Lant** granit Gedung Fakultas Teknik yang biasanya dingin, malam ini terasa seolah-olah menyedot panas dari telapak kaki Damar, meski ia mengenakan sepatu kets bersol tebal. Jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 22:55. Lima menit menuju maut, atau lima menit menuju peluang terakhirnya untuk tetap hidup.
Damar menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berpacu liar. Logikanya terus berteriak bahwa ini adalah tindakan bunuh diri. Kembali ke Ruang 302 setelah apa yang ia saksikan malam sebelumnya adalah definisi keg***an. Namun, memori fotografisnya terus memutar ulang gambar papan tulis itu: deretan nama mahasiswa yang tewas dalam kecelakaan tragis selama sepuluh tahun terakhir, dan di posisi paling bawah, tertulis dengan kapur putih yang tajam: *Damar Ardiansyah β 23:11.*
"Hanya perlu menghapusnya," bisik Damar pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar asing di koridor yang sunyi. "Hapus nama itu, maka variabelnya berubah. Logika sederhana."
Ia mendorong pintu kayu berat Ruang 302. Engselnya m****ik, memecah kesunyian malam dengan suara metalik yang menyayat telinga. Begitu melangkah ma**k, bau apak dari kertas tua dan kapur langsung menyergap indranya. Ruangan itu kosong. Hanya ada jajaran kursi kayu yang tertata rapi di bawah temaram cahaya lampu jalan yang ma**k melalui jendela kaca besar.
Damar mendekati papan tulis. Tangannya meraih penghapus kayu yang tergeletak di birai papan. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh permukaan kayu yang kasar itu, detak jam digitalnya mengeluarkan bunyi *bip* tunggal.
23:01.
Seketika, atmosfer di dalam ruangan bergeser. Lampu neon di langit-langit berkedip sekali, lalu memancarkan cahaya putih pucat yang menyakitkan mata. Suhu ruangan merosot tajam, seolah-olah dinding beton itu berubah menjadi balok es dalam sekejap. Damar bisa melihat uap napasnya sendiri keluar dalam gumpalan putih yang tebal.
Lalu, suara itu terdengar. Bunyi gesekan kapur di papan tulis. *Srek. Srek. Srek.*
Damar membeku. Di depannya, di depan papan tulis yang sedetik lalu kosong, kini berdiri sesosok pria dengan setelan jas abu-abu yang lusuh dan kacamata tebal yang retak di satu sisi. Prof. Arman. Pria itu tidak menoleh, punggungnya menghadap Damar, tangannya bergerak lincah menuliskan rumus-rumus fisika kuantum yang rumit, yang seolah-olah bergerak dan bernapas di atas permukaan hitam papan tersebut.
Di belakang Damar, suara kursi yang digeser serentak membuatnya berjingkat. Ia menoleh perlahan dan merasakan darahnya seolah berhenti mengalir. Kursi-kursi yang tadi kosong kini diduduki oleh bayangan hitam yang samar. Mereka tidak memiliki wajah, hanya siluet manusia yang memancarkan aura kesedihan dan keputusasaan yang pekat.
"Selamat malam, Saudara Damar," suara Prof. Arman terdengar seperti gesekan kertas amplas. Ia tetap membelakangi Damar. "Senang melihat mahasiswa yang begitu... berdedikasi. Jarang ada yang datang secara sukarela ke kelas tambahan saya."
Damar mencoba berbicara, tetapi tenggorokannya terasa seperti tercekik. Udara di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat tipis. Ia menghirup udara dalam-dalam, tetapi paru-parunya menolak, seolah oksigen telah lenyap dan digantikan oleh gas yang berat dan dingin. Setiap tarikan napas terasa seperti menusukkan ribuan jarum ke dalam dadanya.
"Saya... saya hanya ingin mengambil sesuatu yang bukan milik Anda," paksa Damar, suaranya parau dan lemah.
Prof. Arman berhenti menulis. Keheningan yang menyusul jauh lebih mengerikan daripada suara gesekan kapur tadi. Di sekeliling Damar, bayangan-bayangan mahasiswa itu mulai menundukkan kepala, seolah mereka sedang memanjatkan doa bagi jiwa yang akan segera bergabung dengan mereka.
Suhu terus merosot. Jemari Damar mulai membiru. Ia merasa pening yang hebat menyerang kepalanya; kekurangan oksigen mulai mengacaukan kesadarannya. Ia harus bergerak sekarang. Dengan sisa tenaga yang ada, ia melangkah maju menuju papan tulis, tangan kanannya mencengkeram penghapus dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Nama itu," desis Damar, matanya tertuju pada baris terbawah papan tulis. "Nama saya tidak seharusnya ada di sana."
"Daftar itu adalah takdir, Damar. Dan kurikulum ini... tidak bisa diubah," kata Prof. Arman, perlahan mulai memutar tubuhnya.
Gerakan sang profesor terasa sangat lambat, namun setiap derajat putaran tubuhnya membuat tekanan di dada Damar semakin menghimpit. Penglihatan Damar mulai mengabur di tepiannya, bintik-bintik hitam menari-nari di pandangannya. Oksigen benar-benar hilang. Ia terjatuh berlutut, satu tangannya bertumpu pada meja dosen yang dinginnya seperti es.
"Belum... selesai..." Damar mengerang. Ia menggunakan sisa kekuatannya untuk bangkit kembali, tangannya terulur meraih papan tulis.
Namun, sebelum penghapus itu menyentuh namanya, Prof. Arman sudah menghadapnya sepenuhnya. Di balik kacamata yang retak itu, tidak ada mataβhanya lubang hitam yang dalam dan hampa yang memancarkan kegelapan mutlak. Sang profesor tersenyum, sebuah senyuman yang menyobek wajah pucatnya hingga ke telinga.
"Tugas hari ini adalah tentang 'Ketidakkekalan'," bisik Prof. Arman. Ia meraih pergelangan tangan Damar dengan tangan yang terasa seperti cengkeraman mayat yang telah membeku selama berabad-abad. "Dan kau, Damar, adalah eksperimen utamanya."
Damar merasakan napasnya benar-benar terhenti. Dadanya meledak karena tekanan, dan kepalanya terasa seolah akan pecah. Namun, di tengah kesakitan yang luar biasa itu, matanya menangkap sesuatu di papan tulis. Kapur yang digunakan Prof. Arman tidak berwarna putih seperti yang ia kira. Kapur itu berwarna merah pekat, dan cairannya mulai menetes dari papan, membentuk genangan di bawah kakinya.
Saat kesadarannya mulai meredup, Damar melihat tangan-tangan hitam dari bayangan mahasiswa di belakangnya mulai terjulur, meraih pundak dan kakinya, menariknya untuk duduk di salah satu kursi kosong yang tersisa.
"Duduklah, Damar," suara Prof. Arman menggema di dalam kepalanya, bukan di telinganya. "Kelas baru saja dimulai, dan kau tidak akan mau melewatkan bagian akhirnya."
Tepat saat itu, jam di pergelangan tangan Damar bergetar. *23:10.* Satu menit menuju angka yang tertulis di papan. Damar mencoba berontak, tetapi tubuhnya tidak lagi menuruti perintah otaknya. Di tengah keputusasaan itu, ia menyadari satu hal yang luput dari logikanya sejak tadi: kapur itu bukan hanya menuliskan namanya, tapi juga menghisap sisa hidupnya setiap detik yang berlalu.
Ia harus menghapusnya. Bukan dengan penghapus kayu itu, melainkan dengan sesuatu yang lebih... organik.
Damar melihat ke arah jarinya yang mulai mengeluarkan darah akibat kedinginan yang ekstrem. Sebuah ide g*** muncul di benaknya yang mulai gelap. Namun, sebelum ia bisa bertindak, Prof. Arman condong ke depan, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Damar, membisikkan sesuatu yang membuat jantung Damar seolah berhenti berdetak sepenuhnya.
"Kau tahu kenapa namamu ada di daftar paling bawah, Damar? Karena kau bukan sekadar korban. Kau adalah penggantiku."
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!