Matahari Jakarta sore itu tidak sedang bersinar; ia sedang menghukum. Bundaran HI berubah menjadi wajan raksasa tempat ribuan manusia di atas mesin besi digoreng perlahan. Aspal menguapkan panas yang membuat udara di atasnya bergelombang, mengaburkan pandangan Yoga yang sedari tadi hanya bisa menatap punggung jaket pengendara di depannya.
Yoga menyeka peluh yang mengalir ma**k ke mata kanan, meninggalkan perih yang bercampur debu. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kain yang sudah bolong di bagian jempol mencengkeram stang motor matic-nya kuat-kuat. Mesin motornya meraung pelan, bergetar seolah ikut mengeluh karena suhu radiator yang sudah mencapai batas maksimal. Di sekelilingnya, simfoni klakson bersahut-sahutan, menciptakan kebisingan yang menguras kewarasan.
*“Tarik napas, Yoga. Jangan mati dulu sebelum cicilan lunas,”* batinnya sarkastik.
Ia merogoh celah di balik busa helmnya, memastikan benda itu masih ada di sana. Selembar kertas kusam, tipis namun terasa berat saat disentuh, yang ditemukannya terselip secara mustahil di dalam helm peninggalan ayahnya semalam. 'Kitab Pernapasan Jelaga'. Nama yang terdengar seperti banyolan dukun palsu, namun entah mengapa, setiap kali Yoga memikirkannya, paru-parunya berdenyut aneh.
Di depannya, sebuah bus antarkota tua mengeluarkan batuk hitam pekat dari knalpotnya. Awan jelaga raksasa meluncur keluar, menyelimuti Yoga dan para pengendara lain dalam kegelapan sesaat yang menyesakkan. Orang-orang di sekitarnya memaki, menutup kaca helm, atau menutup hidung dengan sapu tangan kumal.
Yoga tidak. Ia justru teringat satu instruksi g*** dari kertas itu: *“Jadikan racunmu sebagai sumbu, biarkan polusi menjadi api yang memurnikan esensi.”*
“Ah, masa bodoh. Kalau mati, setidaknya aku tidak perlu melihat saldo GoPay yang cuma dua ribu perak ini,” gumamnya lirih.
Yoga memejamkan mata di balik kaca helmnya yang baret. Ia mulai mengikuti ritme pernapasan yang tertulis dalam ingatannya. Ia tidak membayangkan udara segar pegunungan atau aroma lavender. Sebaliknya, ia memvisualisasikan partikel karbon, timbal, dan sulfur yang mengambang di sekitarnya sebagai butiran energi cair.
Ia menarik napas panjang. Bukan napas pendek yang biasa ia lakukan untuk menghindari sesak, melainkan tarikan napas dalam yang rakus.
*Zrrtt!*
Sensasi pertama yang menghantamnya adalah api. Yoga tersentak, tangannya hampir lepas dari stang. Rasanya seolah-olah ia baru saja menelan cairan pembersih lant** yang mendidih. Karbon monoksida yang ia hirup tidak sekadar ma**k ke paru-paru, ia merobek jalurnya sendiri.
“Argh!” Yoga menggeram, suaranya tertelan bising knalpot *racing* dari ninja hijau di sebelahnya.
Dada Yoga terasa seperti ditekan oleh beton seribu ton. Paru-parunya berontak, mengirimkan sinyal bahaya ke otaknya. Setiap sel di tubuhnya berteriak, menolak zat asing yang seharusnya membunuhnya itu. Namun, Yoga bertahan. Ia memaksakan udara kotor itu tetap di dalam, menguncinya di ulu hati sesuai instruksi Kitab Jelaga.
Lalu, keajaiban yang mengerikan itu terjadi.
Rasa terbakar itu perlahan berubah. Panasnya tidak lagi menyiksa, melainkan mulai memutar, menciptakan pusaran kecil di tengah dadanya. Yoga merasakan partikel-partikel hitam yang tadi menyesakkan dada kini mulai menyatu dengan aliran darahnya. Kelelahan yang menggelayuti bahunya selama berjam-jam menguap seketika. Matanya yang tadi merah karena iritasi tiba-tiba terbuka lebar, jernih seolah ia baru saja bangun dari tidur delapan jam yang berkualitas.
Ia melihat dunia dengan cara berbeda. Asap hitam dari bus di depannya bukan lagi polusi yang mengganggu, melainkan aliran energi kelabu yang berkilauan. Ia bisa melihat betapa padatnya energi negatif yang menguar dari ribuan orang yang stres di kemacetan ini. Semua itu... adalah nutrisi.
“Woi, Mas! Jalan! Malah bengong!” teriak seorang pria dari atas motor sport, menggedor spion Yoga.
Yoga tersentak. Lampu sudah hijau—atau setidaknya, arus kendaraan mulai merayap maju. Ia memutar gasnya. Motor matic-nya yang biasanya terasa berat saat akselerasi, kini terasa ringan, seolah-olah mesin itu sendiri mendapatkan a**pan tenaga dari telapak tangan Yoga yang memegang stang.
Yoga bermanuver dengan kelincahan yang tidak ma**k akal. Ia menyelip di antara spion mobil dengan jarak hanya beberapa milimeter, memiringkan motornya di celah sempit yang bahkan pengemudi ojol paling nekat pun akan ragu untuk mema**kinya. Sensor tubuhnya meningkat tajam; ia bisa merasakan arah angin dan getaran mesin mobil di sekitarnya sebelum mereka bergerak.
Namun, saat ia melintasi bayangan gedung raksasa PT. Mega Aruna yang menjulang di sisi Bundaran HI, sensasi sejuk yang ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi dingin yang menusuk tulang.
Pusaran energi di dadanya berputar liar, bereaksi terhadap sesuatu. Yoga menoleh ke arah lobi gedung pencakar langit yang dilapisi kaca gelap itu. Di sana, di balik kemewahan arsitektur modern, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh mata manusia biasa.
Asap hitam di area Bundaran HI tidak terbang tertiup angin. Asap itu... tertarik. Seolah-olah ada lubang hitam tak kasat mata di puncak gedung Mega Aruna yang sedang memanen setiap tetes depresi dan polusi dari jalanan Jakarta.
Yoga merasa mual. Energi yang baru saja ia serap bergejolak, seolah mengenali predator yang jauh lebih besar. Di salah satu jendela lant** atas, ia menangkap kilatan cahaya merah yang menatap tajam ke arah kerumunan macet di bawahnya.
“Jadi ini bukan cuma macet biasa?” bisik Yoga pada dirinya sendiri, sementara keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Tiba-tiba, mesin motornya mati mendadak tepat di tengah jalur busway. Di belakangnya, sebuah bus TransJakarta meraung, klaksonnya memecah udara, menuntut Yoga untuk segera menyingkir atau hancur menjadi bubur. Yoga mencoba menstater motornya, namun hatinya mencelos. Getaran aneh dari gedung Mega Aruna tadi seolah telah menyedot paksa sisa energi yang baru saja ia kumpulkan.
“Sial,” Yoga mengumpat, matanya menatap spion yang menangkap bayangan moncong bus yang semakin mendekat. “Jangan sekarang!”
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!