Udara malam di koridor selasar Fakultas Psikologi terasa lebih tipis dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Damar yang sejak satu jam lalu tidak bisa mengatur napas dengan benar. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan papan tulis itu muncul kembali. Debu kapur yang melayang-layang di udara yang seharusnya hampa, goresan tangan Prof. Arman yang kaku, dan namanya sendiri: *Damar Prasetya*.
Tertulis di urutan paling bawah. Di bawah nama-nama mahasiswa yang ia tahu telah tiada dalam kecelakaan-kecelakaan aneh setahun terakhir.
Damar merogoh saku jaketnya, memastikan secarik kertas catatan yang ia buat berdasarkan ingatan fotografisnya masih ada di sana. Logikanya yang selama ini diagung-agungkan seperti benteng yang kokoh, kini hancur lebur. Ia butuh bantuan. Dan menurut desas-desus yang sering ia abaikan sebagai sampah takhayul, hanya ada satu orang yang "mengerti" tentang keganjilan di Fakultas Teknik.
Sita.
Ia menemukan gadis itu duduk sendirian di bangku semen taman kecil yang menghadap langsung ke arah Gedung Teknik yang menjulang gelap di kejauhan. Sita mengenakan sweter abu-abu kedodoran, tangannya mendekap erat sebuah gelas kertas berisi kopi yang sudah tidak lagi mengepul. Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menceritakan malam-malam tanpa tidur.
Damar ragu sejenak. Ia tidak terbiasa memulai percakapan, apalagi meminta bantuan pada orang asing. Namun, detak jantungnya yang berpacu melawan waktu memaksa langkah kakinya mendekat.
"Sita?" suara Damar serak, hampir pecah oleh keheningan malam.
Gadis itu tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada jendela lant** tiga gedung di seberang sanaβruangan tempat Kelas Jam Sebelas itu berada. "Kamu datang juga akhirnya," gumam Sita. Suaranya datar, namun ada nada getir di dalamnya.
Damar mematung. "Apa maksudmu? Kamu menungguku?"
Sita perlahan menoleh. Sorot matanya yang sayu seolah bisa menembus kulit Damar, melihat apa yang ada di dalam sana. "Aku melihatmu ma**k ke gedung itu kemarin malam. Aku melihatmu keluar dengan wajah seperti mayat. Dan aku tahu, namamu sudah ada di papan tulis itu, bukan?"
Damar merasa kakinya lemas. Ia duduk di ujung bangku, menjaga jarak. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Karena aku sudah mengawasi gedung itu selama dua tahun," Sita menarik napas panjang, bahunya merosot seolah memikul beban yang sangat berat. "Profesor Arman tidak suka membiarkan mahasiswanya bolos. Sekali namamu tertulis, kamu sudah ma**k dalam kurikulumnya. Kurikulum yang hanya punya satu cara untuk lulus: kematian."
Damar mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak percaya takdir yang ditentukan oleh kapur tulis. Pasti ada cara untuk menghapusnya. Bantu aku, Sita. Kamu tahu seluk-beluk gedung itu, kamu tahu sejarah Arman. Aku butuh seseorang yang bisa melihat apa yang tidak bisa kulihat secara logis."
Sita terdiam lama. Angin malam berembus, memainkan rambut panjangnya yang berantakan. Ia kemudian menggeleng pelan, sebuah penolakan yang membuat dada Damar terasa sesak.
"Tidak, Damar. Cari orang lain."
"Kenapa? Kamu sudah tahu apa yang terjadi! Kamu melihat mereka mati satu per satu, kan?" suara Damar mulai meninggi, campuran antara frustrasi dan ketakutan.
Sita berdiri secara tiba-tiba, membuat sisa kopi di gelasnya tumpah ke lant** semen. "Karena setiap orang yang mencoba mengusik kelas itu akan berakhir tragis! Kakakku... dia adalah asisten dosen Prof. Arman sepuluh tahun lalu. Dia mencoba menghentikan apa pun ritual g*** yang dilakukan profesor itu sebelum dia bunuh diri. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Kakakku mati terpanggang di lab yang meledak tanpa alasan."
Sita menunjuk ke arah Gedung Teknik dengan jari yang gemetar. "Gedung itu lapar, Damar. Ia butuh tumbal untuk menjaga 'kurikulum' itu tetap berjalan. Jika aku membantumu, aku hanya akan mempercepat giliranku sendiri. Aku sudah c**up menderita hanya dengan melihat mereka dari jauh."
"Tapi aku punya ini!" Damar mengeluarkan kertas catatannya. "Aku ingat setiap det**l di papan tulis itu. Urutan namanya, jam-jam yang tertulis di sampingnya. Ada pola di sana, Sita. Ini bukan sekadar kutukan acak, ini adalah sistem. Dan setiap sistem pasti punya celah."
Damar berdiri, melangkah mendekati Sita, menatap langsung ke matanya yang mulai berkaca-kaca. "Jika kita diam saja, namaku akan menjadi yang terakhir, dan setelah itu, siapa lagi? Mungkin kamu. Mungkin orang lain yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak mau mati konyol hanya karena aku ingin mengambil tugas kuliah."
Sita menatap kertas di tangan Damar. Keinginannya untuk lari terlihat jelas dari gestur tubuhnya yang gelisah, namun rasa ingin tahu dan dendam lama yang terpendam tampak berperang di balik matanya.
"Kamu tidak mengerti risikonya," bisik Sita. "Profesor itu... dia tidak mengajar di dalam kelas. Dia mengajar di dalam kepala kita. Begitu dia memanggil namamu, kamu tidak akan bisa lari."
"Maka ajari aku cara untuk tidak mendengarnya," balas Damar tegas.
Sita menunduk, memejamkan mata rapat-rapat. Hening menyelimuti mereka selama beberapa saat, hanya suara jangkrik yang terdengar parau. Tiba-tiba, lampu di lant** tiga Gedung Teknikβtepat di ruangan kelas ituβberkedip satu kali. Sebuah cahaya kuning pucat yang tidak wajar.
Bahu Sita menegang. Ia melihat jam tangannya. Pukul 22:45.
"Tinggal lima belas menit lagi sebelum jam sebelas," bisik Sita, suaranya kini dipenuhi kengerian yang nyata. Ia menatap Damar dengan pandangan yang seolah-olah sedang melihat orang mati. "Kamu bilang kamu ingat semuanya? Kamu ingat apa yang tertulis di samping namamu?"
Damar mengangguk cepat. "Jam kematianku. Besok malam, pukul 23:01."
Sita menelan ludah. Ia merogoh sesuatu dari dalam tasnyaβsebuah kunci tua dengan gantungan besi berkarat. "Aku tidak menjanjikan kita akan selamat. Tapi jika kamu benar-benar ingin memutus rant** ini, kita tidak bisa menunggu sampai besok."
"Lalu kapan?" tanya Damar.
Sita tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menunjuk ke arah koridor gelap yang menuju pintu belakang Gedung Teknik. Di saat yang sama, ponsel Damar bergetar di saku celananya. Sebuah notifikasi ma**k. Tanpa nama pengirim, hanya berisi satu baris kalimat pendek:
*Absensi akan segera dimulai. Jangan terlambat, Damar.*
Damar merasakan dingin yang luar biasa merayap dari telapak kakinya hingga ke tengkuk. Ia menatap Sita, dan gadis itu hanya bisa membalas dengan tatapan pasrah. Mereka berdua tahu, malam ini bukan lagi tentang mencari bantuan, melainkan tentang bertahan hidup sebelum bel ma**k berbunyi.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!