Suara deru mesin dari ribuan motor matic dan bebek meraung serentak, menciptakan simfoni parau yang menggetarkan aspal Sudirman. Di barisan paling depan, aku mencengkeram stang Si Belalangβmotor matic peninggalan almarhum Bapak yang catnya sudah kusam termakan usia. Tanganku gemetar, bukan karena takut, tapi karena energi jelaga yang meluap-luap di dalam paru-paruku.
"Siap, Yog?" suara parau terdengar dari interkom helmku. Itu Bang Jago, koordinator wilayah Jakarta Timur yang wajahnya tertutup masker kain hitam legam.
Aku menoleh ke belakang. Sejauh mata memandang, lautan jaket hijau menyemut, menutupi enam jalur protokol. Ribuan driver ojek online telah berkumpul, bukan untuk mengambil orderan fiktif, tapi untuk mengakhiri tirani PT. Mega Aruna.
"Lakukan sekarang, Bang. Jangan kasih kendor," jawabku singkat.
Aku memejamkan mata, mengaktifkan bait kelima dari *Kitab Pernapasan Jelaga*. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup karbon monoksida yang dimuntahkan knalpot-knalpot di sekelilingku. Biasanya, asap ini akan membuat paru-paru manusia normal terbakar, tapi bagiku, ini adalah nektar. Di dalam dadaku, inti kultivasi berbentuk kepulan asap hitam berputar kencang, menyaring racun menjadi kekuatan murni.
"Blayer!" teriakku lewat pengeras suara yang terpasang di kemudi.
Seketika, ribuan driver menarik gas motor mereka dalam posisi netral atau menahan rem. Kepulan asap putih dan hitam membubung tinggi, menyatu dengan polusi Jakarta yang memang sudah pekat. Aku merentangkan tangan, memanipulasi aliran udara. Asap-asap itu tidak tertiup angin, melainkan berputar, membentuk pusaran raksasa yang menyelimuti area SCBD. Inilah 'Badai Polusi' buatankuβsebuah domain tempat kekuatanku berlipat ganda.
Namun, kejayaanku hanya bertahan sesaat. Dari balik gerbang kaca raksasa gedung Mega Aruna, barisan pria berseragam hitam taktis keluar dengan formasi kura-kura. Di belakang mereka, berdiri anggota kepolisian yang matanya tampak kosong, seperti dikendalikan sesuatu.
"Woi! Minggir kalian! Ini urusan rakyat!" teriak salah satu driver dari belakang.
Bukannya menyingkir, para tentara bayaran itu justru mengeluarkan perangkat berbentuk parabola kecil yang memancarkan cahaya biru neon.
"Unit Penekan Frekuensi!" batinku tercekat.
*ZING!*
Sebuah gelombang getaran tinggi menghantam kabut polusiku. Aku merasakan dadaku seperti dipukul palu godam. Kabut yang tadinya pekat tiba-tiba menipis, dipaksa luruh ke tanah oleh gelombang supersonik tersebut. Ini adalah senjata anti-kultivator milik Sekte I**** Penjerat Jiwaβteknologi yang dirancang khusus untuk memurnikan udara secara paksa demi melemahkan pengguna elemen jelaga sepertiku.
"Agh!" Aku terbatuk, darah hitam merembes dari sudut bibirku.
"Yoga!" Bang Jago mencoba mendekat, tapi motornya tertahan oleh barisan barikade polisi yang mulai merangsek maju dengan tameng dan tongkat listrik.
"Jangan mendekat, Bang! Tetap dalam formasi!" teriakku sambil berusaha menyeimbangkan Si Belalang.
Seorang pria tinggi dengan setelan jas rapi keluar dari barisan tentara bayaran. Dia adalah Hendra, eksekutif Mega Aruna yang kukenal sebagai salah satu tetua sekte. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat komando perak yang memancarkan aura dingin yang memuakkan.
"Sampah jalanan tetaplah sampah," ujar Hendra dengan nada merendahkan yang menggema di antara gedung-gedung tinggi. "Kau pikir dengan mengumpulkan ribuan kurir miskin ini, kau bisa menggulingkan tatanan yang sudah kami bangun selama puluhan tahun? Jakarta butuh penderitaan agar leluhur kami bisa bangkit, Yoga."
Hendra menjentikkan jarinya. Para tentara bayaran itu melepaskan tembakan tabung gas. Namun, ini bukan gas air mata biasa. Asap yang keluar berwarna ungu pekat, aromanya manis namun mematikanβ*Gas Penjerat Sukma*. Para driver di barisan depan mulai tumbang satu per satu, motor-motor mereka terguling menciptakan kekacauan berant**.
"Si****..." aku menggeram. Mataku memerah. Aku melihat Si Belalang tergores saat sebuah tameng polisi menghantam spionnya.
Rasa panas menjalar dari perutku menuju kepala. Bukan hanya polusi yang kuserap sekarang, tapi rasa frustrasi, amarah, dan depresi dari ribuan kawan-kawanku yang diperlakukan seperti kecoak. Energi negatif itu bergejolak, jauh lebih liar dari sekadar asap knalpot.
Aku memaksakan diriku berdiri di atas jok motor, melakukan mudra terlarang yang tertulis di halaman terakhir kitabku. "Kultivasi Jelaga Tingkat Ketiga: Manifestasi Naga Aspal!"
Asap hitam yang tadi sempat memudar kini kembali menggumpal, tapi kali ini tidak berbentuk kabut. Ia memadat, membentuk sisik-sisik kelam yang menyerupai naga sepanjang tiga puluh meter. Mata naga itu menyala kuning, sewarna dengan lampu depan motor matic-ku.
"Hancurkan barikade itu!" perintahku.
Naga asap itu meluncur, menab**k gelombang supersonik dari parabola-parabola Mega Aruna hingga hancur berkeping-keping. Para tentara bayaran terpelanting ke udara. Namun, saat naga itu hampir mencapai Hendra, pria itu hanya tersenyum tipis.
Hendra mengangkat tongkat komandonya tinggi-tinggi. Langit Jakarta yang tadinya kelabu tiba-tiba terbelah oleh petir berwarna merah darah. Di atas gedung PT. Mega Aruna, sebuah pusaran portal raksasa mulai terbuka, menyedot energi dari naga asapku dan juga sisa-sisa kesadaran para driver yang pingsan.
"Terima kasih atas bantuannya, Smog Master," tawa Hendra meledak. "Kau baru saja memberikan a**pan energi terakhir yang dibutuhkan untuk membuka gerbang neraka."
Tanah di bawah kakiku bergetar hebat. Sebuah tangan raksasa dengan kuku-kuku hitam panjang mulai merayap keluar dari atap gedung pencakar langit itu. Nafasku tercekat. Aku menyadari satu hal: aku tidak sedang melakukan raid, aku baru saja dijebak untuk menjadi kunci pembuka kiamat bagi Jakarta.
"Yoga! Motor lu!" teriak Bang Jago.
Aku menunduk dan melihat tangki bensin Si Belalang mulai retak, bukan karena benturan, tapi karena menyerap terlalu banyak energi negatif yang meluap dari tubuhku. Jika motor ini meledak, seluruh basis kultivasiku akan hancur bersamanya.
Di depan sana, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sekte i**** mulai menampakkan wujudnya di tengah badai yang kini berwarna merah pekat.
"Belum..." bisikku, meremas stang motor yang mulai membara. "Ini belum berakhir."
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!