Asap Langit Jakarta: Kebangkitan Smog Master

Bab 5: Bab 5 - Menghadapi preman pangkalan yang ternyata adala...

Pengaturan Membaca

Panas aspal Jakarta siang itu terasa sanggup melelehkan sol sepatu botku yang sudah mulai menipis. Di perempatan Kuningan, kemacetan mengular seperti naga besi yang sekarat, mengeluarkan napas beracun berupa asap hitam pekat dari ribuan knalpot. Bagiku, bau sulfur dan karbon monoksida ini bukan lagi polusi. Itu adalah aroma hidangan pembuka yang membangkitkan selera.

Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-paruku bekerja seperti filter industri. Berdasarkan *Kitab Pernapasan Jelaga* yang kupelajari di sela-sela menunggu orderan, polusi adalah bahan bakar. Aku bisa merasakan energi hitam yang dingin mengalir dari hidung, turun ke dada, lalu memusat di ulu hati. Rasa mual yang biasanya menghantui warga sipil berganti menjadi sensasi geli yang bertenaga.

"Woy, mo****! Berhenti di situ lu!"

Sebuah teriakan parau merusak meditasiku. Aku menoleh perlahan, masih duduk di atas jok motor *matic* kesayanganku yang kusebut 'Si Jaladara'. Di depan sebuah area proyek yang dipagari seng tinggi dengan logo matahari merah PT. Mega Aruna, tiga orang pria berdiri menghadang.

Pimpinannya, seorang pria tambun dengan kaos singlet dekil dan tato kalajengking di lehernya, melangkah maju. Namanya Rikoβ€”preman pangkalan yang biasanya cuma minta jatah uang parkir. Tapi hari ini, ada yang beda. Matanya bukan merah karena iritasi debu, melainkan ada semburat ungu gelap yang tidak wajar di pupilnya.

"Lu anak baru yang sering mangkal sembarangan di daerah kekuasaan gue, kan?" Riko meludah ke aspal. Ludahnya hitam, kental, dan sedikit berasap.

"Gue cuma nunggu orderan, Bang. Lagian ini jalan umum," sahutku datar, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku mulai berdegup kencang.

"Jalan umum mata lu peyang! Di sini, aturan Mega Aruna yang berlaku," Riko menyeringai. Ia mengepalkan tangan, dan aku terkesiap. Uap hitam yang keluar dari kemacetan di belakangkuβ€”energi depresi dari para pengendara yang frustrasiβ€”seolah-olah tersedot ke dalam kepalan tangannya. "Dan lu... gue dapet perintah buat 'bersihin' kutu loncat kayak lu."

Riko menerjang dengan kecepatan yang tidak ma**k akal untuk ukuran tubuhnya. Pukulannya mengarah tepat ke wajahku. Aku menghindar dengan gerakan refleks seorang pengemudi yang terbiasa selap-selip di antara bus TransJakarta. Angin dari pukulannya terasa panas dan bau bangkai.

"Teknik Bela Diri Hitam..." bisikku dalam hati. Aku teringat catatan di Kitab Pernapasan Jelaga tentang para 'Pemanen Emosi'. Mereka memperkuat diri dengan kemarahan orang lain.

"Lu nggak bisa lari, Ojol sampah!" Riko berteriak. Dua anak buahnya ikut mengepung. Mereka tidak membawa senjata tajam, tapi tangan mereka diselimuti aura tipis berwarna kelabu yang bergetar.

Di sekeliling kami, suara klakson bertalu-talu. Seorang pengendara mobil berteriak maki-maki karena jalannya terhalang. Kemarahan itu menjadi nutrisi bagi Riko. Otot lengannya menggembung, urat-urat hitam menonjol di permukaan kulitnya.

Aku harus bertindak. Kalau aku cuma bertahan, aku akan habis dikeroyok massa yang diperkuat energi s**** ini.

Aku memejamkan mata sejenak, melakukan teknik *Pernapasan Jelaga: Filter Karbon*. Alih-alih membuang napas, aku menahannya di tenggorokan, membiarkan sisa pembakaran knalpot di sekitarku memadat. Saat mataku terbuka, pandanganku menjadi lebih tajam. Asap di sekitarku seolah melambat, menjadi partikel-partikel yang bisa kukendalikan.

"Gantian ya, Bang," ucapku sarkastik.

Saat Riko melayangkan tendangan, aku tidak menghindar. Aku menangkap kakinya dengan satu tangan yang sudah kupenuhi energi jelaga. Rasanya seperti memegang besi panas, tapi aku tidak melepaskannya. Dengan satu sentakan, aku menyalurkan polusi yang sudah kuolah di dalam tubuhku langsung ke jalur saraf di kakinya.

"Aaaarrgh!" Riko menjerit. Kaki yang tadi kuat seketika lemas, bukan karena patah, tapi karena sarafnya 'tersumbat' oleh jelaga padat.

Dua anak buahnya merangsek maju. Aku melompat turun dari motor, melakukan putaran 360 derajat sambil menyebarkan kabut hitam dari telapak tanganku. Kabut itu bukan sekadar asap; itu adalah konsentrasi dari rasa jenuh dan lelah warga Jakarta yang kuserap sepanjang hari. Begitu mereka menghirupnya, kedua preman itu mendadak lesu. Lutut mereka gemetar, mata mereka sayu, seolah-olah mereka baru saja terjebak macet selama sepuluh jam tanpa AC.

"Kenapa? Ngantuk, Bang?" tanyaku sambil mendaratkan satu pukulan telak ke rahang salah satu dari mereka.

Riko berusaha bangkit, wajahnya merah padam. "Lu... lu bukan ojol biasa. Lu bisa manipulasi 'sari pati' ini?"

"Gue cuma orang yang hobi napas di belakang bus patas, Bang," balasku sambil melangkah mendekat. "Sekarang kasih tahu gue, apa hubungannya preman pasar kayak lu sama Mega Aruna? Kenapa mereka butuh energi marah orang-orang di jalanan?"

Riko tertawa kecil, meski sudut mulutnya mengeluarkan darah hitam. "Lu nggak tahu apa-apa, Bocah. Jakarta ini bukan kota... ini adalah tungku raksasa. Dan kami cuma penyulut apinya. Mega Aruna bakal bangkitin Sesuatu yang bakal bikin kemacetan ini jadi abadi!"

Tiba-tiba, sebuah getaran hebat muncul dari balik tembok proyek Mega Aruna. Suaranya seperti raungan mesin raksasa yang haus akan darah. Riko mendadak kejang. Tato kalajengking di lehernya berpendar ungu terang, lalu ia ambruk dengan tubuh yang menyusut, seolah seluruh energinya ditarik paksa oleh sesuatu di dalam gedung tersebut.

Aku berdiri terpaku, menatap gerbang proyek yang tertutup rapat. Di sana, di balik kaca-kaca gelap gedung pencakar langit itu, aku merasakan sebuah keberadaan yang jauh lebih pekat dan beracun daripada polusi terparah sekalipun.

Ponsel di stang motorku bergetar. Sebuah notifikasi pesanan ma**k. Namanya anonim, tapi titik jemputnya berada tepat di dalam area terlarang PT. Mega Aruna.

Bulu kudukku meremang. Orderan ini bukan sekadar mengantar makanan; ini adalah undangan ke sarang monster. Namun, melihat Si Jaladara yang bensinnya sudah mepet, aku tahu aku tidak punya banyak pilihan selain menekan tombol 'Terima'.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca