Angin di ketinggian lant** lima puluh tujuh ini bukan lagi sekadar embusan udara, melainkan sayatan pisau yang membawa aroma belerang dan besi berkarat. Aku melangkah keluar dari pintu darurat menuju helipad, napasku terasa berat, seolah paru-paruku sedang mencoba mengolah aspal cair. Di atap gedung PT Mega Aruna, Jakarta tidak lagi terlihat seperti kota, melainkan tungku raksasa yang membara di bawah selimut awan hitam yang memutar.
Di tengah helipad, berdiri seorang pria dengan setelan jas seharga satu unit apartemen di Kuningan. Hendra Aruna, CEO yang lebih mirip pemangsa daripada pengusaha, berdiri memunggungi badai petir hitam yang menyambar-nyambar di langit. Kilat itu tidak terang, melainkan pekat, seolah-olah cahaya pun enggan menerangi keg***an yang ia ciptakan.
"Kau terlambat sepuluh menit, Yoga," suara Hendra tenang, namun bergema dengan kekuatan supernatural yang menggetarkan gendang telingaku. "Rating performamu sebagai kurir pasti merosot tajam hari ini."
Aku meludah ke samping, ludahku berwarna hitam pekat, tanda bahwa basis kultivasi Pernapasan Jelaga-ku sudah mencapai puncaknya. "Gua nggak peduli soal rating. Gua ke sini cuma mau pastiin satu hal: lu berhenti narik napas pakai paru-paru orang-orang yang kejebak macet di bawah sana."
Hendra tertawa, suara tawa yang kering dan hampa. Ia berbalik, matanya bersinar dengan cahaya ungu gelap yang jahat. Di sekelilingnya, energi depresi jutaan warga Jakarta yang terjepit di kemacetan SCBD mengalir naik seperti pusaran asap yang tak terlihat, tersedot ma**k ke dalam dadanya.
"Kau tidak mengerti ekonomi makro, Anak Muda," Hendra melangkah maju, setiap pijakannya retak mengeluarkan uap panas. "Jakarta adalah mesin. Dan setiap mesin butuh bahan bakar. Depresi, amarah, dan keputusasaan mereka adalah minyak yang menggerakkan roda kemajuan bangsa ini. PT Mega Aruna memastikan roda itu tetap berputar. Tanpa kami, kota ini akan mati dalam kedamaian yang statis."
"Mati dalam kedamaian lebih baik daripada hidup jadi baterai buat s**** kayak lu!" teriakku.
Aku menghentakkan kaki ke beton helipad. Teknik *Langkah Seribu Jalan Tikus* aktif seketika. Tubuhku seolah kabur, bergerak zigzag melewati sambaran petir hitam yang menghujam dari langit. Hendra mengangkat tangannya, dan sebilah pedang yang terbuat dari manifestasi asap knalpot beracun muncul di genggamannya.
*Clang!*
Aku menahan serangannya dengan lengan bawahku yang sudah mengeras seperti baja hitam akibat teknik *Kulit Karbon*. Percikan api memercik di antara kami. Wajah Hendra hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa mencium bau kemewahan yang busuk dari napasnya.
"Lihatlah ke bawah, Yoga!" Hendra menunjuk ke arah lautan lampu mobil yang tak bergerak di jalanan Jakarta. "Mereka itu semut. Mereka butuh pemimpin. Mereka butuh struktur. Jika mereka harus menderita agar peradaban ini naik ke level berikutnya, bukankah itu pengorbanan yang mulia?"
"Pengorbanan itu kalau lu yang mati buat mereka, bukan sebaliknya, Br******!"
Aku memutar tubuh, menyalurkan seluruh energi negatif yang kuserap dari asap knalpot sepanjang hari ini ke telapak tanganku. "Teknik Rahasia: Ledakan Knalpot Maut!"
Sebuah hantaman udara bertekanan tinggi, berwarna hitam legam dan panas seperti bara api, menghantam dada Hendra. Ia terlempar ke belakang, terseret di atas helipad hingga ke tepian jurang beton tersebut. Namun, ia tidak jatuh. Ia melayang, kakinya tidak lagi menyentuh tanah.
Langit di atas kami semakin liar. Petir hitam menyambar lebih sering, menciptakan suara dentuman yang m****akkan telinga. Hendra merentangkan tangannya, dan tiba-tiba, seluruh polusi di udara Jakarta seolah tersedot ke satu titik: jantungnya.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan kekuatan yang sama denganku?" suara Hendra kini berubah, berlapis-lapis seperti ribuan orang yang bicara bersamaan. "Aku adalah wadah bagi ribuan tahun penderitaan! Aku adalah Jakarta itu sendiri!"
Tekanan udara di helipad meningkat sepuluh kali lipat. Dadaku terasa sesak. Motor matic-kuβsatu-satunya warisan Bapakβmungkin sedang terparkir aman di basemen, tapi jika aku kalah di sini, tidak akan ada lagi jalanan untuk dilalui. Tidak akan ada lagi rumah untuk pulang.
Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan suara bising knalpot, omelan emak-emak di pasar, dan tawa sesama driver ojol di pangkalan. Itu bukan sekadar energi negatif. Itu adalah kehidupan. Kehidupan yang sedang dia hisap sampai kering.
"Gua mungkin nggak paham ekonomi makro," bisikku sambil membuka mata yang kini seluruhnya menghitam, "tapi gua tau rasanya nahan lapar di atas motor cuma biar orang lain bisa makan tepat waktu. Dan itu lebih mulia dari semua omong kosong lu."
Aku menarik napas dalam-dalam, menyedot seluruh sisa polusi di area helipad hingga udara di sekitarku menjadi hampa. Seluruh tubuhku mulai memancarkan uap hitam yang membara. Ini adalah batas terakhir. Jika aku melampauinya, aku mungkin tidak akan pernah menjadi manusia lagi.
Hendra menyeringai, ia menyiapkan serangan penghabisan, sebuah bola energi hitam yang c**up besar untuk meratakan seluruh gedung ini dan mengubah Jakarta menjadi padang gurun beracun.
"Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan saat asapnya hilang, Yoga!"
Ia melesat ke arahku dengan kecepatan yang tak ma**k akal. Di saat yang sama, aku merasakan jantungku berdetak seirama dengan denyut nadi kota ini. Namun, tepat sebelum tinju kami beradu, tanah di bawah helipad bergetar dengan cara yang tidak wajar. Bukan karena kekuatan kami, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tua sedang terbangun di bawah fondasi gedung PT Mega Aruna.
Sesuatu yang Hendra sendiri pun tidak sadar telah ia bangkitkan.
"Apa itu?" Hendra mematung, matanya terbelalak melihat retakan besar muncul di tengah helipad, mengeluarkan cahaya merah darah yang pekat.
Aku tersentak. Bau di udara berubah lagi. Ini bukan lagi bau asap knalpot. Ini bau darah dan tanah purba yang terkubur ribuan tahun.
"Lu bukan satu-satunya yang punya rencana di sini, ya?" gumamku, sambil bersiaga saat sebuah tangan raksasa berwarna merah gelap mencuat dari dalam retakan gedung, mencengkeram tepi helipad seolah-olah seluruh pencakar langit ini hanyalah sebuah mainan plastik.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!