Matahari Jakarta sore itu tampak seperti kuning telur asin yang pecah di atas wajan berkarat. Langit tidak lagi biru; ia telah lama menyerah pada lapisan kelabu tebal yang menggantung rendah di atas atap-atap gedung Sudirman. Aku memarkirkan Honda Vario bututku di tepian flyover Kuningan, tepat di titik di mana kemacetan tampak paling menderita. Di bawah sana, ribuan kendaraan merayap seperti barisan semut yang kehilangan arah, saling mengumpat lewat klakson yang m****akkan telinga.
Bau bensin yang terbakar tidak sempurna, aroma karet ban yang bergesekan dengan aspal panas, dan residu karbon dari knalpot bus kota yang mengepulkan asap hitam pekatβbagiku, semua itu adalah hidangan bintang lima.
Aku duduk bersandar pada jok motor, berpura-pura mengecek aplikasi ojek online di ponselku agar tidak terlihat mencurigakan. Namun, mataku terpejam. Tanganku membentuk mudra tersembunyi di balik jaket hijauku yang sudah memudar warnanya.
*Tarik napas.*
Udara panas yang sarat sulfur ma**k ke rongga paruku. Jika manusia normal akan terbatuk-batuk hingga paru-parunya terasa terbakar, aku justru merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Sesuai instruksi dalam 'Kitab Pernapasan Jelaga' yang kutemukan di balik busa helm peninggalan almarhum Bapak, aku mulai memutar energi itu.
Aku tidak hanya menghisap asap. Aku menghisap depresi. Aku menghisap amarah para pekerja kantoran yang terjebak di dalam mobil mewah mereka, kelelahan para buruh pabrik yang berjejalan di dalam bus, dan keputusasaan para pengemudi lain yang mengejar target setoran. Semua emosi negatif itu mengkristal dalam bentuk partikel jelaga hitam di udara, dan aku adalah vakum pembersihnya.
*Deg. Deg. Deg.*
Jantungku berdegup kencang. Di dalam rongga dadaku, pusaran energi kelabu yang tadinya hanya seukuran biji kacang hijau kini mulai membesar, berputar liar menyerap setiap molekul polusi yang lewat. Inilah ambang batasnya. Sedikit lagi, aku akan menembus tingkat menengah Kultivasi Jelaga. Otot-otot lenganku yang kurus terasa berkedut, seolah-olah ada aliran listrik statis yang merayap di bawah kulit.
"Ayo, sedikit lagi..." bisikku pelan, nyaris tenggelam oleh raungan mesin kopaja di samping flyover.
Keringat dingin bercampur debu jalanan mengalir di pelipisku. Rasanya seperti mencoba menelan gumpalan aspal cair. Tubuh ringkihku bergetar hebat. Aku bisa merasakan paru-paruku mulai beradaptasi, berubah tekstur menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih resilienβseperti filter industri tingkat tinggi yang tidak akan pernah rusak oleh racun manapun.
Tiba-tiba, firasat buruk menusuk tengkukku. Sensasi dingin yang berbeda dari energi jelaga muncul secara mendadak.
*Zzzzt... Zzzzt...*
Suara dengungan halus terdengar di antara kebisingan knalpot. Itu bukan suara lebah, juga bukan suara mesin kendaraan. Aku membuka satu mataku sedikit. Di udara, sekitar lima meter dariku, sebuah benda perak mengkilap berbentuk cakram kecil melayang diam. Sebuah kamera dengan lensa merah menyala menatap tepat ke arahku.
*Drone pengawas Mega Aruna.*
Sial. Perusahaan itu benar-benar menanam mata di setiap jengkal langit Jakarta. Aku berusaha tetap tenang, menjaga napas agar pusaran energi di dadaku tidak meledak dan menghancurkan pembuluh darahku sendiri. Jika aku berhenti sekarang, basis kultivasiku bisa retak. Tapi jika aku lanjut, drone itu akan mencatat anomali energi yang terpancar dari tubuhku.
"Fokus, Yoga. Anggap saja itu lalat hijau," batinku menyemangati diri sendiri, meski tanganku mulai gemetar hebat.
Drone itu mendekat. Ia mengeluarkan suara bip pendek, seolah sedang memindai spektrum energi di sekitarku. Lensa merahnya berputar, mencoba memfokuskan gambar pada kabut kelabu yang entah bagaimana mulai memusat ke arah hidung dan mulutku seperti pusaran badai kecil yang tak kasat mata bagi orang awam.
Udara di sekitarku mendadak mendingin. Tekanan di dadaku mencapai puncaknya.
*Krak!*
Sebuah bunyi retakan terdengar di dalam kepalaku, diikuti oleh sensasi plong yang luar biasa. Pusaran energi di dadaku kini telah stabil, berubah warna menjadi hitam pekat yang berkilau seperti batu onyx. Aku berhasil. Kultivasi Jelaga tingkat menengah. Kini, setiap sel dalam tubuhku seolah memiliki cadangan energi yang c**up untuk membuatku berlari dari Jakarta ke Bogor tanpa berkeringat.
Namun, kegembiraanku hanya bertahan satu detik.
Drone itu tiba-tiba mengeluarkan lampu peringatan berwarna kuning yang berkedip cepat. Sebuah suara sintetik yang dingin keluar dari speakernya, c**up keras hingga membuat beberapa pengendara motor di dekatku menoleh.
"Deteksi Anomali Bio-Energi di Koordinat 106.82. Subjek teridentifikasi sebagai warga sipil tak terdaftar. Perintah: Amankan untuk interogasi."
"Waduh, urusan panjang ini," gerutu ku sambil segera menyambar stang motor.
Aku menekan tombol starter. Vario-ku terbatuk sekali, dua kali, sebelum akhirnya menderu hidup. Di saat yang sama, drone itu mengeluarkan lengan mekanis kecil yang memancarkan aliran listrik biru. Ia menukik ke arahku dengan kecepatan yang tidak ma**k akal untuk ukuran perangkat pengawas.
Aku memutar gas dalam-dalam, merunduk di balik batok stang, dan melesat membelah celah sempit di antara dua mobil Toyota Fortuner yang sedang terjepit macet. Aku tidak boleh tertangkap. Jika Mega Aruna tahu ada 'Smog Master' yang tumbuh di bawah hidung mereka, motor warisan bapakku ini bukan satu-satunya hal yang akan kusembunyikan di gudang rongsokan.
Di spion, aku melihat drone itu bukan hanya satu. Dua drone lain muncul dari balik gedung tinggi, membentuk formasi pengejaran. Mereka melesat lincah di antara kabel-kabel listrik yang semrawut, mengunci posisiku sebagai target utama.
"Selamat datang di jam pulang kantor, para kaleng krupuk," desisku sambil menyeringai tipis, mengarahkan motorku menuju gang tikus yang paling gelap di daerah terowongan Menteng.
Permainan baru saja dimulai, dan Jakarta adalah labirinku. Tapi sebuah pertanyaan muncul di kepalaku: Sejak kapan perusahaan pengembang properti punya teknologi militer untuk mengejar tukang ojek? Sepertinya rahasia PT. Mega Aruna jauh lebih busuk daripada asap knalpot yang baru saja kutelan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!