paru-paruku tepat ke wajahnya yang berminyak. Aku mengambil baki perak berisi deretan gelas kristal berisi cairan merah pekat, lalu melangkah keluar.
Begitu pintu ganda berlapis emas menuju *Ballroom* terbuka, sebuah gelombang energi menghantam dadaku. Bukan energi yang hangat atau menenangkan, melainkan hawa dingin yang mengisap.
Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya ke arah para tamu yang mengenakan gaun dan tuksedo seharga satu unit motor matic-ku. Namun, bukan kemewahan itu yang membuat perutku mual. Melalui mata batin yang mulai terbuka sejak aku melatih pernapasan jelaga, aku melihat benang-benang hitam tipis yang menjulur dari lant**, menembus kaca-kaca jendela besar yang menampilkan pemandangan kemacetan Jakarta di bawah sana.
Gedung ini adalah pompa raksasa. Dan orang-orang di ruangan ini adalah parasitnya.
"Sangat halus, bukan?" bisik sebuah suara di dekatku.
Aku tersentak, hampir menjatuhkan baki. Seorang pria tua dengan rambut klimis dan pin emas berbentuk logo Mega Aruna di kerah jasnya menyesap *wine* dari gelasnya. Matanya yang tajam seolah bisa melihat menembus samaran pelayanku.
"Ya, Tuan. Minuman yang sangat berkualitas," jawabku dengan suara yang sengaja diparaukan, berusaha menjaga kepalaku tetap menunduk.
Pria itu terkekeh, tapi tawanya tidak sampai ke mata. "Bukan minumannya, Nak. Tapi sensasinya. Merasakan keputusasaan jutaan orang yang terjebak di bawah sana, lalu menyaringnya menjadi kebahagiaan murni di gelas ini. Itu adalah puncak dari segala pencapaian."
Aku memandang cairan di dalam gelasnya. Di bawah cahaya lampu, *wine* itu tidak hanya berwarna merah. Ada semburat abu-abu yang berputar-putar di dalamnya—warna yang sangat kukenal. Itu adalah warna asap knalpot, warna langit Jakarta saat mendung, dan warna lelah di wajah sesama pengemudi ojek online saat mereka menunggu pesanan ma**k.
Mereka benar-benar melakukannya. Mereka memanen depresi warga Jakarta. Setiap klakson yang dibunyikan dalam kemacetan, setiap makian karena keterlambatan, semuanya adalah nutrisi bagi orang-orang ini.
"Tuangkan lagi," perintahnya sambil menyodorkan gelas.
Tanganku sedikit gemetar saat mengangkat botol. Saat cairan itu mengalir, aku secara tidak sengaja mengaktifkan indra pernasapanku. Seketika, rasa pahit yang luar biasa menusuk lidah imajinerku. Rasanya seperti meminum keringat dan air mata yang dicampur dengan aspal panas. Perutku memberontak. Aku harus menelan ludah berkali-kali untuk mencegah diriku muntah tepat di depan salah satu petinggi Sekte I**** ini.
"Kamu terlihat pucat," pria itu berkomentar, matanya menyipit penuh selidik. "Apa udara di sini terlalu bersih untuk paru-paru kelas bawahmu?"
"Maaf, Tuan. Saya hanya sedikit pusing karena AC-nya terlalu dingin," kilahku.
Aku segera melipir, menghilang di balik pilar marmer besar. Napas kusatukan dengan detak jantung, mencoba menstabilkan energi yang bergejolak. Di sudut ruangan, aku melihat seorang wanita dengan gaun merah darah berdiri di dekat podium utama. Di belakangnya, sebuah layar digital besar menampilkan peta *real-time* kemacetan Jakarta. Titik-titik merah pekat berdenyut seperti luka yang meradang, dan di setiap titik itu, energi hitam ditarik menuju Aruna Tower.
Wanita itu adalah CEO Mega Aruna. Auranya begitu pekat hingga udara di sekitarnya tampak bergetar. Dia bukan sekadar manusia yang berkultivasi; dia adalah lubang hitam yang siap menelan seluruh kota.
Tiba-tiba, telingaku menangkap suara dengung halus dari bawah lant**. Getarannya berbeda dengan mesin AC. Ini adalah getaran formasi kuno. Hatiku mencelos. Mereka tidak hanya merayakan keuntungan kuartal ini; mereka sedang mempersiapkan ritual pemangg***n.
Aku meraba saku celanaku, memastikan ponsel bututku masih ada di sana. Aku harus mengambil foto atau video sebagai bukti untuk informanku, tapi risiko tertangkap di sini berarti nyawaku—dan yang lebih penting, nasib motor Vario kesayanganku yang terparkir di basement—akan berakhir.
Tepat saat aku hendak mengeluarkan ponsel, semua lampu di *Ballroom* meredup secara serentak. Hening yang mencekam jatuh, hanya menyisakan deru napas ratusan elit yang penuh antisipasi.
"Selamat malam, Saudara-saudaraku," suara CEO wanita itu bergema tanpa mikrofon, memenuhi setiap sudut ruangan dengan kekuatan yang menekan paru-paru. "Malam ini, Jakarta akan memberikan persembahan terakhirnya."
Aku merasakan udara di sekitarku mendadak menipis. Oksigen seolah disedot keluar dari ruangan, digantikan oleh aroma belerang dan karet terbakar yang sangat menyengat. Para tamu mulai mengerang, tapi bukan karena kesakitan—mereka sedang mengalami ekstasi spiritual.
Lalu, sebuah alarm melengking di kepalaku. Bukan alarm gedung, melainkan insting Smog Master-ku. Kitab Pernapasan Jelaga di dalam dadaku memanas hingga rasanya seperti membakar tulang rusuk. Seseorang sedang memindai ruangan ini dengan energi mental yang luar biasa kuat.
"Ada tikus di antara kita," ucap wanita itu tenang, matanya yang kini bersinar merah langsung tertuju ke arah pilar tempatku bersembunyi.
Sial. Aku lupa satu hal: bagi predator yang biasa memakan polusi emosi, keberadaan seseorang dengan basis kultivasi murni jelaga sepertiku di ruangan yang 'suci' ini ibarat setitik tinta hitam di atas kain kafan putih.
Lampu sorot utama tiba-tiba berputar dan berhenti tepat di wajahku. Ratusan mata kini menatapku, dan aku bisa merasakan niat membunuh yang pekat mulai memenuhi ruangan. Mataku melirik ke arah jendela kaca besar di sampingku. Hanya ada satu jalan keluar, tapi itu melibatkan terjun bebas dari lant** 50.
Aku mengepalkan tangan, merasakan sisa-sisa polusi dari knalpot bus kota yang tadi kuserap di jalanan mulai berkumpul di telapak tanganku. Jika aku harus mati di sini, setidaknya aku akan memastikan mereka mencicipi rasa sesak yang dirasakan warga Jakarta setiap hari.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!