Lant** enam puluh enam Mega Aruna Tower tidak berbau seperti kantor pada umumnya. Tidak ada aroma kopi mahal atau pembersih lant** yang segar. Di sini, udara terasa berat, kental dengan bau logam panas dan aspal yang terbakar matahari, seolah-olah seluruh polusi dari perempatan Kuningan dikompresi ke dalam satu ruangan berlapis kaca antipeluru.
Aku melangkah keluar dari lift dengan sepatu kets yang solnya hampir lepas. Jaket hijau ojek online-ku yang memudar terasa seperti baju besi yang tidak memadai. Di telapak tanganku, uap kelabu berputar-putarβhasil serapan polusi dari kemacetan g***-g***an di bawah tadi. Itu adalah bahan bakarku, energiku. Namun, saat menatap sosok yang berdiri di balik meja m***gani raksasa itu, nyaliku ciut sesaat.
"Kau tahu, Yoga," suara itu rendah, bergetar seperti deru mesin bus kota yang bobrok. "Banyak orang mengeluh soal macet. Mereka bilang itu kutukan Jakarta. Padahal, itu adalah simfoni. Energi murni dari ketidaksabaran manusia."
Pria itu berbalik. Namanya tertulis di majalah-majalah bisnis sebagai Aditya Aruna, filantropis dan raja properti. Tapi di mataku, yang kulihat adalah pusaran hitam pekat. Kulitnya sepucat kertas, kontras dengan setelan jas seharga satu unit motor matic baruku.
"Jadi ini hobi barumu, Pak CEO? Bikin orang stres di jalan cuma buat kasih makan s**** di dalam tubuhmu?" aku meludah ke lant** marmer yang mengkilap. Aku mengepalkan tangan, merasakan 'Kitab Pernapasan Jelaga' berdenyut di dalam pikiranku, menuntut aksi.
Aditya tersenyum tipis. "Sebut saja ini manajemen sumber daya. Kau, sebagai pengisap polusi rendahan, harusnya berterima kasih. Tanpa kemacetan yang kubangun, kau hanya pemuda kurus yang mati kelaparan."
"Aku lebih suka lapar daripada jadi budakmu," desisku.
Aku tidak menunggu lama. Aku menarik napas dalam-dalam, paru-paruku memproses jelaga menjadi kekuatan murni. Aku melesat maju, telapak tanganku menyala dengan api abu-abuβ*Jurus Knalpot Neraka*. Kecepatanku biasanya c**up untuk menyalip celah sempit di antara dua truk kont**ner, tapi di sini, sesuatu yang aneh terjadi.
Saat tinjuku hampir mencapai wajah pucat Aditya, dunia di sekitarku seolah melambat. Bukan karena refleksku yang membaik, tapi karena ruang itu sendiri menjadi... macet.
Gerakanku terasa berat, seperti ditarik oleh ribuan tangan yang tak terlihat. Udara di sekitarku mengental menjadi sekeras semen. Aku bisa melihat tetesan keringatku sendiri menggantung di udara, bergerak lebih lambat daripada siput.
"Di gedung ini, akulah yang memegang kendali atas lampu merah kehidupanmu," ucap Aditya tenang. Dia berjalan dengan sant**, mengitari tubuhku yang mematung di tengah serangan. "Kau bergerak terlalu terburu-buru, seperti pengantar paket yang dikejar rating."
Dia menyentuh bahuku dengan satu jari. Sensasinya seperti dihantam oleh beban satu unit bus TransJakarta. Tulang bahuku berderak. Aku terjerembap, menghantam lant** dengan suara berdebam yang menyesakkan.
"Ugh..." aku berusaha bangkit, tapi gravitasi di ruangan ini terasa berkali-kali lipat lebih kuat.
"Selamat datang di *Gridlock Domain*," bisik Aditya, berdiri tepat di atasku. "Di sini, tidak ada jalan tikus. Tidak ada jalur TransJakarta untuk kau curi. Hanya ada penantian abadi."
Aku memaksakan diri untuk memanggil sisa-sisa energi jelaga dari dalam pusarku. "Jangan... meremehkan... ojol!"
Aku melepaskan ledakan asap hitam dari pori-pori kulitku, mencoba membutakan pandangannya. Namun, Aditya hanya melambaikan tangan, dan asap itu membeku di udara, kehilangan momentumnya sama sekali. Dia kemudian menendang perutku. Aku terpental, meluncur di atas lant** yang tiba-tiba terasa licin seperti tumpahan oli, lalu menghantam kaca jendela raksasa.
Kaca itu tidak pecah, tapi tubuhku rasanya remuk. Aku melihat ke bawah, ke arah jalanan Jakarta yang jauh di bawah sana. Ribuan lampu mobil terlihat seperti sungai lava yang tak bergerak. Aku menyadari sesuatu yang mengerikan: setiap kali klakson berbunyi di bawah sana, kekuatan Aditya justru berdenyut semakin kuat.
"Kau hanyalah residu, Yoga," kata Aditya, mendekat dengan langkah yang berirama. "Kau pikir dengan sedikit kultivasi dari asap knalpot, kau bisa menghentikan rencana besar Mega Aruna? Aku sudah mengatur kemacetan kota ini selama puluhan tahun untuk membangkitkan Sang Leluhur. Kau? Kau bahkan tak mampu membayar cicilan motormu tepat waktu."
Dia mengangkat kakinya, bersiap untuk mengakhiri segalanya. Tekanan di ruangan itu semakin menjadi-jadi, membuat penglihatanku mengabur. Paru-paruku terasa seperti diisi oleh timah cair. Aku mencari-cari celah, mencari satu saja jalur untuk melarikan diri, tapi ruang dan waktu di kantor ini telah dipelintir sedemikian rupa sehingga setiap pintu keluar terasa berjarak ribuan kilometer.
"Motor itu..." aku terbatuk, darah terasa asin di mulutku. "Satu-satunya peninggalan bokap gue..."
"Dan itu akan segera menjadi besi tua, sama sepertimu," Aditya mengangkat tangannya, dan di telapaknya muncul bola energi hitam yang memancarkan suara klakson yang m****akkan telinga.
Tepat sebelum dia melepaskan serangannya, alarm kebakaran di gedung itu tiba-tiba meraung. Sesuatu di luar rencana Aditya terjadi, tapi itu tidak c**up untuk menyelamatkanku dari hantaman energinya yang melempar tubuhku menembus pintu kayu jati yang kokoh, membuatku terjatuh ke lorong luar dalam kondisi nyaris pingsan.
Aku tergeletak di sana, napas tersengal, menyadari satu kenyataan pahit: aku bukan tandingan bagi penguasa kemacetan ini. Jika aku ingin menang, menyerap asap knalpot saja tidak akan c**up. Aku butuh sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang lebih beracun daripada sekadar polusi udara.
Langkah kaki Aditya yang berat terdengar mendekat dari dalam ruangan, setiap ketukan sepatunya di lant** marmer terdengar seperti vonis mati yang tertunda. Aku harus pergi, atau nyawakuβdan satu-satunya kenangan tentang ayahkuβakan lenyap di sini.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!