Napas Damar memburu, mengembun di udara dingin yang mendadak terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu jati yang kokoh di ruang arsip tua di lant** tiga gedung Fakultas Teknik. Tangannya gemetar, namun jemarinya masih mencengkeram erat sebuah map kulit kusam yang ia curi dari laci meja kerja Prof. Arman yang terbengkalai.
Di dalam keremangan yang hanya dibantu oleh cahaya redup dari lampu ponselnya, Damar membuka map itu. Memori fotografisnya segera bekerja, memindai setiap baris tulisan tangan yang miring dan terburu-buru. Mata Damar terpaku pada sebuah lembaran surat bertanggal sepuluh tahun lalu—tepat seminggu sebelum Prof. Arman dikabarkan mengakhiri hidupnya.
"Bukan dia," bisik Damar pada kesunyian yang mencekam. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Selama ini, ia mengira Prof. Arman adalah arsitek dari keg***an ini. Sang dosen yang mendendam dan menyeret mahasiswa ke dalam kelas mautnya. Namun, catatan di tangannya menceritakan kisah yang berbeda. Itu bukan jurnal seorang pembunuh, melainkan catatan seorang tawanan.
*‘Mereka meminta tumbal lagi. Aku mencoba menolak kurikulum ini, tapi Sang Rektor tidak mengizinkan siapa pun berhenti. Jika aku tidak memberikan nama-nama itu, dia akan mengambil keluargaku. Ampuni aku, anak-anakku... aku hanyalah perantara.’*
Kalimat itu diulang berkali-kali di pinggiran kertas dengan tinta yang merembes, seolah-olah sang penulis sedang menangis saat menggoreskannya.
"Jadi, Prof. Arman cuma... pion?" Damar merasakan mual yang hebat merayapi perutnya.
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu merosot tajam hingga ke titik beku. Damar bisa melihat napasnya keluar dalam gumpalan putih yang tebal. Di sudut ruangan, bayangan hitam mulai memanjang, merayap di dinding seperti tumpahan tinta yang hidup. Detak jam dinding tua yang semula mati, mendadak berdentang keras.
*Teng.*
Hanya satu kali. Pukul sebelas lebih sekian menit—waktu yang tidak pernah benar-benar berlalu di gedung ini.
Sebuah suara serak, selembut gesekan amplas pada kayu, menggema dari arah lorong di balik pintu. "Profesor Arman adalah pendidik yang patuh, Damar. Ia hanya kurang tabah dalam menjalani masa jabatannya."
Damar tersentak. Ia mematikan lampu ponselnya, berusaha menyatu dengan kegelapan, namun ia tahu itu sia-sia. Sosok yang berbicara itu tidak melihat dengan mata manusia.
Pintu jati di belakang Damar bergetar hebat, seolah-olah ada sesuatu yang sangat besar dan berat sedang bersandar di sisi lain. Damar bisa mendengar suara gesekan jubah yang berat menyapu lant** marmer. Ia segera merangkak menjauh, bersembunyi di balik lemari besi yang berkarat.
"Siapa kau?" teriak Damar, berusaha menutupi getar ketakutan dalam suaranya dengan nada skeptis yang dipaksakan. "Keluar dan tunjukkan dirimu! Aku tidak percaya pada hantu!"
Tawa rendah yang kering memenuhi ruangan. "Logika adalah perisai yang rapuh, Nak. Kau melihat namamu di papan tulis itu, bukan? Kau pikir Profesor Arman yang menulisnya? Tidak. Dia hanya memegang kapurnya. Akulah yang mendiktekan setiap hurufnya."
Melalui celah sempit di antara lemari, Damar melihat gagang pintu perlahan berputar. Pintu itu terbuka tanpa suara, menyingkapkan sosok yang berdiri di ambang kegelapan total. Sosok itu mengenakan toga wisuda berwarna hitam legam yang tampak seperti terbuat dari asap dan penderitaan. Wajahnya tidak terlihat, tertutup oleh bayangan tudung yang dalam, namun di lehernya melingkar kalung jabatan emas yang berkilat aneh—lambang universitas yang sudah dimodifikasi dengan simbol-simbol okultisme yang belum pernah Damar lihat sebelumnya.
The Rector. Sang Rektor.
"Kurikulum ini telah berjalan selama berabad-abad, Damar," sosok itu melangkah ma**k. Setiap pijakannya tidak mengeluarkan suara, namun lant** di bawahnya tampak retak dan menghitam. "Setiap universitas besar dibangun di atas fondasi pengorbanan. Prestasi membutuhkan bensin, dan bensin itu adalah ambisi yang dipadamkan sebelum waktunya. Kau seharusnya bangga. Namamu dipilih karena kau memiliki memori yang luar biasa. Kau akan menjadi penyimpan arsip kami yang sempurna... setelah kau mati."
Damar meraba-raba saku jaketnya, mencari kunci ruangan yang sempat ia temukan tadi. Pikirannya berputar cepat, memproses setiap det**l ruangan. Ada jendela di sisi kiri, tapi itu di lant** tiga. Ada tangga darurat di ujung lorong, tapi Sang Rektor menutup jalan keluar utama.
"Prof. Arman mencoba menghentikanmu," sahut Damar, mencoba mengulur waktu sambil mengamati bayangan Sang Rektor yang terus mendekat. "Dia mencoba menghapus daftar itu, kan?"
"Dan lihat di mana dia sekarang," Sang Rektor mengangkat tangannya yang pucat dan kurus. "Mengajar di kelas yang tidak pernah berakhir, memohon pengampunan kepada murid-murid yang ia bunuh sendiri. Dia adalah peringatan bagi siapa pun yang mencoba melanggar peraturan akademik ini."
Tiba-tiba, Sang Rektor berhenti tepat di depan lemari persembunyian Damar. Atmosfer di sekitar Damar menjadi begitu berat, seolah-olah gravitasi telah berlipat ganda. Oksigen terasa menipis.
"Waktumu untuk mendaftar ulang sudah habis, Damar," bisik Sang Rektor.
Dengan satu gerakan cepat, Sang Rektor menyentak lemari besi itu hingga terlempar ke samping seperti kertas ringan. Damar terdedah, bersimpuh di lant** dengan map kulit masih di dadanya.
Namun, Damar tidak memejamkan mata. Memori fotografisnya menangkap sesuatu yang tersemat di kerah jubah Sang Rektor—sebuah lencana kecil dengan ukiran angka '23:01'. Itu bukan sekadar jam malam. Itu adalah kode akses.
"Aku bukan bagian dari kurikulummu," desis Damar, sambil melempar map kulit itu ke arah wajah gelap Sang Rektor dan melompat ke arah meja kerja.
Ia tidak lari ke pintu. Ia lari ke arah telepon kabel tua yang ada di meja. Ia ingat pernah membaca di manual prosedur darurat fakultas yang tersimpan di otaknya bahwa ada jalur komunikasi langsung ke gardu listrik gedung.
Saat jemari Damar menekan tombol dial darurat, Sang Rektor mengeluarkan raungan yang m****akkan telinga, sebuah suara yang terdengar seperti ribuan jeritan mahasiswa yang gagal lulus. Ruangan itu mulai berguncang hebat, dan lant** di bawah kaki Damar mulai merekah, memperlihatkan jurang kegelapan yang tak berdasar.
Damar berhasil menekan tombol terakhir tepat saat tangan dingin Sang Rektor menyentuh tengkuknya. "Matikan lampunya!" teriak Damar ke dalam gagang telepon, berharap seseorang atau sesuatu di ujung sana masih mendengarkan.
Seketika, seluruh gedung Fakultas Teknik jatuh ke dalam kegelapan total yang lebih pekat dari sebelumnya. Namun, dalam kegelapan itu, Damar melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada: serangkaian garis cahaya neon biru yang membentuk peta pelarian di lant**, yang hanya bisa dilihat dalam kondisi nol cahaya.
Itu adalah pesan tersembunyi yang ditinggalkan Prof. Arman.
Damar tidak menunggu. Ia berlari mengikuti garis itu, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara langkah kaki berat lainnya yang bukan berasal dari Sang Rektor. Dari arah kegelapan di depannya, muncul sesosok mahasiswa dengan wajah pucat dan mata yang dijahit rapat, membawa sebuah penggaris besi panjang yang berlumuran darah.
"Kelas belum usai, Damar," suara mahasiswa itu parau. "Dan kau belum menyerahkan tugas akhirmu."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!