Lant** marmer koridor Fakultas Teknik terasa sedingin es di bawah telapak tanganku yang gemetar. Aku menyandarkan punggung pada dinding yang lembap, membiarkan napas yang memburu perlahan-lahan menemukan ritmenya kembali. Keheningan di gedung ini kini terasa berbeda; tidak lagi mencekam dengan ancaman yang mengint**, melainkan hampa, seolah-olah seluruh nyawa bangunan ini baru saja dihisap habis.
Aku menoleh ke arah pintu Ruang 405 yang sedikit terbuka. Di dalam sana, papan tulis itu kini bersih. Nama "Damar" yang sebelumnya terukir dengan kapur putih—sebuah vonis mati yang nyaris menjemputku—telah luntur menjadi debu yang menempel di lant**. Prof. Arman hilang. Bayangan-bayangan mahasiswa yang duduk kaku itu sirna bersamaan dengan dentang jam yang entah bagaimana berhenti tepat sebelum detik terakhir hidupku habis.
Aku selamat. Secara logika, aku seharusnya merasa lega. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dadaku, sebuah beban berat yang seolah-olah baru saja berpindah tangan.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku berdiri. Tanganku meraba saku jaket, mencari ponsel untuk memastikan waktu. Namun, saat jemariku menyentuh layar yang retak, sebuah sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Seperti sengatan listrik statis yang merayap dari ujung jari menuju pangkal otak.
Pandanganku tiba-tiba kabur, lalu menajam dengan cara yang mengerikan.
Aku melihat Pak Jaka, satpam tua yang biasanya berjaga di gerbang depan, sedang berjalan mendekat dari ujung koridor dengan senter yang bergoyang-goyang. "Mas Damar? Kamu masih di sini?" teriaknya, suaranya menggema di lorong sepi.
Aku hendak menjawab, tapi lidahku kelu. Di atas kepala Pak Jaka, aku melihat sesuatu yang tidak ma**k akal. Sebuah angka digital yang berpijar samar, melayang di udara tepat di atas ubun-ubunnya.
*14:22:05.*
Angka itu berdetik mundur. Setiap detiknya diikuti oleh bayangan buram yang berkedip-kedip di sekitar tubuh Pak Jaka—sebuah kilasan singkat tentang sebuah truk kont**ner yang oleng dan suara hantaman logam yang m****akkan telinga. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggelengkan kepala dengan keras, berharap itu hanyalah halusinasi akibat kelelahan luar biasa. Namun, saat aku membuka mata kembali, angka itu masih di sana, terus berkurang.
"Mas? Kamu tidak apa-apa? Mukamu pucat sekali," Pak Jaka sudah berdiri di depanku. Ia menyentuh bahuku, dan saat itu juga, sebuah memori yang bukan milikku memba****i benakku. Aku melihat Pak Jaka mencium kening istrinya besok pagi, tanpa tahu bahwa itu adalah pamitan terakhirnya.
Aku tersentak mundur, melepaskan cengkeramannya seolah kulitnya membakarku. "Jangan... jangan lewat jalan bypass besok siang, Pak," bisikku dengan suara parau.
Pak Jaka mengerutkan kening, tampak bingung sekaligus cemas. "Apa maksudmu, Mas? Saya memang ada rencana mau ke sana mengantar cucu. Kok kamu tahu?"
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjelaskan kepadanya bahwa aku baru saja melihat kematiannya terlukis di udara. Aku berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan gedung itu, mengabaikan pangg***n Pak Jaka yang penuh tanya.
Udara malam yang menusuk tulang menyambutku saat aku keluar dari gedung fakultas. Namun, dunia yang kukenal kini telah berubah menjadi galeri kematian yang mengerikan. Di setiap orang yang kulewati di area parkir—sekelompok mahasiswa yang baru selesai mengerjakan tugas kelompok—aku melihat angka-angka itu. Ada yang memiliki waktu bertahun-tahun, ada yang hanya hitungan bulan. Beberapa memiliki bayangan jatuh dari ketinggian, yang lain tampak tercekik oleh asap.
Memoriku yang fotografis, yang dulu kupakai untuk menghafal rumus-rumus rumit, kini secara otomatis merekam setiap detik kematian yang kulihat. Otakku menjadi arsip bagi tragedi yang belum terjadi.
Aku sampai di gerbang utama kampus dan mendadak langkahku terhenti. Jam besar yang terpasang di atas gapura berdentang satu kali. Bukan pukul dua belas, bukan pula pukul satu. Jam itu tetap menunjukkan pukul sebelas, meski duniaku sudah berjalan jauh melewati tengah malam.
Aku merogoh saku lagi dan menemukan sebuah benda yang seharusnya tidak ada di sana. Sebuah kapur tulis berwarna putih, bersih tanpa noda.
Saat aku menggenggam kapur itu, sebuah suara dingin yang sangat kukenal membisik tepat di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri kaku.
*"Kurikulum belum selesai, Damar. Daftar hadir harus tetap diisi."*
Aku menatap tanganku yang gemetar. Kapur itu seolah menyatu dengan kulitku. Aku menyadari sekarang bahwa aku tidak benar-benar menghancurkan kutukan Prof. Arman. Aku hanya menggantikannya. Aku bukan lagi mahasiswa yang melanggar aturan; aku adalah pengawas baru dari kelas yang tak pernah berakhir ini.
Pikiranku yang logis mencoba memberontak, mencari celah untuk membuktikan bahwa ini semua hanyalah trauma psikologis. Namun, saat aku menatap pantulan diriku di kaca pos satpam yang kosong, aku melihat namaku sendiri tidak lagi memiliki angka di atasnya. Namaku bukan lagi daftar korban.
Namaku adalah judul dari buku absen itu sendiri.
Aku mulai berjalan kembali, bukan menuju gerbang keluar, melainkan berputar balik menuju gedung Fakultas Teknik. Kakiku bergerak seolah dipandu oleh benang tak kasat mata. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus kembali ke ruang 405.
Saat aku melangkah mema**ki lobi yang gelap, lampu-lampu di atas kepalaku berkedip dan padam satu per satu, menyisakan koridor yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. Aku menaiki tangga dengan ritme yang tenang, ketakutanku perlahan berganti dengan penerimaan yang dingin dan hampa.
Aku tiba di depan pintu Ruang 405. Pintunya terbuka lebar seolah menyambut kepulanganku. Di dalam sana, suasana sudah berubah. Meja-meja tersusun rapi, dan aroma kapur tulis memenuhi udara.
Aku berjalan menuju papan tulis hitam yang luas itu. Dengan tangan yang kini tidak lagi gemetar, aku mengangkat kapur putih itu.
Aku melihat ke arah deretan kursi kosong di hadapanku. Di mataku, kursi-kursi itu tidak lagi kosong. Satu per satu, bayangan mahasiswa dengan wajah-wajah pucat mulai bermunculan, duduk dengan rapi, menatapku dengan tatapan kosong yang menuntut.
"Selamat malam," suaraku keluar dengan nada yang datar, jauh lebih dewasa dan berwibawa dari yang pernah kubayangkan. "Mari kita mulai perkuliahan jam sebelas."
Aku membalikkan badan ke arah papan tulis. Tanganku mulai bergerak, menuliskan sebuah nama baru di urutan teratas. Nama seorang mahasiswa yang tadi kulihat di parkiran, yang angka kematiannya hanya tersisa enam jam lagi.
Saat kapur itu bergesekan dengan papan tulis, menciptakan bunyi mendecit yang memilukan, aku menyadari bahwa setiap huruf yang kutulis adalah satu paku di peti mati mereka. Dan yang paling mengerikan adalah, aku tidak lagi merasa keberatan melakukannya.
Namun, saat aku baru saja hendak menuliskan nama kedua, aku mendengar suara langkah kaki cepat yang menggema di koridor. Seseorang sedang berlari menuju kelas ini. Seseorang yang bernapas berat, penuh dengan kepanikan yang sama seperti yang kurasakan satu jam yang lalu.
Aku berhenti menulis dan menoleh ke arah pintu, menunggu calon "mahasiswa" baruku ma**k. Namun, saat sosok itu muncul di ambang pintu, jantungku yang seharusnya sudah mati rasa, mendadak berdegup kencang.
Bukan karena siapa yang datang, tapi karena di atas kepala orang itu, tidak ada angka. Sama sekali tidak ada.
"Siapa kamu?" tanyaku, suaraku bergema di antara bayangan-bayangan mahasiswa yang mulai gelisah.
Sosok itu tidak menjawab, ia hanya menatap papan tulis, lalu menatapku dengan pandangan yang penuh dengan rahasia yang lebih gelap dari kutukan ini sendiri. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan tua yang sangat mirip dengan milik Prof. Arman, namun dengan sampul yang terbuat dari kulit yang tampak seperti... kulit manusia.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!