Lant** 44 Gedung Mega Aruna berbau seperti rumah sakit yang terlalu berambisi—steril, dingin, dan menusuk hidung dengan aroma ozon yang sintetis. Bagi orang normal, udara ini mungkin terasa mewah. Namun bagi Yoga, setiap helatan napas di sini terasa seperti menelan kapas kering. Paru-parunya, yang sudah terbiasa dengan "diet" karbon monoksida dan partikulat timbal dari kemacetan Gatot Subroto, kini meronta-ronta menuntut a**pan jelaga.
Yoga menarik tudung jaket ojolnya lebih rendah, menyelinap di antara bayang-bayang pilar marmer yang menjulang. Ia baru saja melewati lorong teknisi dengan memanfaatkan kartu akses yang ia "pinjam" dari seorang manajer mabuk di parkiran tadi malam. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena basis kultivasi 'Pernapasan Jelaga' di dalam tubuhnya mulai goyah. Tanpa polusi, ia seperti ikan yang dilemparkan ke dalam bak berisi air suling; bersih, tapi mematikan.
"Si****," bisiknya, suaranya parau. "Tempat ini terlalu bersih. Bikin mual."
Ia sampai di sebuah pintu ganda berbahan baja nirkarat dengan simbol perusahaan Mega Aruna—sebuah lingkaran yang melilit menara. Menggunakan sisa-sisa energi hitam di ujung jarinya, Yoga merusak sirkuit elektronik kunci pintu tersebut. *Klik.* Pintu bergeser tanpa suara.
Di balik pintu itu, Yoga tidak menemukan kantor mewah. Sebaliknya, ia berdiri di atas balkon besi yang mengelilingi sebuah ruang silinder raksasa yang menembus hingga tiga lant** ke bawah. Di tengah ruangan, sebuah mesin setinggi sepuluh meter berdenyut dengan cahaya ungu kebiruan. Bentuknya menyerupai turbin raksasa, namun permukaannya dipenuhi ukiran aksara kuno yang berpendar—serupa dengan yang ia lihat di Kitab Pernapasan Jelaga, namun dengan aura yang jauh lebih jahat.
Yoga memicingkan mata. Di sekeliling mesin itu, puluhan pipa besar transparan terhubung ke dinding luar gedung. Di dalam pipa-pipa itu, ia melihat sesuatu yang membuatnya merinding: gumpalan asap hitam pekat yang bergerak seperti makhluk hidup, dipompa ma**k dari udara luar Jakarta.
"Jadi ini cara mereka main," gumam Yoga. Ia mencengkeram pagar besi, matanya mengikuti aliran asap itu.
Mesin itu bukan sekadar filter udara. Itu adalah kondensor mistis. Alat itu menyedot polusi dari kemacetan di bawah sana—asap knalpot, debu konstruksi, dan yang paling mengerikan, residu emosi negatif dari ribuan orang yang stres terjebak macet—lalu memadatkannya menjadi energi murni yang disalurkan ke inti gedung.
Pantas saja Jakarta tidak pernah benar-benar bersih meski pemerintah sudah berkali-kali melakukan uji emisi. Mega Aruna sengaja menjaga kota ini tetap beracun. Mereka butuh polusi itu. Mereka butuh kemarahan warga di jam pulang kantor sebagai bahan bakar.
"Semakin macet jalannya, semakin kuat sekte ini," Yoga menyeka keringat dingin di dahinya. "G***. Mereka panen dari penderitaan kita semua."
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berubah warna menjadi merah darah. Suara dengung rendah yang menggetarkan tulang belakang bergema di udara. Yoga tersentak, refleks meraba kunci motor di sakunya—jimat keberuntungannya.
"Penyusup terdeteksi di Sektor 4," sebuah suara mekanis yang datar menggema melalui pengeras suara.
Yoga berbalik untuk lari kembali ke pintu akses, namun pintu baja itu sudah menutup rapat dengan bunyi dentuman yang berat. Ia terjebak. Ia mencoba memanggil energi jelaga dalam tubuhnya untuk menghantam pintu, namun saat ia menarik napas, ia merasakan kekosongan yang mengerikan.
Sistem ventilasi di ruangan itu mulai bekerja dengan kekuatan penuh. Bukan mengeluarkan asap, melainkan menyedot setiap partikel debu dan polusi yang tersisa di ruangan itu. Dalam hitungan detik, udara di sekitar Yoga menjadi sangat murni hingga terasa tajam seperti pisau di tenggorokannya.
"Uhuk! Sial... apa ini?" Yoga jatuh berlutut.
Ia bisa merasakan kabut hitam di dalam paru-parunya—sumber kekuatannya—mulai menipis, seolah teruap oleh kemurnian udara di ruangan tersebut. Ruangan ini adalah *Clean Room* tingkat tinggi, sebuah ruang kedap udara yang dirancang untuk mematikan kemampuan siapa pun yang bergantung pada energi kotor.
Langkah kaki terdengar dari balik dinding kaca di sisi lain balkon. Seorang pria dengan setelan jas rapi dan kacamata frameless muncul, menatap Yoga dengan pandangan jijik seperti melihat kecoak di atas meja makan.
"Smog Master?" Pria itu terkekeh, suaranya terdengar melalui interkom. "Seorang tukang ojek yang mencoba bermain menjadi pahlawan dengan menghirup racun. Kau tahu, Yoga? Kau adalah anomali yang menarik, tapi sayangnya, kau berada di tempat yang salah. Di sini, oksigen adalah musuhmu."
Yoga mencoba berdiri, tapi kakinya terasa seperti jeli. Dadanya sesak, bukan karena asap, tapi karena ketiadaan asap. Pandangannya mulai kabur. Ia bisa melihat bayangan hitam di dalam dirinya perlahan memudar, digantikan oleh rasa lemas yang luar biasa. Baginya, udara bersih ini adalah racun yang paling mematikan.
"Tanpa polusi Jakarta-mu yang tercinta itu, kau cuma sampah malnutrisi dengan jaket kusam," lanjut pria itu. Ia menekan sebuah tombol di panel kendali. "Mari kita lihat berapa lama kau bertahan sebelum paru-parumu meledak karena udara yang terlalu sehat ini."
Yoga tersungkur, pipinya menempel pada lant** yang dingin dan steril. Ia melihat ke arah tangannya yang mulai pucat. Di bawah sana, mesin raksasa Mega Aruna terus berdenyut, memompa 'kehidupan' dari kesengsaraan warga Jakarta, sementara ia sendiri sekarat di dalam kemewahan udara yang paling murni.
Ia harus mencari cara. Sebuah celah. Sebuah kotoran. Apapun. Namun, saat kesadarannya mulai menjauh, pintu di ujung ruangan terbuka, dan beberapa sosok berjubah hitam dengan masker gas logam mulai melangkah ma**k, membawa tongkat listrik yang berderit.
Yoga memejamkan mata, jantungnya berdegup lemah. Satu-satunya yang ia pikirkan hanyalah motor matic-nya yang terparkir di bawah sana. Jika ia mati di sini, siapa yang akan membayar sisa cicilannya? Dan yang lebih penting, siapa yang akan menghentikan orang-orang ini sebelum seluruh Jakarta berubah menjadi ladang ternak bagi sekte i**** ini?
"Belum..." Yoga mencakar lant** marmer, meninggalkan bekas goresan tipis. "Gue belum... selesai..."
Tapi kegelapan—jenis kegelapan yang bersih dan hampa—mulai menyeretnya turun. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yoga merindukan bau busuk knalpot bus kota melebihi apa pun di dunia ini.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!