Awan kelabu yang menggantung di atas kawasan SCBD sore itu bukan sekadar mendung. Bagi paru-paru orang awam, itu adalah racun yang menyesakkan. Namun bagi paru-paruku, itu adalah jamuan bintang lima. Aku menyandarkan motor matic-ku di trotoar, membiarkan mesinnya menderu pelan sambil menghirup dalam-dalam sisa pembakaran bus kota yang baru saja lewat.
Dingin, kotor, dan tajamβenergi itu mengalir melalui meridianku, memperkuat fondasi *Kitab Pernapasan Jelaga* yang kini menyatu dalam darahku. Aku memejamkan mata, menikmati sensasi 'kenyang' yang aneh ini, sampai sebuah aroma yang terlalu bersih menusuk indra penciumanku.
Bau parfum mawar dan kertas koran baru. Itu bau yang tidak cocok dengan aspal Jakarta.
"Mas Yoga? Pengemudi dengan ID 0992-X?"
Aku membuka satu mata. Di depanku berdiri seorang wanita dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya diikat kuda dengan berantakan, dan sebuah kartu pers berayun di lehernya. Wajahnya menunjukkan jenis tekad yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang yang belum pernah merasakan ditipu oleh sistem.
"Nggak narik, Mbak. Lagi istirahat," jawabku pendek, lalu kembali memejamkan mata.
"Saya bukan mau pesan ojek. Nama saya Maya, dari *Warta Ibu Kota*," ucapnya, suaranya naik satu oktav, mencoba bersaing dengan suara klakson yang bersahutan. "Saya mau tanya soal teman-teman Anda. Bang Udin, Tatang, dan Sodik. Mereka hilang setelah mengambil pesanan di sekitar gedung Mega Aruna, kan?"
Mendengar nama Udin, jantungku berdenyut agak kencang. Udin adalah orang yang meminjamkanku korek api seminggu sebelum dia lenyap dari grup WhatsApp komunitas. Aku membuka mata sepenuhnya, menatap Maya dengan tatapan datar yang sering kugunakan untuk menghadapi pelanggan yang komplain soal sambal yang kurang.
"Orang hilang itu urusan polisi, Mbak. Bukan urusan ojol yang cicilan motornya masih sisa dua belas bulan," kataku sambil menepuk jok motorku yang kulitnya mulai mengelupas.
Maya tidak mundur. Dia justru duduk di kursi plastik kosong di sampingku, mengabaikan debu hitam yang menempel di permukaannya. "Polisi bilang mereka cuma 'pindah kerja' atau 'pulang kampung'. Tapi saya punya data. Dalam sebulan terakhir, dua belas driver ojek online hilang di radius lima ratus meter dari gedung itu." Dia menunjuk ujung gedung Mega Aruna yang menjulang angkuh, puncaknya seolah menusuk langit yang kian menghitam.
"Terus? Mbak mau saya jadi pahlawan? Pakai kostum ketat terus lari-lari di atas gedung?" aku terkekeh sinis. "Dunia nggak kayak gitu, Mbak. Di sini, kalau lo nggak punya duit, lo nggak punya suara. Dan kalau lo terlalu vokal, lo hilang. Simpel."
Maya menatapku, matanya berkilat marahβatau mungkin kecewa. "Anda tahu sesuatu, kan? Saya lihat Anda tadi. Anda nggak batuk sama sekali padahal asap di sini c**up buat bikin orang asma pingsan. Anda malah kelihatan... nyaman?"
Aku tertegun sejenak. Sial, apa aku terlalu terang-terangan menyerap polusi tadi?
"Saya cuma udah biasa hidup susah, Mbak. Paru-paru saya sudah mutasi jadi filter knalpot," kilahku cepat. Aku menyalakan mesin motor, berniat pergi sebelum jurnalis ini menggali terlalu dalam.
"Tunggu!" Maya menahan stang motorku. Tangannya gemetar, tapi genggamannya kuat. "Sodik itu adik saya, Yoga. Dia cuma mau cari uang tambahan buat kuliahnya. Dia nggak mungkin 'pulang kampung' tanpa bawa motornya. Motornya ditemukan di basement Mega Aruna dalam keadaan bersih tanpa sidik jari sama sekali. Tolong... saya tahu ada yang nggak beres di dalam sana."
Keheningan dingin menyelimuti kami di tengah kebisingan Sudirman. Aku menatap mata Maya. Ada keputusasaan yang nyata di sana, jenis emosi mentah yang biasanya menjadi santapan lezat bagi para penghuni kegelapan di balik gedung pencakar langit itu. Mega Aruna bukan sekadar perusahaan properti. Aku bisa merasakan denyut energi negatif yang memancar dari sanaβseperti pusaran hitam yang menghisap sisa-sisa harapan warga Jakarta.
"Mbak tahu apa yang mereka lakuin di dalam sana?" tanyaku, suaraku merendah.
"Investigasi saya mentok di izin bangunan. Tapi ada satu hal aneh," Maya merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah foto yang diambil dengan lensa jarak jauh. Foto itu menunjukkan beberapa pria berjubah gelap sedang menurunkan tabung-tabung besar ke gudang bawah tanah Mega Aruna pada jam tiga pagi. "Itu bukan tabung gas. Baunya... seperti bau bangkai yang terbakar."
Aku memicingkan mata. Di pojok foto itu, ada simbol kecil pada tabung-tabung tersebut. Simbol rant** yang melilit kalajengking. Jantungku mencelos. Itu adalah segel 'Penjerat Jiwa'. Sekte yang disebutkan dalam *Kitab Pernapasan Jelaga* sebagai musuh bebuyutan para praktisi energi alam, bahkan praktisi jalur kotor sepertiku.
Tiba-tiba, suhu di sekitar kami turun drastis. Kabut hitam yang biasanya melayang tinggi di udara kini mulai turun, merayap di atas aspal seperti ular yang lapar. Orang-orang di sekitar kami mulai batuk-batuk hebat, namun anehnya, mereka seolah tidak sadar dan tetap berjalan seperti zombi menuju arah stasiun.
"Ada yang datang," gumamku.
"Apa maksudmu?" Maya tampak bingung, tangannya mulai meraba lehernya, mulai merasa sesak.
Aku turun dari motor, menghentakkan kaki ke aspal. Sebuah gelombang kecil energi jelaga terpancar dari tumitku, menciptakan kubah transparan tipis yang menahan kabut hitam itu agar tidak menyentuh Maya.
Di ujung jalan, dari balik bayang-bayang pilar raksasa gedung Mega Aruna, muncul tiga sosok pria dengan jaket ojek online yang tampak terlalu kaku. Wajah mereka pucat, mata mereka kosong tanpa pupil, dan dari mulut mereka keluar asap hitam pekat yang berdenyut seirama dengan detak jantung yang mati.
"Itu... Sodik?" bisik Maya dengan suara parau, menunjuk salah satu dari mereka.
"Bukan lagi, Mbak," kataku sambil mengepalkan tangan, merasakan energi polusi di sekitarku memadat menjadi semacam pelindung di permukaan kulitku. "Itu cuma wadah kosong yang dipenuhi polusi jiwa. Mundur, Mbak. Sekarang."
Salah satu dari 'ojol' itu melompat ke arah kami dengan kecepatan yang tidak ma**k akal, kuku-kukunya memanjang seperti cakar hitam yang siap merobek aspalβdan tenggorokan kami.
Aku menyadari satu hal: pertemuanku dengan Maya bukan sekadar kebetulan. Ini adalah undangan resmi dari Mega Aruna untukku agar berhenti menjadi penonton di pinggir jalan.
"Pegang motor gue kuat-kuat, Mbak," perintahku sambil menarik napas dalam, menghisap semua karbon monoksida di udara sekitar hingga hampa. "Jangan tutup mata, karena lo bakal lihat kenapa Jakarta nggak pernah benar-benar bersih."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!