Napas Damar memburu, menyisakan uap tipis di udara koridor yang mendadak mendingin. Paru-parunya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum es, sebuah efek samping dari pelarian g*** mereka dari lant** tiga. Di sampingnya, Sita bersandar pada dinding beton yang lembap, bahunya naik turun dengan cepat. Keringat membasahi dahi gadis itu, membuat beberapa helai rambut menempel di pipinya yang pucat.
"Kita... kita sudah jauh, kan?" suara Sita bergetar, nyaris berupa bisikan yang tertelan kegelapan.
Damar tidak menjawab. Ia mengatur detak jantungnya yang berdentum keras di telinga, seperti genderang perang yang tak kunjung usai. Matanya yang tajam menyapu sekeliling. Memorinya secara otomatis memetakan denah gedung iniβFakultas Teknik, Sayap Barat, area laboratorium yang biasanya ditinggalkan mahasiswa sejak pukul empat sore. Namun, di sini, pada pukul sebelas lewat sekian menit, geometri bangunan ini terasa salah. Lorong-lorong tampak lebih panjang dari seharusnya, dan bayangan lemari arsip terlihat seperti tangan-tangan hitam yang siap menyergap.
"Terima kasih, Sita," gumam Damar. Kalimat itu terasa kaku di lidahnya. Sebagai seseorang yang terbiasa menyelesaikan segala hal sendirian, mengakui bantuan orang lain adalah hal yang asing. "Kalau kau tidak menarikku tadi, aku mungkin sudah..."
"Jangan diteruskan," potong Sita, mencoba tersenyum meski bibirnya gemetar. "Aku tidak tahu apa yang kulihat di dalam kelas itu, Damar. Bayangan-bayangan itu... mereka tidak punya wajah."
Damar memejamkan mata sejenak. Kemampuan fotografisnya kembali memutar ulang kejadian di Kelas 302. Prof. Arman berdiri di depan papan tulis, kapur di tangannya bergerak dengan ritme yang menghipnotis. Ia mengingat setiap goresan nama di sana. Ia mengingat namanya sendiri, berada di urutan paling bawah, sebuah vonis mati yang tertulis dengan elegan.
Tiba-tiba, suara gesekan kapur yang m****akkan telinga merobek keheningan koridor. *Sreeet... sreeet...*
Damar tersentak. Suara itu tidak berasal dari lant** atas. Suara itu berasal dari depan mereka.
Di ujung koridor, sebuah pintu kelas yang tadinya tertutup rapat kini sedikit terbuka. Cahaya kuning pucat yang sakit-sakitan merembes keluar, membelah kegelapan lant**. Dan di sana, di atas permukaan pintu kayu yang tua, muncul sebuah bayangan yang diproyeksikan dari dalam ruangan. Bayangan tangan yang memegang sebatang kapur panjang.
"Jangan lihat," bisik Damar, namun matanya sendiri terpaku.
Papan tulis di dalam ruangan itu tidak terlihat secara langsung, namun pantulannya muncul di jendela kaca besar di samping mereka. Seperti sebuah proyektor gaib, tulisan-tulisan itu termanifestasi di atas kaca, bergetar mengikuti denyut kegelapan di gedung itu.
Damar merasakan darahnya membeku. Daftar nama itu muncul kembali.
*1. Baskoro (Wafat β Kecelakaan Lift)*
*2. Linda (Wafat β Terjatuh dari Atap)*
...
*9. Damar*
Daftar itu berhenti di namanya. Namun, kapur tak kasatmata itu belum selesai. Dengan gerakan yang lambat dan menyiksa, sebuah baris baru mulai terbentuk di bawah nama Damar.
Huruf **S** besar terbentuk dengan lengkungan yang tajam.
Lalu **I**.
Lalu **T**.
Lalu **A**.
"Sita..." Damar berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan.
Sita melangkah maju, matanya terbelalak menatap pantulan di kaca. "Itu... namaku? Kenapa namaku ada di sana?" Suaranya naik satu oktav, penuh ketakutan yang murni. "Aku hanya membantumu, Damar! Aku tidak seharusnya ada di daftar itu!"
Damar mundur selangkah, otaknya yang logis mulai berputar dengan liar. Ia tahu polanya. Siapa pun yang berinteraksi dengan "Kurikulum" ini akan terseret ma**k. Sita telah mengintervensi jalannya takdir saat menarik Damar keluar dari ruang Prof. Arman. Sekarang, kurikulum itu telah direvisi.
Di bawah nama Sita, sebuah jam muncul. *23:45*.
"Tinggal tiga puluh menit," gumam Damar. Ia menatap Sita, lalu menatap pintu keluar yang hanya berjarak dua puluh meter di ujung lorong lain.
Logika pragmatisnya berteriak: *Lari. Jika kau keluar dari gedung ini sekarang, kau punya peluang untuk mencari cara memutus kutukanmu sendiri. Jika kau tetap di sini membantu Sita, kalian berdua akan mati saat jam menunjukkan tengah malam.*
"Damar, apa yang harus kita lakukan?" Sita mencengkeram lengan jaket Damar. Jari-jarinya dingin seperti es. "Aku tidak mau mati di sini. Aku punya janji dengan ibuku besok pagi. Aku..."
Damar menatap mata Sita yang mulai berkaca-kaca. Kelemahan terbesarnya adalah menutup diri, menganggap orang lain sebagai variabel yang hanya akan mengacaukan persamaannya. Namun, melihat nama Sita tertulis dengan kapur yang sama dengan namanya, ia merasakan sesuatu yang asing: tanggung jawab yang menghimpit dada.
Tiba-tiba, pintu kelas di depan mereka terbanting terbuka lebar. Angin kencang yang berbau tanah kuburan bertiup keluar, membawa lembaran-lembaran kertas tugas yang berlumuran tinta merah. Di tengah ruangan, sebuah kursi kosong berputar sendiri, menghadap ke arah mereka.
"Pilihannya sederhana, Damar," sebuah suara berat dan monoton bergema di sepanjang koridor, seolah-olah dinding itu sendiri yang berbicara. Itu suara Prof. Arman. "Satu mahasiswa yang lulus, atau semuanya gagal dalam ujian ini."
Damar melihat ke arah tangga darurat, lalu kembali ke arah Sita yang kini jatuh terduduk, lemas karena teror yang luar biasa. Jika ia lari sekarang, ia egois, tapi ia hidup. Jika ia tinggal, ia mempertaruhkan satu-satunya nyawa yang ia miliki untuk seseorang yang baru ia kenal beberapa jam lalu.
Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Memori fotografisnya mendadak memunculkan sebuah det**l kecil dari papan tulis tadi. Ada sebuah catatan kaki kecil di pojok bawah papan tulis yang tadi sempat ia abaikan.
*Penghapus ada di tangan yang berani mengoreksi.*
Damar menelan ludah. Ia tahu apa artinya. Untuk menyelamatkan Sita, ia harus kembali ke dalam kelas itu. Ia harus kembali ke sumber kutukan tersebut saat namanya sendiri masih berada di daftar eksekusi.
"Sita, berdiri," kata Damar, suaranya kini terdengar lebih tajam, lebih fokus.
"Kita... kita mau lari ke luar?" tanya Sita penuh harap.
Damar menatap pintu kelas yang terbuka, di mana kegelapan di dalamnya tampak berdenyut seolah memiliki jantung. "Tidak. Kita harus kembali ke kelas. Aku harus menghapus namamu sebelum jam itu berdentang."
"Tapi namamu?" Sita bertanya, suaranya gemetar. "Namamu ada di atas namaku. Kalau kau menyelamatkanku, kau tidak akan punya waktu untuk dirimu sendiri!"
Damar tidak menjawab. Ia tidak punya jawaban yang logis. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Damar tidak bertindak berdasarkan perhitungan peluang, melainkan berdasarkan rasa bersalah yang tidak bisa ia jelaskan. Ia melangkah menuju ruangan yang memancarkan aura kematian itu, membiarkan dirinya ditelan oleh kegelapan yang lebih pekat.
Tepat saat mereka melintasi ambang pintu, pintu itu tertutup dengan dentuman keras, mengunci mereka di dalam. Di papan tulis, kapur itu bergerak lagi, menuliskan sesuatu yang membuat napas Damar terhenti.
*Ujian Remidial: Pengorbanan.*
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!