Aroma kayu lapuk dan melati layu menyambutku begitu pagar besi berkarat itu terbuka dengan decit panjang yang memilukan. Rumah ini terletak di ujung gang buntu, seolah sengaja mengasingkan diri dari keriuhan kota. Bagiku, yang selalu mengandalkan logika dan data, suasana suram ini seharusnya hanyalah akibat dari kurangnya perawatan properti. Namun, bayangan namaku di papan tulis kelas Prof. Armanβditulis dengan kapur merah yang tampak seperti darah keringβmembuat setiap embusan angin yang menerpa tengkukku terasa seperti bisikan maut.
Aku mengetuk pintu jati yang catnya sudah mengelupas. Tiga ketukan mantap. Aku mencoba mengatur napas, menenangkan detak jantung yang berpacu liar di balik rusukku.
"Cari siapa?"
Pintu terbuka hanya beberapa senti. Seorang wanita tua dengan rambut putih yang berantakan menatapku melalui celah sempit. Matanya yang cekung tampak berkabut, dikelilingi kerutan yang menceritakan beban bertahun-tahun. Inilah Sarah, istri mendiang Prof. Arman.
"Selamat sore, Bu Sarah. Saya Damar, mahasiswa Teknik. Saya... saya ingin berbicara tentang penelitian Profesor," dustaku pelan. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku sedang mencari cara untuk menghapus namaku dari daftar kematian suaminya yang sudah tiada.
Wanita itu terdiam. Ia tidak berkedip, seolah-olah sedang melihat sesuatu yang berdiri tepat di belakang bahuku. Tubuhnya sedikit gemetar, dan aku bisa mendengar gesekan giginya yang beradu.
"Dia sudah berangkat," bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. "Jam sebelas. Dia selalu berangkat jam sebelas. Kurikulumnya belum selesai."
"Bu, ini masih sore. Boleh saya ma**k sebentar? Saya butuh bantuan Ibu."
Sarah perlahan membuka pintu. Ia bergerak mundur dengan langkah terseret, membiarkanku ma**k ke dalam ruang tamu yang temaram. Gorden beludru tebal menutup rapat jendela, menahan cahaya matahari agar tidak menyentuh lant** ubin yang dingin. Di sudut ruangan, sebuah jam dinding kuno berdetak dengan ritme yang berat, namun jarum jamnya berhenti tepat di angka sebelas.
Aku merasakan dorongan kuat untuk segera pergi, tetapi ingatanku yang fotografis kembali memutar visual papan tulis di gedung fakultas itu. Namaku ada di sana. *Damar β 23:01*. Aku tidak punya waktu untuk merasa takut.
"Bu Sarah, saya tahu tentang kelas itu," kataku, mencoba merendahkan suara agar terdengar menenangkan. "Saya melihat Profesor di gedung lama."
Mendengar kata 'gedung lama', Sarah tiba-tiba berhenti mondar-mandir. Ia jatuh terduduk di kursi rotan, tangannya mencengkeram lutut hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tadinya kosong kini berkaca-kaca oleh ketakutan yang murni.
"Jangan sebut tempat itu," rintihnya. "Dia tidak pernah pulang dari sana. Dia membawa mereka semua... anak-anak malang itu. Dia bilang mereka perlu 'perbaikan' dalam kurikulumnya."
Aku berlutut di depannya, mengabaikan debu yang menempel di celanaku. "Dia menulis nama saya, Bu. Saya butuh sesuatu yang menjadi miliknya. Sesuatu yang dia bawa setiap kali dia mengajar. Saya harus menghentikannya sebelum jam sebelas malam ini."
Sarah mulai terisak tanpa suara. Bahunya berguncang. "Dia g***... Arman menjadi g*** setelah kecelakaan laboratorium itu. Dia merasa gagal sebagai dosen. Dia pikir kematian adalah ujian akhir yang adil."
Wanita itu bangkit dengan susah payah dan berjalan menuju sebuah lemari kayu tua di pojok ruangan. Ia merogoh sesuatu dari balik tumpukan kain tua, tangannya gemetar hebat. Ia kembali dengan sebuah kotak kayu kecil yang dikunci rapat.
"Ini," katanya sambil menyodorkan kotak itu padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku, mengirimkan sensasi beku yang menjalar hingga ke jantung. "Dia selalu membawanya. Pena perak dan buku absen hitam. Dia tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya. Bahkan aku."
Aku menerima kotak itu. Beratnya terasa tidak wajar, seolah ada beban moral yang tersembunyi di dalamnya. "Kenapa Ibu memberikannya padaku?"
Sarah menatapku dengan tatapan yang sangat tajam, sejenak kabut di matanya menghilang. "Karena kau adalah orang pertama dalam sepuluh tahun yang datang ke sini tanpa membawa bau kematian... meskipun baunya mulai tercium sekarang."
Aku menelan ludah. "Terima kasih, Bu."
"Satu hal lagi," cegahnya saat aku hendak berdiri. Sarah mencengkeram pergelangan tanganku dengan kekuatan yang tak terduga dari wanita seumurnya. "Jika kau membuka buku itu di dalam kelasnya, jangan pernah membaca nama yang ada di atas namamu. Jangan pernah. Jika kau melakukannya, kau bukan lagi sekadar mahasiswa yang mengamati. Kau akan menjadi bagian dari kurikulumnya selamanya."
Aku melepaskan cengkeramannya perlahan, mencoba menyembunyikan getaran di tanganku sendiri. Aku mengangguk, lalu bergegas menuju pintu keluar. Udara sore di luar terasa sedikit lebih segar, namun bayang-bayang panjang pepohonan mulai merayap di tanah, menandakan waktu yang semakin menipis.
Aku ma**k ke dalam mobil, meletakkan kotak kayu itu di kursi penumpang. Dengan tangan gemetar, aku mencoba membuka tutup kotak itu. Namun, kotak itu terkunci rapat tanpa lubang kunci yang terlihat. Tepat saat itu, ponselku bergetar hebat di saku.
Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Hanya berupa teks singkat yang membuat darahku serasa berhenti mengalir:
*Tugas individu dimulai. Pintu kelas sudah terbuka, Damar. Jangan terlambat untuk responsi pertama.*
Aku menatap jam di *dashboard*. 18:00. Lima jam lagi menuju kematianku. Aku baru saja akan menyalakan mesin ketika aku menyadari sesuatu yang aneh pada kotak di sampingku. Dari sela-sela tutup kotak yang rapat, mulai merembes cairan hitam kental yang berbau amis, persis seperti bau tinta yang baru saja ditorehkan di atas kertas tua.
Cairan itu perlahan membentuk sebuah kata di atas jok kursiku: *HADIR*.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!