Lant** semen koridor Fakultas Teknik terasa sedingin es di bawah telapak sepatu Damar yang lembap oleh keringat. Keheningan di gedung ini bukan lagi keheningan yang menenangkan seperti yang biasa ia temukan di perpustakaan, melainkan keheningan yang menekan gendang telingaβpadat dan berdenyut. Bau apek kertas tua bercampur dengan aroma anyir tembaga yang menusuk hidung, menuntun langkahnya menuju Ruang 404.
Di sana, di atas meja dosen yang kayunya sudah mulai melapuk, tergeletak sebuah benda yang menjadi pusat dari segala keg***an ini: Buku Absen Kematian. Sampul kulitnya yang hitam legam tampak berkilau di bawah temaram lampu neon yang berkedip-kedip, seolah-olah kulit itu masih bernapas.
Damar mengatur napasnya, mencoba memanggil kembali sisi logisnya yang mulai terkikis. *Hanya sebuah buku,* batinnya. *Hanya kumpulan selulosa dan tinta. Hancurkan itu, dan sirkuit supranatural ini akan terputus.*
Namun, saat tangannya terjulur, suhu ruangan merosot tajam. Uap dingin keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Dari sudut-sudut gelap ruangan, bayangan-bayangan mulai memadat. Mereka tidak muncul begitu saja; mereka merangkak keluar dari lant**, merembes dari sela-sela dinding yang retak.
"Damar..."
Suara itu bukan satu, melainkan paduan suara dari puluhan bisikan parau yang saling bertumpang tindih. Damar tersentak, memutar tubuhnya. Di depannya, berdiri sesosok pemuda dengan jaket almamater yang compang-camping. Wajahnya pucat pasi, dengan mata yang hanya menyisakan rongga hitam pekat. Damar mengenalnya. Itu adalah Bayu, mahasiswa angkatan 2014 yang dilaporkan hilang setelah lembur di laboratorium sepuluh tahun lalu.
"Jangan... hancurkan..." bisik Bayu. Gerakannya patah-patah saat ia melangkah maju. "Jika buku itu hilang, kami juga hilang ke dalam ketiadaan. Bergabunglah... namamu sudah tertulis di sana."
"Kalian sudah mati!" suara Damar bergetar, namun ia tetap berdiri tegak. Memori fotografisnya mendadak memutar kembali kliping koran yang ia baca di arsip kota. Wajah-wajah yang sekarang mengepungnya adalah wajah-wajah yang sama dalam kolom berita duka selama satu dekade terakhir. "Kalian terjebak dalam siklus yang salah. Ini bukan kehidupan!"
Satu per satu, arwah-arwah lain mulai menampakkan diri. Seorang mahasiswi dengan leher miring yang tidak wajar mendekat dari arah jendela. Tangannya yang dingin seperti es meraih lengan Damar. Cengkeramannya begitu kuat hingga Damar merasa tulang lengannya seolah akan remuk.
"Kami kesepian di kelas jam sebelas, Damar," rintih mahasiswi itu. Cairan hitam kental menetes dari matanya, membasahi lant**. "Profesor Arman butuh satu orang lagi untuk melengkapi kurikulum semester ini. Hanya satu lagi."
Damar meronta, menyentakkan tangannya dengan kasar. Ia menerjang ke arah meja dosen, namun udara di sekitarnya seolah berubah menjadi jeli yang kental, memperlambat setiap gerakannya. Para korban itu mulai membentuk lingkaran, menutup aksesnya menuju buku tersebut. Puluhan tangan pucat terulur, mencoba menggapai kemejanya, menariknya mundur ke dalam kegelapan.
"Logika tidak akan menyelamatkanmu di sini," sebuah suara berat dan berwibawa menggema, bukan dari salah satu mahasiswa itu, melainkan dari udara itu sendiri.
Damar memejamkan mata sejenak, memaksakan otaknya untuk fokus. Ia ingat letak korek api gas dan botol alkohol kecil yang ia bawa di saku jaketnya. Ia tidak boleh kalah oleh rasa takut. Jika ia gagal sekarang, ia hanya akan menjadi nama lain yang dibaca Profesor Arman setiap malam selamanya.
Dengan teriakan yang memecah kesunyian, Damar menghantamkan bahunya ke arah kerumunan bayangan di depannya. Dingin yang menusuk menjalar ke seluruh tubuhnya saat ia menembus wujud-wujud transparan itu, rasanya seperti melompat ke dalam kolam air es. Ia berhasil meraih pinggiran meja.
Tangannya menyambar Buku Absen Kematian. Buku itu terasa hangat, berdenyut pelan di telapak tangannya seperti jantung yang berdetak. Ia membukanya dengan paksa. Di halaman paling akhir, tertulis namanya dengan tinta merah yang masih basah: *Damar Ardiansyah β 23:01.*
"TIDAK!" raung arwah-arwah itu serempak. Ruangan berguncang hebat. Plafon retak, menjatuhkan debu dan puing-puing semen.
Damar mengeluarkan botol alkohol, menyiramkan isinya ke atas halaman buku tersebut dengan tangan gemetar. Ia bisa merasakan hawa kemarahan yang luar biasa memenuhi ruangan. Bayu dan arwah lainnya menerjang maju dengan wajah yang berubah menjadi seringai mengerikan. Kuku-kuku tajam mereka mulai menyayat kulit lengan Damar.
"Maafkan aku, tapi aku punya janji yang harus ditepati di rumah," geram Damar. Ia memetik pemantik apinya.
Api kecil itu menyala, memantul di bola matanya yang tajam. Namun, sebelum api itu menyentuh kertas yang basah oleh alkohol, sebuah tangan besar dengan kulit yang mengelupas dan bau tanah yang kuat mencengkeram pergelangan tangan Damar.
Damar mendongak dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Di hadapannya, berdiri Profesor Arman. Sang Profesor tidak memiliki wajah yang utuh; setengah bagian kepalanya hancur, sisa-sisa luka dari kecelakaan sepuluh tahun lalu yang masih menganga.
"Kuliah belum selesai, Damar," ucap Profesor Arman dengan suara yang bergetar rendah. "Dan tidak ada mahasiswa yang boleh meninggalkan kelas sebelum saya membubarkannya."
Profesor itu mencengkeram leher Damar, mengangkatnya hingga kaki pemuda itu menggantung di udara. Korek api di tangan Damar terjatuh, denting logamnya terdengar nyaring di lant** saat apinya padam. Di saat yang sama, nama Damar di dalam buku itu mulai berpendar, memancarkan cahaya merah darah yang seolah menyedot nyawanya keluar.
Pandangan Damar mulai mengabur, oksigen di paru-parunya menipis. Namun, di tengah keputusasaannya, ia melihat sesuatu di balik saku jas Profesor Arman yang terkoyakβsebuah kunci perak yang ia kenali sebagai kunci lemari arsip utama.
Jika ia tidak bisa membakar bukunya, ia harus menghancurkan sumber aslinya. Tapi bagaimana ia bisa melepaskan diri dari cengkeraman maut ini sebelum kesadarannya benar-benar hilang? Di saat matanya mulai berputar ke belakang, Damar merasakan sebuah bisikan lain di telinganya, bukan dari para arwah, melainkan sebuah suara yang sangat ia kenal.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!