Rasa logam di pangkal lidahku bukan lagi sekadar polusi biasa; itu adalah rasa dari ribuan jiwa yang terjebak dalam kemacetan abadi Jakarta. Aku berdiri di puncak Menara Mega Aruna, titik tertinggi di SCBD, di mana angin malam berbisik tentang keputusasaan. Di depanku, sebuah monolit hitam legam berdenyut dengan cahaya ungu tipisβPemancar Eteris PT. Mega Aruna. Alat ini adalah jantung dari segala kesengsaraan di bawah sana, mesin yang mengubah karbon monoksida dan amarah para komuter menjadi pasokan energi murni bagi para tetua Sekte I****.
"Hanya segini?" gumamku, membetulkan letak kerah jaket hijauku yang sudah memudar warnanya. "Bahkan knalpot bus Metromini tahun sembilan puluhan terasa lebih mengancam dari alat rongsokan ini."
Aku melangkah maju. Setiap tapak kakiku meninggalkan jejak jelaga hitam di lant** marmer yang meng***t. Kitab Pernapasan Jelaga di dalam dadaku bergetar hebat, seolah-olah ia haus akan jamuan besar di depanku. Aku menarik napas dalam-dalam. Bukan oksigen yang kucari, melainkan kabut pekat yang menyelimuti menara ini.
Asap itu ma**k ke paru-paruku, bukan sebagai racun, melainkan sebagai arus tenaga yang dingin dan liar. Aku bisa merasakan setiap umpatan pengendara motor di jalanan Gatot Subroto, setiap keluhan pegawai kantoran yang lembur tanpa upah, dan setiap tetes keringat di balik kemudi TransJakarta. Semuanya mengalir padaku.
"Yoga! Berhenti!" sebuah suara parau menggelegar dari balik bayang-bayang.
Seorang pria dengan setelan jas mahalβDirektur Utama Mega Aruna, atau lebih tepatnya, Sang Pemuja Bayanganβmuncul dengan mata yang memancarkan cahaya merah. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Driver si****! Kau menghancurkan tatanan dunia baru yang kami bangun!"
Aku menyeringai, memperlihatkan gigi yang sedikit menghitam akibat teknik kultivasiku. "Tatanan? Kalian menyebut macet total di Semanggi itu tatanan? Aku hanya ingin pulang cepat dan tidur tanpa dihantui cicilan motor, Pak Tua."
Tanpa menunggu balasan, aku menghentakkan kaki. *Langkah Jelaga: Navigasi Tikus.* Tubuhku melesat, meninggalkan bayangan kabur yang menyerupai asap hitam. Sang Direktur melemparkan bola energi gelap, tapi aku hanya menghirupnya. Bagiku, itu tak lebih dari sekadar polusi tambahan yang memperkuat pukulanku.
Aku mengepalkan tangan kanan. Jelaga di sekitarku memadat, membentuk sarung tinju dari asap yang lebih keras dari baja. "Teknik Pernapasan Jelaga: Pukulan Pembersih Langit!"
*BOOM!*
Tinjuku menghantam inti monolit itu. Getarannya merambat hingga ke pondasi gedung. Suara pekikan melengking keluar dari mesin itu, suara ribuan hantu kegelisahan yang akhirnya terlepas. Cahaya ungu itu retak, meledak menjadi serpihan energi yang menyilaukan. Gelombang kejutnya melempar Sang Direktur hingga menab**k dinding kaca, menghancurkannya menjadi jutaan kepingan kristal yang jatuh ke jalanan Jakarta.
Seketika, langit di atas SCBD mulai berubah. Kabut hitam yang selama puluhan tahun menggantung kaku di langit Jakarta mendadak tersapu bersih. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku, aku melihat langit yang benar-benar gelap, bukan abu-abu kusam, dan bintik-bintik kecil bernama bintang mulai mengintip malu-malu di balik awan yang menipis.
Aku jatuh terduduk, napas kembang kempis. Energi di dalam tubuhku surut drastis. Rasanya seperti baru saja menarik beban sepuluh ton dengan motor matic-ku yang sudah turun mesin. Di bawah sana, aku bisa mendengar suara klakson yang berbedaβbukan klakson kemarahan, tapi klakson kebingungan yang bercampur dengan kelegaan. Jakarta seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membelah kegelapan dengan garis jingga yang bersih.
"G***... langitnya beneran biru," bisikku sambil memandangi tanganku yang mulai gemetar.
Efek samping dari teknik pembersihan ini mulai terasa. Tubuhku seakan menyublim, menyatu dengan sisa-sisa asap yang mulai memudar disapu angin pagi. Ini adalah kutukan dari Kitab Pernapasan Jelaga; aku adalah master dari polusi, dan saat polusi itu hilang, keberadaanku pun ikut menipis.
Aku harus pergi sebelum matahari benar-benar naik. Aku tidak boleh terlihat oleh siapa pun dalam kondisi seperti ini. Dengan sisa tenaga yang ada, aku meloncat dari puncak gedung, meluncur di antara celah-celah bangunan seperti bayangan hitam yang memudar.
Di parkiran bawah, motor matic-ku masih setia menunggu. Aku menyalakannya, suaranya yang kasar terasa begitu merdu di telingaku. Aku memakai helm, menurunkan kaca penutupnya yang penuh goresan, dan memacu motor menembus jalanan Jakarta yang mulai diterangi cahaya pagi.
Beberapa pengemudi ojek lain yang sedang mangkal di pinggir jalan menoleh. Mereka melihat seorang driver dengan jaket lusuh yang tampak seperti terbuat dari asap, melaju tanpa suara knalpot, menghilang di balik tikungan jalan tikus tepat saat sinar matahari menyentuh aspal.
"Eh, lu liat nggak tadi?" tanya seorang driver tua ke temannya sambil menyeruput kopi.
"Liat apa?"
"Itu... si Driver Misterius. Katanya dia cuma muncul pas macet lagi parah-parahnya, terus macetnya langsung ilang setelah dia lewat. Tapi barusan dia lewat pas jalanan kosong. Mukanya nggak keliatan, ketutup asep."
Aku terus melaju, ma**k ke dalam gang-gang sempit di daerah Tambora, tempat di mana cahaya matahari sulit menjangkau. Aku merasa tubuhku kembali padat saat aku melewati sebuah tumpukan sampah yang terbakar, menghirup sedikit asapnya untuk menstabilkan wujudku.
Aku adalah Yoga, sang Smog Master. Jakarta mungkin sudah bersih pagi ini, tapi aku tahu, selama ada keserakahan dan gedung-gedung pencakar langit yang angkuh, jelaga akan selalu kembali. Dan saat kegelapan itu c**up pekat untuk mencekik kota ini lagi, aku akan ada di sana, menunggu pesanan di pojokan lampu merah yang paling macet.
Namun, saat aku memarkirkan motor di depan kontrakan kecilku, aku menyadari sesuatu yang aneh. Di atas jok motorku, tergeletak sebuah amplop hitam dengan stempel PT. Mega Aruna yang masih utuh. Padahal, aku yakin gedung itu sudah kosong saat aku meninggalkannya.
Tanganku gemetar saat membuka amplop itu. Di dalamnya bukan uang, melainkan sebuah foto lama: ayahku, tersenyum bangga di atas motor matic ini, berdiri di depan sebuah gedung yang belum selesai dibangun. Di balik foto itu tertulis sebuah pesan singkat yang membuat darahku berdesir dingin.
*Pembersihan hanyalah awal dari siklus yang baru. Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Sang Pewaris Jelaga.*
Aku mendongak ke arah langit yang kini biru cerah, tapi hatiku justru terasa lebih kelam dari sebelumnya. Siapa yang mengirim ini? Dan apa hubungannya ayahku dengan sekte yang baru saja kuhancurkan?
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!