Udara di lorong lant** satu Gedung Dekanat Fakultas Teknik terasa seolah membeku, meski pendingin ruangan seharusnya sudah mati sejak pukul delapan malam. Damar melangkah dengan hati-hati, membiarkan cahaya senter ponselnya membelah kegelapan yang pekat. Memorinya memutar ulang denah bangunan ini dengan presisi digital; tiga puluh langkah dari tangga darurat, belok kiri menuju ruang arsip, lalu tangga spiral menuju basement.
Suara langkah kakinya yang mengenakan sepatu kets bergema, menciptakan irama ganjil yang seolah disahuti oleh detak jantungnya sendiri. *Logika, Damar. Gunakan logikamu,* batinnya. Namun, logika tidak bisa menjelaskan mengapa namanya tertulis di papan tulis Prof. Arman dengan tinta yang tampak seperti darah mengering.
"Masih mencari jalan keluar, Mas Damar?"
Suara berat dan serak itu muncul dari kegelapan di depan, membuat Damar tersentak hingga hampir menjatuhkan ponselnya. Cahaya senter menyambar sosok pria berseragam safari biru tua yang berdiri kaku di ujung lorong. Itu Pak Mulyo, satpam yang biasanya dikenal ramah dan sering berbagi kopi dengan mahasiswa yang lembur di lab. Namun, malam ini, ada yang salah dengan Pak Mulyo.
Wajahnya tampak pucat di bawah sorotan lampu senter, kulitnya seolah tertarik terlalu kencang pada tulang pipinya. Matanya tidak berkedip, hanya menatap kosong ke arah dada Damar.
"Pak Mulyo? Bapak mengagetkan saya," ujar Damar, mencoba menetralkan suaranya yang bergetar. "Saya mau ke arah parkiran, tapi sepertinya pintu utama sudah dikunci."
Pak Mulyo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu tua. "Parkiran itu di luar, Mas. Tapi kurikulumnya... kurikulumnya ada di bawah. Prof. Arman sudah menunggu laporan praktikummu."
Damar memundurkan langkahnya. Instingnya berteriak untuk lari, tetapi ia teringat sesuatu. "Bagaimana Bapak tahu nama saya? Saya tidak pernah memakai papan nama dan kita belum pernah bicara secara formal."
Pak Mulyo mulai berjalan mendekat. Langkahnya tidak seimbang, menyeret kaki kanannya dengan bunyi *sret... sret...* yang memuakkan. "Nama-nama itu... mereka berbisik di telinga saya setiap jam sebelas malam. Damar... Damar... mahasiswa yang terlalu pintar untuk percaya, tapi terlalu takut untuk mati."
Tanpa peringatan, Pak Mulyo menerjang maju dengan kecepatan yang tidak ma**k akal bagi pria seusianya. Damar menghindar secara refleks, tubuhnya menab**k pintu kayu yang ternyata tidak terkunci. Ia terjatuh ke dalam sebuah ruangan yang gelap gulita.
Bau apak, oli bekas, dan sesuatu yang manis seperti bunga kamboja yang membusuk langsung menyergap indranya. Ia berada di ruang mesin basement.
"Mas tidak bisa bolos dari kelas ini," suara Pak Mulyo terdengar dari balik pintu yang kini tertutup rapat. Bunyi kunci diputar terdengar jelas. *Klik.*
Damar bangkit berdiri, menyapukan cahaya senternya ke sekeliling. Ruangan itu dipenuhi oleh pipa-pipa raksasa yang meliuk seperti usus monster besi. Di sudut ruangan, ada sebuah meja tua dengan tumpukan map yang sudah menguning. Memorinya bekerja cepat; ini adalah ruang penyimpanan arsip lama yang seharusnya sudah dikosongkan lima tahun lalu setelah ba**** besar.
Ia mendekati meja itu, jemarinya yang gemetar menyentuh salah satu map. Di sampulnya tertulis: *Laporan Insiden Laboratorium 2014.*
Tiba-tiba, suara ketukan berasal dari dalam salah satu lemari besi di pojok ruangan. *Tok. Tok. Tok.* Iramanya lambat dan konstan.
"Siapa di sana?" teriak Damar, suaranya parau.
Ketukan itu berhenti. Detik berikutnya, suara Pak Mulyo kembali terdengar, tapi kali ini bukan dari balik pintu ma**k, melainkan dari sistem interkom tua yang menempel di dinding. "Profesor bilang, mahasiswa yang tidak tertib harus diberi pelajaran tambahan. Di bawah sini, waktu tidak berjalan maju, Damar. Kami semua menunggu namamu dicoret dari daftar."
Cahaya senter Damar mulai berkedip-kedip. Baterainya masih 80%, tapi cahayanya meredup seolah ada sesuatu di udara yang menyerap energi listrik tersebut. Di bawah temaram cahaya yang sekarat, Damar melihat bayangan di lant**. Bayangan itu bukan miliknya. Bayangan itu tinggi, kurus, memakai toga yang compang-camping, dan berdiri tepat di belakangnya.
Damar tidak berani menoleh. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tengkuknya, seperti hembusan napas es. Ia teringat daftar di papan tulis itu. Namanya ada di urutan terbawah. Jika ia tidak keluar dari ruangan ini sekarang, urutan itu akan menjadi permanen.
Ia melihat ke sekeliling dengan panik, mencari celah. Matanya menangkap sebuah lubang ventilasi kecil di langit-langit yang tertutup jeruji besi yang sudah berkarat. Logikanya berputar cepat; ia butuh tumpuan. Ia menarik meja arsip dengan sekuat tenaga, menimbulkan suara decit besi yang memilukan di lant** beton.
"Mau ke mana, Damar?" Suara itu kini bukan lagi suara Pak Mulyo. Itu adalah suara berlapis-lapis, ribuan bisikan yang bersatu menjadi satu nada yang mengerikan.
Lant** basement mulai terasa basah. Cairan hitam kental merembes dari sela-sela ubin, baunya persis seperti tinta yang ia lihat di kelas jam sebelas. Cairan itu mulai menggenangi sepatunya, terasa panas dan lengket.
Damar memanjat meja, tangannya menggapai jeruji ventilasi. Ia menariknya dengan seluruh sisa tenaganya. Karatnya melukai telapak tangannya, rasa amis darah bercampur dengan bau tinta. Tepat saat jeruji itu terlepas, sesuatu yang dingin dan keras mencengkeram pergelangan kakinya.
Ia menunduk dan melihat tangan Pak Mulyoβatau apa pun yang tersisa darinyaβmuncul dari genangan tinta hitam di bawah meja. Kulit tangan itu terkelupas, memperlihatkan otot-otot yang menghitam.
"Ikut kami... kurikulumnya belum selesai..."
Damar menendang dengan kaki satunya, menghantam wajah yang kini tampak seperti topeng daging yang meleleh. Ia tidak peduli lagi pada logika. Ia menggunakan kemarahan untuk menutupi rasa takutnya yang melumpuhkan. Dengan satu hentakan terakhir, ia berhasil menarik tubuhnya naik ke dalam saluran ventilasi yang sempit dan berdebu.
Di bawah sana, di dalam ruang basement yang kini sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan dan tinta, ia mendengar suara Pak Mulyo tertawa terpingkal-pingkal, diikuti oleh suara kapur yang menulis di papan tulis. *Sret... sret... sret...*
Damar merangkak secepat mungkin di dalam lorong sempit yang pengap itu. Namun, ia berhenti mendadak ketika melihat sesuatu di dinding saluran ventilasi. Dengan cahaya ponsel yang nyaris padam, ia membaca tulisan yang tergores dalam di besi tersebut:
*TIDAK ADA JALAN KELUAR UNTUK MAHASISWA YANG SUDAH ABSEN.*
Dan tepat di depan sana, di persimpangan saluran ventilasi, ia melihat sepasang mata merah yang menyala, menunggunya dengan sabar dalam kesunyian yang mencekam. Damar menyadari satu hal: Pak Mulyo hanyalah penjaga gerbang, dan ia baru saja ma**k lebih dalam ke perut sang kurikulum maut.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!