Pandanganku kabur, tertutup selapis kabut tipis yang bukan berasal dari polusi knalpot, melainkan dari sisa kesadaranku yang nyaris padam. Hal terakhir yang kuingat adalah benturan keras di dada—pukulan bertenaga batin dari salah satu algojo PT. Mega Aruna—dan rasa amis darah yang memenuhi tenggorokan. Aku sudah pasrah, mengira motor matic-ku akan disita dan tubuhku akan berakhir di selokan mampet daerah Kuningan.
Namun, indra penciumanku menangkap sesuatu yang asing. Bukan bau sulfur atau karbon monoksida yang biasa kuserap, melainkan aroma lemak yang terbakar, gurihnya ketumbar, dan bau minyak panas yang meletup-letup.
"Tahan napasmu, Bocah. Kalau kau tersedak sekarang, urusannya bakal panjang."
Suara itu berat dan parau. Aku mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan pandangan. Aku tidak sedang berada di alam baka. Aku terbaring di atas amben kayu kusam, di bawah naungan terpal biru yang bocor di beberapa titik. Di depanku, seorang pria paruh baya bertopi lusuh sedang sibuk mengipasi tusukan sate di atas panggangan panjang. Arang membara kemerahan, mengirimkan asap putih tebal langsung ke arah wajahku.
"Mang... Ujang?" bisikku serak. Aku mengenali wajah itu. Dia adalah penjual sate yang biasa mangkal di tikungan gang dekat kantorku dulu.
"Simpan tenagamu, Yoga," sahut seorang wanita dari balik wajan raksasa. Itu Bi Inah, penjual gorengan yang terkenal galak jika ada pelanggan yang mengambil tempe tanpa mengaku. Tapi sekarang, ekspresinya tenang, hampir berwibawa. "Dadamu retak. Napas Jelaga-mu berantakan. Kalau kami tidak memungutmu di trotoar tadi, kau sudah jadi hantu penunggu SCBD."
Aku mencoba bangkit, tapi rasa sakit yang menusuk di paru-paru memaksaku kembali terbaring. "Kenapa... kenapa kalian?"
Mang Ujang terkekeh, tangannya masih lincah membolak-balikkan sate. "Kau pikir hanya kau saja yang tahu cara bernapas di kota beracun ini? Kami sudah di sini sejak Jakarta masih penuh opelet. Kami adalah para penjaga trotoar, mereka yang tak terlihat di balik uap masakan dan debu jalanan."
Ia kemudian menghentikan kipasnya sejenak. "Dengar, Yoga. Luka dalammu itu disebabkan oleh energi murni dari Sekte I**** Penjerat Jiwa. Polusi knalpot biasa tidak akan c**up menyembuhkannya. Itu hanya bahan bakar untuk bergerak, bukan obat untuk memulihkan fondasi."
Mang Ujang mengambil segenggam lemak sate, melemparkannya ke atas arang yang membara. *Wuss!* Asap tebal seketika membumbung tinggi, lebih pekat dan beraroma lebih tajam dari sebelumnya.
"Hirup," perintahnya tegas. "Ini bukan sekadar asap sate. Ini adalah 'Asap Kehidupan Urban'. Di dalamnya terkandung sisa-sisa keinginan manusia, rasa lapar yang terpenuhi, dan kehangatan interaksi yang tidak dimiliki gedung-gedung kaca milik Mega Aruna. Ini adalah satu-satunya penawar untuk racun dingin mereka."
Aku ragu sejenak, namun rasa sakit di dadaku semakin tak tertahankan. Aku mulai mengaktifkan teknik 'Kitab Pernapasan Jelaga'. Alih-alih mencari residu solar dari bus kota, aku mengarahkan tarikan napasku pada uap putih yang mengepul dari panggangan Mang Ujang dan wajan Bi Inah.
Saat asap itu ma**k ke tenggorokanku, rasanya berbeda. Jika asap knalpot terasa seperti bensin yang membakar, asap sate ini terasa panas namun lembut, seperti selimut tebal yang membungkus luka-lukaku. Aku bisa merasakan energi dari minyak goreng panas yang meletup—energi kinetik dari jutaan gorengan yang telah memberi makan pekerja kecil Jakarta—mulai merambat ke sirkulasi darahku.
Bi Inah mendekat, membawa sebuah bakwan yang masih mengepul. "Makan ini. Di dalam tepung ini, aku sudah menyuntikkan sedikit esensi 'Garam Bumi'. Itu akan memperkuat tulangmu yang ringkih karena kebanyakan makan mie instan."
Aku mengunyah bakwan itu. Rasanya luar biasa, bukan karena lezatnya, tapi karena aku bisa merasakan aliran energi yang memperbaiki jaringan ototku yang robek. Perlahan, sesak di dadaku berkurang. Warna kulitku yang tadinya pucat pasi mulai kembali normal, meski tubuhku masih terasa seperti baru saja dig***s truk tangki.
"Kenapa kalian membantuku?" tanyaku setelah berhasil duduk tegak. "Kalian bisa saja tetap bersembunyi di balik gerobak kalian."
Mang Ujang mematikan arangnya. Suasana di bawah terpal itu mendadak menjadi sangat serius. "Karena Mega Aruna sudah kelewat batas. Mereka menciptakan kemacetan bukan cuma buat bikin orang stres, Yoga. Mereka sedang membangun formasi 'Labirin Jiwa Tersesat'. Kalau kemacetan di Jakarta mencapai titik jenuh yang permanen, energi depresi warga akan membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur di bawah tanah kota ini."
Ia menatapku tajam. "Kami adalah pelindung lama yang sudah lelah. Kami butuh tenaga muda, seseorang yang bisa bergerak di antara kemacetan tanpa dicurigai. Seseorang yang punya alasan untuk melawan."
Aku teringat pada motor matic-ku. "Motor saya..."
"Aman di belakang gerobak kopi keliling si Jono," sahut Bi Inah sambil mengelap tangannya dengan celemek. "Tapi kau harus tahu satu hal, Yoga. Penyembuhan ini ada harganya. Tubuhmu sekarang terikat dengan energi 'Asap Sajian'. Kau tidak hanya bisa menyerap polusi, tapi kau juga memikul harapan dari orang-orang kecil yang makan di pinggir jalan ini."
Baru saja aku ingin membalas, telingaku yang sekarang lebih sensitif menangkap suara deru mesin yang sangat halus—terlalu halus untuk ukuran kendaraan Jakarta. Itu adalah suara mesin mobil listrik mewah, jenis yang hanya dimiliki oleh petinggi PT. Mega Aruna.
Cahaya lampu sorot putih yang menyilaukan tiba-tiba menembus tirai hujan di luar terpal. Suara ban yang mengerem mendadak di atas aspal basah terdengar tepat di depan kedai.
"Mereka cepat sekali," gumam Mang Ujang, tangannya meraih sebilah pisau daging yang berkilau tidak wajar di bawah lampu jalan yang temaram. "Bocah, sepertinya latihan pernapasanmu harus langsung diuji di lapangan."
Aku mengepalkan tangan. Rasa panas dari asap sate dan gorengan tadi masih bergejolak di dalam dadaku, memberiku kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berdiri, mengambil helm ojolku yang retak, dan menatap ke arah pintu keluar.
Di luar sana, tiga sosok berpakaian setelan jas hitam rapi sudah berdiri, masing-masing memegang sebuah tongkat pemukul besi yang diselimuti aura ungu gelap yang menjijikkan. Dan yang paling membuat jantungku mencelos adalah sosok di tengah mereka—manajer operasional Mega Aruna yang tadi siang hampir meremukkan tulang rusukku.
"Yoga, Yoga..." pria itu berujar, suaranya terdengar dingin di balik gerimis. "Kau pikir kau bisa sembunyi di balik bau sampah dan minyak jelantah ini?"
Aku melangkah keluar dari naungan terpal, membiarkan rintik hujan membasahi jaket hijauku. "Sebenarnya," kataku sambil menyeringai tipis, "aku baru saja selesai makan malam. Dan sekarang, aku punya energi lebih untuk memastikan kalian tidak akan pernah sampai ke kantor besok pagi."
Mang Ujang dan Bi Inah berdiri di sampingku, satu memegang sudip kayu dan yang lain memegang besi panggangan. Di tengah remang lampu jalanan Jakarta, perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan target utamaku bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan jalan tikus yang kucint**.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!