Lant** tiga gedung Fakultas Teknik biasanya riuh dengan suara debat mahasiswa atau deru mesin dari laboratorium, namun malam ini, keheningan terasa seperti zat padat yang menyumbat tenggorokan. Udara di lorong itu mendadak turun beberapa derajat, meninggalkan embun tipis setiap kali aku mengembuskan napas. Aku merapatkan jaket, berusaha meredam detak jantung yang mulai berpacu tidak beraturan.
"Logis, Damar. Ini cuma masalah tekanan udara dan bangunan tua," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar asing, seolah-olah dipantulkan oleh dinding-dinding beton yang lembap.
Tujuanku adalah Laboratorium Komputer di ujung lorong untuk mengambil diska lepas yang tertinggal. Namun, langkahku terhenti tepat di depan Ruang 302. Seharusnya ruangan itu gelap dan terkunci rapat sejak pukul tujuh malam. Namun, cahaya kuning pucat merembes dari celah di bawah pintu, dan yang lebih janggal lagi, aku mendengar suara. Bukan suara angin, melainkan suara berat, monoton, dan berwibawa yang sedang memberikan kuliah.
Tanganku yang memegang gagang pintu lab mendadak kaku. Memori fotografisku langsung memutar arsip berita lama yang pernah kubaca di perpustakaan: *Profesor Arman, ahli struktur bangunan, ditemukan tewas gantung diri di Ruang 302 sepuluh tahun silam.*
Rasa penasaran yang berpadu dengan ketakutan mendorongku untuk mendekat. Aku bergeser ke arah pintu Ruang 302 yang sedikit renggang. Melalui celah sempit itu, aku mengintip ke dalam.
Pemandangan di baliknya membuat seluruh persendianku lemas.
Di depan kelas, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang tampak usang dan berdebu. Punggungnya menghadap ke arahku, namun postur tubuhnya yang kaku dan miring ke satu sisi memberikan kesan bahwa ia tidak sepenuhnya 'utuh'. Ketika ia berbalik untuk menulis di papan tulis, lambungku serasa diaduk.
Pria ituβProfesor Armanβtidak memiliki wajah yang sempurna. Sebagian besar kulit di sisi kiri wajahnya terkelupas, menampakkan otot-otot merah dan rahang yang menggantung rendah seolah-olah tulang penyangganya telah hancur. Mata kirinya tidak ada, menyisakan lubang hitam yang terus-menerus mengalirkan cairan kental berwarna gelap. Namun, mata kanannya yang tersisa tetap menatap tajam ke depan, penuh dengan keg***an intelektual yang mengerikan.
"Struktur beban yang gagal akan selalu mencari titik terlemah untuk dihancurkan," suaranya parau, seperti suara gesekan amplas di atas kayu. "Begitu pula dengan takdir. Setiap nyawa memiliki titik retak."
Aku menahan napas, telapak tanganku berkeringat dingin hingga hampir menjatuhkan kunci yang kupegang. Di hadapan profesor itu, bangku-bangku kelas tidaklah kosong. Sosok-sosok abu-abu, transparan seperti kabut, duduk dengan posisi tegak sempurna. Mereka tidak bergerak, tidak bernapas, hanya menatap ke depan dengan mata yang putih bersih tanpa pupil. Mereka adalah bayangan mahasiswa yang seolah-olah terjebak dalam kuliah abadi yang tak pernah selesai.
Profesor itu kemudian mengambil sebatang kapur putih yang berdecit nyaring saat menyentuh papan tulis hitam. Bunyi itu menyayat telingaku, membuat gigiku beradu. Ia mulai menuliskan daftar nama di bawah judul besar yang ditulis dengan huruf kapital yang tegas: **DAFTAR KURIKULUM MAUT: SEMESTER GENAP.**
Satu per satu nama muncul dengan presisi yang mengerikan.
*1. Andrean Maulana - 23:15 (Kecelakaan Lift)*
*2. Siska Putri - 00:05 (Gagal Jantung)*
Mataku terbelalak. Aku mengenal nama-nama itu. Mereka adalah mahasiswa aktif di fakultas ini. Tanganku gemetar hebat saat Profesor Arman terus menulis. Kapur itu patah, namun ia tetap melanjutkan dengan ujung jarinya yang mulai berdarah, meninggalkan bekas merah kecokelatan di papan tulis.
Lalu, jarinya bergerak membentuk huruf demi huruf di urutan paling bawah.
*3. Damar Ardiansyah - 01:13 (Pendarahan Internal)*
Duniaku serasa runtuh. Namaku tertulis di sana, lengkap dengan jam kematian yang hanya berjarak dua jam dari sekarang. Pikiranku yang biasanya logis mencoba memberontak. *Ini tipuan. Ini halusinasi karena kurang tidur,* teriak batinku. Namun, pemandangan di depanku terlalu nyata untuk sekadar disebut mimpi buruk.
Tiba-tiba, suara gesekan kapur itu berhenti.
Keheningan yang lebih mencekam menyelimuti ruangan. Profesor Arman yang tadinya fokus pada papan tulis, mendadak menghentikan gerakannya. Kepalanya perlahan-lahan berputar ke arah pintu, melampaui batas anatomis manusia normalβhampir 180 derajat.
Mata kanannya yang tunggal menembus celah pintu, tepat ke arah mataku.
"Ah, sepertinya ada mahasiswa yang datang terlambat," ucapnya dengan seringai yang merobek sisa kulit di pipinya. "Ma**klah, Damar. Kuliah baru saja dimulai."
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Tanpa berpikir lagi, aku berbalik dan berlari sekencang mungkin menyusuri lorong gelap itu. Namun, setiap kali aku melewati pintu kelas, aku merasa lorong itu memanjang secara tidak wajar. Dan dari belakangku, aku bisa mendengar suara langkah kaki yang berat dan terseret, dibarengi dengan dentang lonceng gedung yang mulai berdentang sebelas kali.
Aku terjebak. Dan waktu di pergelangan tanganku mulai berdetik mundur menuju angka 01:13.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!