Bau logam berkarat dan amis air payau menusuk hidung saat aku mematikan mesin Beat karburatorku di balik rimbunnya pohon kersen, sekitar tiga ratus meter dari gerbang belakang kompleks pergudangan PT Mega Aruna. Biasanya, di jam-jam seperti ini, aku akan menarik napas dalam-dalam, membiarkan residu timbal dan sulfur dari knalpot truk-truk kont**ner mengalir ma**k ke paru-paruku, lalu mengubahnya menjadi aliran panas yang menguatkan otot.
Namun, malam ini berbeda. Aku harus menahan diri.
Sesuai instruksi dalam Kitab Pernapasan Jelaga, sensor energi Sekte I**** Penjerat Jiwa sanggup mendeteksi fluktuasi *mana* sekecil apa pun yang beresonansi dengan polusi. Jika aku menyerap asap malam ini, namaku akan langsung muncul di radar mereka sebagai anomali. Jadi, di sinilah aku sekarang: kembali menjadi Yoga yang asli. Pemuda kurus, agak bungkuk karena terlalu sering memacu motor, dan perut yang keroncongan karena hanya terganjal selembar roti sisa tadi pagi.
"Sial, badan gue berasa ringkih banget kalau nggak 'nyabu' asap begini," bisikku pada diri sendiri, sambil membetulkan letak jaket ojolku yang sudah memudar warnanya.
Aku merangkak melewati celah pagar kawat yang sudah kupotong diam-diam dua hari lalu saat berpura-pura mengantar paket salah alamat. Di depanku, gudang logistik Mega Aruna berdiri angkuh seperti peti mati raksasa berbahan seng. Lampu sorot halogen menyapu area parkir secara berkala. Aku harus bergerak di antara bayangan, mengandalkan insting navigasi yang biasa kugunakan saat mencari jalan tikus di gang-gang sempit Tambora demi mengejar bonus poin.
Tanpa kekuatan *Smog Master*, setiap langkah terasa berat. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku yang menonjol. Aku memanjat pipa pembuangan air di sisi samping gudang. Besinya dingin dan licin karena embun Jakarta yang lengket. Tanganku gemetar, dan napasku pendek-pendek.
*Ayo, Yo. Lo cuma butuh ma**k ke dalam. Jangan mati konyol gara-gara kepeleset pipa air,* batinku menyemangati diri sendiri.
Aku berhasil mencapai lubang ventilasi di ketinggian sekitar delapan meter. Dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan decit logam, aku mengintip ke dalam.
Pemandangan di bawah membuat bulu kudukku berdiri, lebih dingin dari hembusan AC mal mana pun.
Gudang itu tidak berisi tumpukan kardus mi instan atau barang elektronik seperti layaknya gudang logistik normal. Di bawah sana, ribuan botol kaca berbentuk tabung reaksi besar berjajar di rak-rak raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit. Di dalam tabung-tabung itu, ada sesuatu yang bergerak—uap berwarna kelabu pekat yang berdenyut-denyut seperti jantung yang sekarat.
"Itu bukan asap biasa," gumamku pelan, hampir tak terdengar.
Aku mengenalinya. Itu adalah esensi dari kemacetan SCBD pukul lima sore, keputusasaan buruh pabrik yang terlambat absen, dan amarah para pengendara yang terjebak di bawah terik matahari. Itu adalah energi depresi murni yang dipanen dari jalanan Jakarta.
Di tengah ruangan, beberapa orang berjubah abu-abu—seragam "kurir" Mega Aruna—sedang mengelilingi sebuah kont**ner besar yang mengeluarkan cahaya ungu redup. Mereka tidak bicara. Mereka bergerak dengan sinkronisasi yang tidak alami, seolah-olah mereka adalah bagian dari mesin yang sama.
"Ingat, pengiriman ke pusat harus selesai sebelum fajar," sebuah suara berat bergema, memecah kesunyian.
Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas mahal muncul dari balik bayangan. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan aura yang membuatku ingin muntah. Dia berdiri di depan kont**ner itu, tangannya menyentuh permukaan logam yang terukir simbol-simbol aneh—aksara kuno yang berdenyut seirama dengan napas penduduk kota yang menderita.
"Leluhur membutuhkan makanan yang lebih segar," lanjut pria itu. "Kemacetan di perempatan Kuningan besok harus dibuat dua jam lebih lama. Putuskan kabel lampu lalu lintas secara 'tidak sengaja' di jam sibuk."
Salah satu pengikutnya membungkuk dalam. "Baik, Manajer Surya. Frekuensi depresi sudah mencapai ambang batas yang ditentukan."
Aku mengeratkan peganganku pada pinggiran ventilasi. Dadaku sesak, bukan karena polusi, tapi karena amarah. Mereka benar-benar menjadikan penderitaan orang kecil sebagai komoditas. Bayangan ibuku yang dulu sering pulang kerja dengan wajah kuyu dan napas berat karena kelelahan di angkot tiba-tiba melintas. Semua itu... semua kelelahan warga kota ini, adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jahat.
Tiba-tiba, perutku berbunyi. Bunyi keroncongan yang nyaring di tengah gudang yang sunyi itu.
*Deg.*
Manajer Surya berhenti bicara. Kepalanya menoleh ke arah langit-langit, tepat ke arah ventilasi tempatku bersembunyi. Matanya yang tajam seolah menembus kegelapan.
"Ada tikus yang berani ma**k," desisnya.
Dia tidak berteriak, tapi nada bicaranya mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sarafku. Tanpa membuang waktu, aku segera memundurkan tubuh, berusaha meluncur turun secepat mungkin melalui pipa tadi. Masa bodoh dengan kulit tangan yang lecet, keselamatanku lebih penting.
Saat kakiku menyentuh tanah, aku mendengar pintu darurat gudang terbanting terbuka. Tiga orang berpakaian abu-abu berlari keluar dengan kecepatan yang tidak ma**k akal untuk manusia biasa. Mereka tidak menggunakan senter; mata mereka menyala dengan cahaya ungu redup di kegelapan malam.
Aku berlari sekencang mungkin menuju tempat motor Beat-ku disembunyikan. Napasku tersenggal, otot kakiku yang lemas berteriak minta tolong. Aku bisa merasakan kehadiran mereka di belakangku, semakin dekat, seperti bayangan yang hendak menelan cahaya.
"Tolong, nyala... tolong nyala!" aku merapal doa saat mema**kkan kunci ke lubang starter.
Mesin motorku terbatuk sekali, dua kali. Si****, aki tua ini memang selalu bermasalah di saat genting.
Aku menoleh ke belakang. Salah satu dari mereka melompat dari jarak lima meter, tangannya terulur seperti cakar dengan kuku-kuku hitam yang panjang. Jaraknya hanya tinggal dua meter dari posisiku.
Di saat terdesak itu, tanganku tanpa sadar meremas s****g motor, dan insting *Smog Master*-ku berontak. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku butuh kekuatan, atau aku akan mati di sini.
Tepat saat cakar itu hampir merobek jaket ojolku, aku membuka paksa segel pernapasan di paru-paruku. Aku menarik napas sekuat mungkin, menyedot seluruh sisa emisi dari knalpot truk yang terparkir tak jauh dari sana.
*BUM!*
Ledakan energi berwarna hitam jelaga terpental dari tubuhku, menghantam pengejarku hingga terpental ke tumpukan palet kayu. Mesin motorku tiba-tiba meraung kencang, seolah-olah bensinnya telah berubah menjadi nitro murni.
Namun, di saat yang sama, sebuah sirine berbunyi nyaring dari arah gudang. Lampu merah berputar menyala di seluruh kompleks. Aku sudah terdeteksi. Rahasiaku sudah terbongkar.
Dan yang lebih buruk lagi, dari arah gerbang utama, aku melihat Manajer Surya berjalan tenang keluar, sambil memegang sebuah remot kecil. Dia menekannya, dan tiba-tiba, mesin motor matic-ku—satu-satunya peninggalan ayahku—mulai mengeluarkan percikan api listrik yang tidak wajar.
"Jangan motor gue..." bisikku parau, sementara bayangan gelap yang lebih besar mulai keluar dari dalam gudang, mengepungku dari segala arah.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!