Aroma debu tua dan ozon yang menyengat memenuhi indra penciuman Damar saat ia berdiri tepat di depan papan tulis hitam yang legendaris itu. Di tangannya, selembar kertas lusuh—Silabus Kurikulum 1994 yang asli—bergetar hebat. Jari-jarinya yang dingin mencengkeram pemantik api perak milik mendiang kakeknya. Pelipisnya basah oleh keringat dingin yang mengalir melewati garis rahangnya yang kaku.
"Logika, Damar. Gunakan logikamu," bisiknya pada diri sendiri, meskipun suaranya terdengar parau dan asing di telinganya.
Di depannya, deretan nama mahasiswa yang telah tewas berpendar dalam warna ungu pucat yang menyakitkan mata. Paling bawah, namanya sendiri—*Damar Wicaksono*—tampak berdenyut seperti luka yang belum mengering. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 23:55. Lima menit menuju eksekusi.
Damar mulai menyulut api. Api kecil itu menari-nari, memantul di bola matanya yang tajam. Begitu kertas silabus itu menyentuh api, suara jeritan tanpa rupa meledak dari sudut-sudut ruangan. Bukan suara manusia, melainkan suara gesekan logam yang ditarik paksa di atas beton.
"C**up, Arman!" teriak Damar, suaranya bergema menembus kabut hitam yang mulai merayap dari celah-celah lant**. "Kurikulum ini berakhir di sini!"
Saat kertas itu berubah menjadi abu kelabu, realitas di sekitar Damar mulai menunjukkan retakan. Papan tulis di depannya tiba-tiba meliuk, permukaannya berubah menjadi cair seperti merkuri. Bayangan Prof. Arman muncul di balik meja dosen, sosoknya tidak lagi padat melainkan berkilauan seperti gangguan sinyal televisi tua. Matanya yang kosong menatap Damar dengan kemarahan yang melampaui kematian.
"Kau tidak bisa menghapus apa yang sudah tertulis dalam takdir, Damar," suara sang profesor terdengar seperti ribuan suara yang berbicara bersamaan. "Ilmu membutuhkan pengorbanan."
"Ini bukan ilmu, ini keg***an!" Damar membalas, sambil melemparkan sisa abu silabus ke tengah-tengah lingkaran kapur yang telah ia buat sebelumnya.
Tiba-tiba, bunyi *krak* yang m****akkan telinga merobek keheningan. Gedung Fakultas Teknik bergetar hebat. Damar kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut. Namun, getaran ini tidak berasal dari gempa bumi. Ia melihat dengan ngeri saat dinding di sisi kirinya mulai kehilangan tekstur semennya. Bata-bata penyusunnya berubah menjadi transparan, lalu memudar menjadi kekosongan hitam yang pekat.
Gedung itu mulai runtuh secara metafisik.
Damar bangkit dengan susah payah, kakinya terasa berat seolah-olah ia berjalan di dalam air raksa. Ia berlari menuju pintu keluar, namun koridor yang seharusnya lurus kini melengkung dengan sudut-sudut mustahil. Langit-langit di atasnya tidak lagi menjatuhkan puing, melainkan menjatuhkan serpihan-serpihan memori—bayangan para mahasiswa yang hilang, suara tawa yang terputus, dan coretan rumus-rumus rumit yang melayang di udara sebelum hancur menjadi partikel cahaya.
"Keluar! Aku harus keluar!" batinnya berteriak.
Ia mencapai pintu tangga darurat, namun saat ia menarik gagang pintunya, yang ia temukan bukan tangga menuju lant** dasar. Di baliknya hanya ada jurang tanpa dasar yang berisi pusaran tulisan tangan Prof. Arman dan lembar jawaban ujian yang berdarah. Ruang dan waktu di dalam gedung itu sedang melipat diri, mencoba menelan Damar bersama dengan sisa-sisa kurikulum maut tersebut.
Lant** di bawah kakinya mulai retak. Bukan retak karena beban, tapi retak karena eksistensinya sedang dihapus dari koordinat bumi. Damar menoleh ke belakang dan melihat bayangan hitam Profesor Arman merayap mendekat, tangannya yang panjang dan kurus mencoba meraih kerah baju Damar.
"Jika kelas ini berakhir, maka semua siswanya harus ikut pulang!" raung sang profesor.
Damar terpojok di tepi koridor yang kini menggantung di udara kosong. Di bawahnya, kegelapan total menunggu. Di belakangnya, hantu masa lalu siap menyeretnya kembali ke dalam kelas abadi. Memori fotografis Damar bekerja dengan cepat, memindai setiap det**l arsitektur gedung yang pernah ia pelajari. Ia ingat ada satu celah ventilasi di langit-langit yang terhubung dengan pipa pembuangan air hujan—satu-satunya bagian gedung yang dibangun sebelum Prof. Arman memulai kutukannya.
"Satu-satunya jalan yang tidak terikat kontrak," gumam Damar, matanya tertuju pada sebuah jeruji besi kecil di atas kepalanya yang masih tampak padat.
Ia melompat, jarinya mencengkeram jeruji itu tepat saat lant** tempatnya berdiri tadi lenyap ditelan kegelapan. Tubuhnya berayun di atas kekosongan yang mengerikan. Dari bawah sana, tangan-tangan bayangan mulai menjulur, mencoba menggapai pergelangan kakinya.
Damar mengerahkan seluruh kekuatannya, otot-otot lengannya terasa seperti akan putus. Ia menendang hantu yang mencoba menarik sepatunya dan berhasil menyusupkan badannya ke dalam lubang ventilasi yang sempit. Dinginnya besi pipa itu terasa nyata di kulitnya, sebuah kontras dari hawa panas metafisik di luar sana.
Ia merangkak dengan memb*** buta, mengikuti arah angin yang berhembus. Namun, getaran gedung semakin hebat. Suara raungan Prof. Arman berubah menjadi suara tawa dingin yang menggema di dalam pipa.
"Kau pikir kau bisa lari dari jadwal ujianmu, Damar?"
Tiba-tiba, pipa besi di sekelilingnya mulai mengerut. Damar merasa dadanya terhimpit. Logam itu mulai menyempit, menjepit paru-parunya hingga ia sulit bernapas. Di ujung pipa, ia bisa melihat secercah cahaya bulan, namun jaraknya terasa ribuan mil jauhnya.
Lalu, sebuah suara mekanis yang familiar berbunyi dari kantong celananya. Ponselnya. Di layar yang retak, sebuah notifikasi muncul, bukan dari aplikasi pesan singkat, melainkan dari portal akademik kampus yang seharusnya sudah tidak aktif.
*Mata Kuliah: Teori Kematian. Status: Sedang Berlangsung. Sisa Waktu Ujian: 10 Detik.*
Pipa itu berderit keras, siap meremukkan tulang-tulangnya tepat sebelum ia mencapai ujung. Damar memejamkan mata, merasakan ujung jemarinya hampir menyentuh udara bebas, namun sebuah tangan dingin yang teramat kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan kakinya dari dalam kegelapan pipa di belakangnya.
"Waktu habis," bisik suara itu tepat di belakang tumitnya.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!