Keringat dingin membasahi tengkuk Damar, membuat kerah kemejanya terasa lengket dan tidak nyaman. Lorong dekanat Fakultas Teknik tampak berbeda di malam hari; lampu-lampu neon yang biasanya terang benderang kini meredup, berkedip ritmis seolah mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Damar berhenti di depan pintu kayu jati kokoh bertuliskan *Ruang Dekan*.
Ia memejamkan mata sejenak. Memori fotografisnya mulai memindai kejadian tiga jam yang lalu, saat ia sengaja bersembunyi di balik pilar ruang tunggu untuk melihat Sekretaris Dekan menekan kode akses pintu itu. *4-0-1-1-9-5*. Angka-angka itu meluncur di benaknya seperti proyeksi film. Dengan tangan sedikit gemetar, Damar menekan tombol angka pada panel digital di samping pintu. Bunyi *klik* halus terdengar, diikuti oleh desis mesin pengunci yang terbuka.
Ruangan itu senyap, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim. Aroma kayu cendana dan kertas tua menyambutnya. Damar tidak berani menyalakan lampu utama. Ia merogoh saku, mengeluarkan senter kecil yang cahayanya ia redupkan dengan jempol. Cahaya pucat itu menyapu meja kerja luas yang tertata rapi, deretan piala perak yang mengkilap, dan rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit.
"Di mana mereka menyembunyikannya?" bisik Damar pada kesunyian.
Logikanya bekerja cepat. Jika kutukan Prof. Arman adalah sesuatu yang bersifat administratifβsebuah kurikulum mautβmaka jejaknya pasti ada di antara arsip penting. Ia melewati tumpukan proposal penelitian dan beralih ke lemari besi di sudut ruangan yang tertutup bayangan.
Damar berlutut di depan lemari arsip berlabel *Dokumen Rahasia & Aset Institusi*. Sial, ini dikunci secara manual. Ia meraba bagian atas bingkai pintu lemari, teknik lama yang sering ia baca di novel detektif, dan ujung jarinya menyentuh sesuatu yang dingin. Sebuah kunci kecil.
"Klise," gumamnya, meski napasnya masih memburu.
Pintu lemari terbuka dengan derit halus yang terasa m****akkan telinga di tengah kesunyian malam. Damar mulai menggeledah. Map demi map ia lewati: *Laporan Audit 2014, Sengketa Lahan 2018...* hingga tangannya menyentuh sebuah map kulit berwarna hitam tanpa label tahun. Hanya ada sebuah simbol kecil di sudut kanan bawah: logo universitas yang dilingkari tinta merah darah.
Ia membukanya. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran kertas yang menguning dengan stempel "Sangat Rahasia". Mata Damar membelalak saat melihat daftar nama mahasiswa dari sepuluh tahun yang lalu. Di samping setiap nama, terdapat catatan medis singkat: *Gagal jantung, Kecelakaan tunggal, Bunuh diri.*
Namun, yang membuat darahnya terasa membeku adalah sebuah memo internal yang ditandatangani oleh Dekan saat ini, Dr. Hamzah.
*Subjek: Optimasi Reputasi Institusi melalui Protokol Jam Sebelas.*
*Isi: Siklus sepuluh tahunan Prof. Arman telah terbukti menekan angka kriminalitas dan pelanggaran moral di lingkungan kampus secara signifikan melalui 'efek jera' yang tidak terlihat. Korban yang terpilih adalah variabel yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan prestasi universitas. Pastikan setiap insiden ditangani sebagai kecelakaan murni. Jangan ada autopsi mandiri.*
Damar merasa mual. Ini bukan sekadar kutukan hantu yang mendendam. Ini adalah sistem. Kampus ini tidak sedang dihantui; mereka sedang *memelihara* hantu itu. Mereka menggunakan Prof. Arman sebagai algojo untuk menyingkirkan mahasiswa yang dianggap 'c****' atau sekadar menjadi tumbal untuk menjaga nama baik universitas di bawah bayang-bayang mistis yang mereka kontrol.
Tangannya gemetar saat membalik halaman berikutnya. Di sana terdapat daftar terbaru. *Daftar Target Kurikulum Maut β Periode Semester Ganjil.*
Ia melihat nama-nama temannya. Dan di urutan paling bawah, tertulis dengan tinta hitam yang masih tampak segar: *Damar Ardiansyah β Status: Proses Tereliminasi. Jadwal: 23:01.*
"Logis sekali," suara Damar pecah, sebuah tawa pahit lolos dari tenggorokannya. "Kalian tidak takut pada hantu. Kalian takut pada kehilangan dana hibah dan peringkat akreditasi."
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang benderang, membuat mata Damar perih seketika. Ia refleks menutupi matanya dengan lengan.
"Sangat tidak sopan mema**ki ruang kerja orang lain tanpa izin, Damar."
Damar tersentak dan berbalik. Di ambang pintu, berdiri Dr. Hamzah. Pria tua itu tampak tenang, mengenakan setelan jas lengkap seolah baru saja menghadiri jamuan makan malam, bukan berdiri di kantornya pada pukul satu pagi. Di belakangnya, dua petugas keamanan kampus berdiri dengan ekspresi dingin tanpa nyawa.
"Jadi ini alasannya?" Damar mengangkat map kulit itu tinggi-tinggi, suaranya bergetar karena kemarahan yang meluap. "Prof. Arman tidak bunuh diri karena g***. Kalian yang mendorongnya, lalu kalian menggunakan arwahnya untuk membersihkan sampah yang kalian buat sendiri?"
Dr. Hamzah melangkah ma**k, langkah kakinya terdengar mantap di atas lant** parket. "Dunia ini berjalan di atas tumbal, Damar. Kamu mahasiswa yang cerdas, kamu seharusnya paham tentang efisiensi. Setiap institusi besar membutuhkan fondasi yang kuat, dan terkadang fondasi itu harus diperkuat dengan sesuatu yang lebih dari sekadar semen dan baja."
"Ini pembunuhan!" teriak Damar.
"Ini adalah manajemen risiko," koreksi Dr. Hamzah dengan nada datar, seolah sedang memberikan kuliah umum. "Kamu tahu, namamu ada di daftar itu bukan karena kamu buruk. Tapi karena kamu terlalu banyak tahu. Skeptisismemu itu berbahaya bagi narasi yang sudah kami bangun selama puluhan tahun."
Dr. Hamzah melirik jam tangannya, lalu menatap Damar dengan tatapan yang hampir menyerupai rasa kasihan.
"Sayangnya, kamu sudah terlambat. Kamu sudah melihat dokumen itu, yang berarti kamu sudah resmi menjadi bagian dari 'kurikulum' malam ini. Apakah kamu tidak merasakannya, Damar?"
Damar mengerutkan kening. Tiba-tiba, suhu di ruangan itu merosot tajam. Senter kecil di tangannya meledak, menyisakan bau kabel terbakar. Dari balik bayangan di belakang Dr. Hamzah, muncul kepulan asap hitam yang perlahan membentuk siluet pria tinggi kurus dengan leher yang miring secara tidak wajar.
Prof. Arman.
"Jam sebelas malam bukan hanya waktu kematian, Damar," bisik Dr. Hamzah sambil melangkah mundur, membiarkan pintu ruangannya tertutup secara otomatis dan terkunci dari luar. "Itu adalah waktu di mana peraturan kami berlaku mutlak."
Cahaya di dalam ruangan mulai berkedip-kedip merah. Di papan tulis putih milik dekan, tulisan mulai muncul dengan sendirinya, seolah diukir oleh tangan tak kasat mata.
*Ujian Akhir: Damar Ardiansyah. Materi: Bertahan Hidup.*
Damar mundur hingga punggungnya membentur jendela kaca besar di lant** empat itu. Di depannya, Prof. Arman mulai melayang mendekat, membawa selembar kertas absen yang berlumuran darah. Di luar jendela, jam besar di menara kampus berdentang satu kali, namun anehnya, jarum jam itu justru mulai bergerak mundur.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!