Knalpot bus kota di depanku memuntahkan asap hitam pekat, seolah-olah monster purba sedang mendengkur di tengah kemacetan Jalan Gajah Mada. Bagi orang lain, ini adalah polusi yang memperpendek umur. Bagiku? Ini adalah a**pan kafein dosis tinggi. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan partikel jelaga itu mengalir ma**k ke paru-paruku, lalu merambat ke jalur meridian yang baru terbuka beberapa hari lalu. Rasanya dingin, tajam, dan memberiku tenaga ekstra untuk menahan beban motor matic tua ini.
Pasar Baru di siang bolong adalah labirin keringat dan sejarah yang memudar. Aku memarkirkan motor di pinggir jalan, memastikan gembok tambahannya terpasang kuat. Di Jakarta, kehilangan motor sama saja dengan kehilangan nyawa, terutama bagi pengemudi ojek online sepertiku. Aku meraba kantong jaket ojolku yang lusuh, memastikan bungkusan kain berisi 'Kitab Pernapasan Jelaga' itu masih di sana. Busa helmku terasa kosong tanpanya, tapi rahasia ini terlalu berat untuk dibawa berkeliling menjemput penumpang.
Aku melangkah ma**k ke sebuah gang sempit di sisi timur pasar, jauh dari deretan toko sepatu yang mengkilap. Di sini, aromanya berubah dari bau selokan menjadi bau kertas tua dan dupa murahan. Sasaranku adalah sebuah kios tanpa papan nama yang terjepit di antara penjual arloji bekas dan tukang jahit.
Seorang pria tua dengan kacamata setebal pantat botol sedang menunduk di atas meja kayu, membersihkan sebuah koin kuno dengan sikat gigi. Namanya Koh Ahok, tapi orang-orang memanggilnya 'Si Pemulung Takdir'.
"Koh," sapaku singkat.
Pria itu tidak mendongak. "Nggak terima barang curian, Yoga. Pergi sana, narik penumpang saja."
"Ini bukan barang curian. Ini... sesuatu yang saya temukan di balik busa helm peninggalan bokap," kataku sambil meletakkan bungkusan itu di atas meja.
Begitu kain pembungkusnya terbuka, sikat gigi di tangan Koh Ahok berhenti bergerak. Udara di dalam kios kecil itu mendadak terasa berat, seolah tekanan atmosfer melonjak secara gaib. Koh Ahok perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang tadinya sayu kini menatap kitab itu dengan pupil yang mengecil.
Dia tidak menyentuhnya. Dia justru menarik tangannya seolah kitab itu adalah bara api. "Dari mana kamu dapat ini, Yoga?" bisiknya, suaranya parau dan bergetar.
"Sudah kubilang, di helm bokap. Ada apa sih? Ini cuma buku tua tentang teknik napas, kan?"
Koh Ahok berdiri, lalu dengan gerakan cepat yang tak terduga untuk orang seusianya, dia menutup pintu ruko dan menguncinya. "Ini bukan sekadar teknik napas, Bodoh! Ini adalah *Sutra Jelaga Terlarang*. Sudah seratus tahun kitab ini dianggap musnah setelah pembant**an para Kultivator Jalanan di zaman kolonial."
Aku mengerutkan kening. "Kultivator Jalanan? Koh, jangan mulai deh. Kita di Jakarta tahun 2024, bukan di film silat."
Koh Ahok menatapku tajam. Dia tiba-tiba meraih pergelangan tanganku. Jarinya terasa seperti catut besi. Dia memejamkan mata sejenak, lalu terbelalak kaget. "Kamu... kamu sudah memulainya? Kamu menyerap asap knalpot itu? G***! Paru-parumu seharusnya sudah hancur, tapi kenapa alirannya begitu murni?"
Aku menarik tanganku kembali, merasa tidak nyaman. "Rasanya alami saja. Kayak minum air dingin di tengah hari bolong. Makin macet jalannya, makin enak napas saya."
Koh Ahok terduduk kembali, wajahnya pucat pasi. Dia berkali-kali menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan kumal. "Yoga, dengar baik-baik. Aku dulu adalah seorang murid luar di sebuah sekte pegunungan sebelum aku kabur dan bersembunyi di sini sebagai pengumpul barang antik. Aku tahu energi saat aku merasakannya. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Itu menarik perhatian mereka."
"Mereka siapa?"
"Sekte Korporat," bisik Koh Ahok, suaranya nyaris hilang ditelan bising kendaraan di luar. "Kamu pikir gedung-gedung tinggi di Sudirman itu cuma kantor? PT. Mega Aruna... mereka bukan sekadar perusahaan pengembang. Mereka adalah inkarnasi modern dari Sekte I**** Penjerat Jiwa."
Aku tertawa sinis, meski hatiku mulai berdegup kencang. "Mega Aruna? Yang iklannya ada di mana-mana itu? Yang katanya mau bikin proyek 'Jakarta Abadi'?"
"Tepat!" Koh Ahok memukul meja. "Jakarta Abadi adalah kode untuk Kemacetan Abadi. Semakin macet kota ini, semakin banyak emosi negatif, stres, dan depresi yang dihasilkan jutaan orang di jalanan. Mega Aruna memasang 'pemanen' di puncak-puncak gedung mereka untuk menyerap energi itu. Mereka butuh energi depresi itu untuk membangkitkan leluhur mereka yang terkubur di bawah tanah Jakarta."
Aku terdiam. Memoriku berputar pada wajah-wajah penumpangku yang tampak seperti mayat hidup setiap sore hari. Wajah-wajah yang kehilangan harapan saat terjebak di bawah jembatan layang.
"Kitab yang kamu pegang itu," lanjut Koh Ahok sambil menunjuk buku di atas meja, "adalah satu-satunya cara untuk mengacaukan aliran energi mereka. Kamu tidak menyerap depresi, Yoga. Kamu menyerap polusinya, residu fisiknya, dan mengubahnya menjadi kekuatan murni. Kamu adalah anomali. Kamu adalah ancaman bagi rencana mereka."
Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan turun drastis. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip sebelum akhirnya pecah. Aku mencium aroma yang sangat kukenal, tapi kali ini terasa busuk: aroma asap kabel terbakar dan belerang yang pekat.
"Mereka sudah di sini," bisik Koh Ahok dengan mata penuh ketakutan.
Di balik pintu kaca ruko yang buram, aku melihat sebuah bayangan tinggi berdiri diam. Bayangan itu mengenakan setelan jas rapi, namun kepalanya tampak tidak wajarβseperti asap hitam yang menggumpal membentuk wajah tanpa mata.
Tanganku secara otomatis bergerak menyentuh kitab itu. Jantungku berpacu, bukan karena takut, tapi karena energi di sekitarkuβasap dan debu di dalam ruko iniβmulai berputar, seolah-olah mereka sedang menunggu perintahku untuk menyerang.
"Bawa kitab itu dan lari lewat pintu belakang, Yoga!" teriak Koh Ahok sambil meraih sebuah keris tua dari bawah mejanya. "Kalau mereka menangkapmu, Jakarta tidak akan pernah melihat matahari lagi!"
Pintu ruko berderak hebat, baut-bautnya mulai terlepas seolah didorong oleh kekuatan mesin hidrolik yang tak terlihat. Aku menyambar kitab itu, menyelipkannya ke balik jaket, dan menatap Koh Ahok untuk terakhir kalinya sebelum melompat ke arah pintu belakang.
"Cari terminal bayangan di Bekasi!" teriaknya sebelum pintu depan hancur berkeping-keping.
Aku berlari menembus gang sempit, namun langkahku terhenti. Di depanku, tiga orang berpakaian safari hitam sudah berdiri menutup jalan. Kulit mereka pucat, dan dari kerah baju mereka, kepulauan asap hitam tipis keluar seperti ular yang mendesis. Salah satu dari mereka memegang ID card dengan logo emas yang sangat kukenal: PT. Mega Aruna.
"Mas Yoga," salah satu dari mereka menyapa dengan suara mekanis yang dingin. "Manajemen ingin bicara soal... efisiensi bahan bakar Anda."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!