Lampu neon di selasar Fakultas Teknik berkedip-kedip ritmis, menyisakan jeda kegelapan selama satu detik sebelum kembali menyala dengan bunyi *dengung* listrik yang mengganggu telinga. Damar melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. 23:05. Logikanya berteriak bahwa ini adalah tindakan konyol, namun memori fotografisnya terus menampilkan visual laptop perak miliknya yang tergeletak malang di atas meja Lab Komputer 3, tepat di samping kursi nomor 12.
"Sial," umpatnya pelan. Uap tipis keluar dari mulutnya. Udara malam ini tidak hanya dingin, tapi terasa... padat.
Damar mempercepat langkahnya menuju pintu ma**k utama gedung. Ia tahu aturannya: jam sebelas malam adalah batas suci di mana seluruh penghuni kampus harus sudah hengkang. Mitos-mitos tentang mahasiswa yang 'terjebak' di gedung ini sering beredar di kantin, tapi bagi Damar, hantu hanyalah manifestasi dari kegagalan otak memproses anomali lingkungan.
"Mas Damar? Kok belum pulang?"
Suara serak itu membuat Damar tersentak kecil. Di bawah temaram lampu pos jaga, Pak Jono, satpam senior berkumis tebal, menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara cemas dan peringatan. Tangannya yang memegang senter tampak sedikit gemetar.
"Laptop saya ketinggalan di Lab 3, Pak. Cuma ambil sebentar, kok. Paling lima menit," ujar Damar, berusaha terdengar sesant** mungkin.
Pak Jono menggeleng cepat, kunci-kunci di pinggangnya berdentang nyaring. "Enggak bisa, Mas. Ini sudah lewat jam sebelas. Mas tahu kan peraturannya? Gedung ini harus dikosongkan. Ayo, pulang saja, besok pagi lagi."
Damar menarik napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa kesabarannya. "Pak, besok jam tujuh pagi saya ada presentasi. Kalau tugas itu hilang atau labnya dikunci sampai siang, saya bisa tidak lulus mata kuliah ini. Tolonglah, Pak. Saya bawa KTP sebagai jaminan."
Pak Jono terdiam sejenak. Ia melihat ke arah gedung yang menjulang gelap di belakang Damar, lalu kembali menatap mahasiswa itu dengan tatapan memelas. "Mas... firasat saya nggak enak. Malam ini udaranya beda. Mas nggak ngerasa?"
Damar mengangkat bahu. "Cuma penurunan suhu biasa karena kelembapan, Pak. Logis saja."
Dengan berat hati dan gumaman doa yang tak putus, Pak Jono akhirnya menyerahkan kunci cadangan. "Lima menit, Mas. Jangan menoleh kalau dengar suara aneh. Dan yang paling penting... jangan ma**k ke ruangan yang lampunya menyala kalau di jadwal seharusnya kosong."
Damar hanya mengangguk formalitas, meski dalam hati ia menganggap nasihat itu berlebihan. Ia mengambil kunci tersebut, merasakan logam dingin di telapak tangannya, dan melangkah ma**k ke dalam perut gedung yang gelap.
Begitu pintu kaca tertutup di belakangnya, suara bising dari jalan raya di luar kampus seolah terputus seketika. Hening yang tercipta terasa menyakitkan telinga. Damar mulai menaiki anak tangga menuju lant** tiga. Setiap langkah sepatunya yang menghantam lant** granit menggema ke seluruh penjuru lorong, menciptakan ilusi seolah-olah ada seseorang yang mengikutinya dengan ritme yang sama.
Lant** dua terlewati. Ia bisa mencium aroma oli dan karat yang khas dari ruang praktik mesin. Namun, saat menginjakkan kaki di lant** tiga, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Suhu di sini turun drastis, jauh lebih dingin daripada di luar gedung. Damar merapatkan jaket denimnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu tidak beraturan.
*Hanya anomali ventilasi,* batinnya berulang-ulang.
Ia berjalan menyusuri lorong panjang yang hanya diterangi oleh cahaya bulan dari balik jendela kaca yang kusam. Bayangannya sendiri memanjang di dinding, tampak seperti sosok asing yang mencoba meraihnya. Saat melewati Ruang 302, Damar berhenti mendadak.
Ada suara.
Sangat halus, seperti gesekan kapur di atas papan tulis. *Sret... sret... sret...*
Damar menegang. Pikirannya langsung memanggil jadwal pemakaian ruangan. *Lant** tiga, Ruang 302 sampai 310, seharusnya dikosongkan total setelah jam delapan malam.* Ia menoleh ke arah Ruang 304 yang berada tepat di depan Lab Komputer.
Lampu di dalam Ruang 304 menyala.
Cahaya kuning pucat merembes dari celah bawah pintu, kontras dengan kegelapan pekat di sekitarnya. Bau formalin yang samar—sesuatu yang seharusnya tidak ada di fakultas teknik—mulai menusuk hidungnya.
*Jangan ma**k ke ruangan yang lampunya menyala.*
Nasihat Pak Jono terngiang di kepalanya. Namun, rasa ingin tahunya yang didorong oleh logika skeptis mulai memberontak. Siapa yang mengadakan kelas di jam seperti ini? Apa ada dosen yang serajin itu? Atau jangan-jangan itu pencuri?
Damar mendekati pintu Ruang 304. Tangannya yang memegang laptop—yang baru saja ia ambil dari lab sebelah tanpa kendala—mulai berkeringat dingin. Ia mencoba mengintip melalui celah kaca kecil di pintu.
Di dalam sana, ia melihat punggung seorang pria yang mengenakan setelan jas tua berwarna abu-abu. Pria itu berdiri membelakangi pintu, sedang menulis sesuatu di papan tulis dengan gerakan yang sangat kaku, hampir menyerupai patahan-patahan manekin.
Damar menyipitkan mata, mengandalkan memori fotografisnya untuk mengenali sosok itu. Potongan rambutnya, cara berdirinya... ia seperti pernah melihat foto pria itu di dinding aula utama fakultas sebagai mantan dekan yang berprestasi. Prof. Arman. Tapi masalahnya, Prof. Arman sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Tiba-tiba, suara gesekan kapur itu berhenti.
Keheningan yang lebih mencekam menyergap. Damar menahan napas, tidak berani bergerak sedikit pun. Di dalam sana, pria itu perlahan-lahan mulai menolehkan kepalanya. Bukan hanya kepalanya, tapi seluruh tubuhnya berputar dengan bunyi tulang yang berderak keras seperti rant** mesin yang karatan.
Mata Damar membelalak saat ia melihat papan tulis di belakang pria itu. Di sana, tertulis sederet nama mahasiswa dengan tulisan tangan yang rapi namun tajam. Di samping setiap nama, terdapat angka-angka yang menyerupai koordinat atau jam.
Paling bawah, dengan kapur merah yang tampak masih basah, tertulis sebuah nama: *Damar Ardiansyah - 23:01.*
Jantung Damar seakan berhenti berdetak. Itu namanya. Dan jam yang tertulis di sana... seharusnya sudah lewat empat menit yang lalu.
Pria di dalam ruangan itu kini menatap tepat ke arah celah kaca tempat Damar mengintip. Wajahnya pucat pasi dengan mata yang hanya menyisakan bagian putihnya saja. Bibir pria itu bergerak, tanpa suara, namun Damar bisa membacanya dengan jelas:
"Kenapa kamu terlambat, Damar?"
Detik itu juga, gagang pintu Ruang 304 mulai berputar perlahan dari dalam. Damar tersadar dari bekunya. Tanpa berpikir lagi, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menyusuri lorong yang tiba-tiba terasa memanjang tanpa ujung, sementara suara langkah kaki yang berat dan terseret mulai mengejarnya dari kegelapan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!